Manugal, Bakar Lahan lalu Tanam Padi: Kearifan Lokal yang Berhadapan Dengan Jeruji Besi

Agus Pramono • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Keluarga besar meliputi ibu-ibu dan anak-anak sembari menyemai benih. (Dok Denar/Kalteng Pos)
Keluarga besar meliputi ibu-ibu dan anak-anak sembari menyemai benih. (Dok Denar/Kalteng Pos)

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Lokasi manugal berada di Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Tengah. Kabupaten Barito Utara. Jaraknya 12 kilometer dari pusat kota. Riduan Syah, yang pada hari itu akan melakukan manugal atau menanam padi. Hal yang rutin dilakukannya saban tahun setelah musim panas berakhir.

Sebagian masyarakat Dayak Kalteng memulai manugal (menanam padi) di ladang  pada bulan November. Lokasinya pun berpindah-pindah saban tahunnya. Dibersihkan dengan cara dibakar. Kearifan lokal yang telah diturunkan oleh nenek moyang ini terus mereka jaga, meski ancaman jeruji penjara di depan mata.
 
Manugal sudah menjadi tradisi yang dipegang teguh keluarga besarnya. Tak pernah dilewati setiap tahun, meski masyarakat lokal sudah jarang melakukannya. 

Baca Juga: DAD Kotim: Tinggalkan Buka Lahan Cara Bakar, Jangan Berlindung di Balik Tradisi Nenek Moyang

Apalagi adanya larangan dari pemerintah bagi masyarakat untuk membuka lahan dengan cara membakar. Sebab, kala musim kemarau tiba, tak jarang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda.

Riduan Syah dan keluarga langsung menyiapkan keperluan manugal. Menyiapkan benih padi dan kayu panjang untuk membuat lubang. Tak kalah pentingnya, menyiapkan bahan serta peralatan untuk memasak nasi dan lauk. 

Di lahan itu, tampak jelas banyak pohon bertumbangan. Ada yang utuh. Ada pula yang telah menjadi arang. Menurut Riduan Syah, lahan seluas dua hektare ini dibakar pada bulan Juni lalu.

Hingga pertengahan November lalu, manugal di lahan setara 20.000 meter persegi (m2) itu sudah dilakukan sebanyak tiga kali.

Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran: Perda Bakar Lahan di Kalteng Di-hold, Ikuti Instruksi Presiden Prabowo

“Ini yang keempat atau terakhir,” kata bapak yang dikaruniai lima orang anak itu.

“Tidak langsung dua hektare lahan ditanami padi, tapi bertahap agar tidak kewalahan. Sebagian sudah mulai ditumbuhi daun padi muda,” tambahnya sambil menunjuk daun hijau muda yang tumbuh di antara pepohonan yang tumbang.

Seiring dengan matahari yang mulai beranjak naik, manugal pun dimulai. Sebagian dari mereka, baik perempuan maupun laki-laki, mengolesi pipi dan tangan dengan pupur basah. Tujuannya agar sengatan matahari tak langsung mengenai kulit. 

Mereka berbagi tugas. Empat orang membuat lubang dengan kayu panjang yang meruncing, termasuk Riduan Syah dan Anton. Mereka berada pada barisan depan. Delapan orang lain mengikuti langkah mereka sembari menyemai benih padi di lubang yang sudah dibuat. 

“Berapa biji pak per lubang?” tanya saya yang mendapat bagian menyemai benih padi.

“Terserah. Enggak ada hitungannya,” jawab Riduan Syah. Saya pun mencoba menengok ke kiri dan kanan, ingin memastikan berapa benih yang mereka semaikan.  Ternyata setiap lubang tak lebih dari 10 benih padi.

Manugal ini tidak hanya sekadar gotong royong, tapi juga mempererat silaturahmi antarkeluarga.

Momen istirahat dimaksimalkan untuk mengisi perut sebelum melanjutkan manugal.  (Dok Denar/Kalteng Pos)
Momen istirahat dimaksimalkan untuk mengisi perut sebelum melanjutkan manugal. (Dok Denar/Kalteng Pos)

“Yang jauh mesti ikut. Harus meluangkan waktu. Yang kecil-kecil bisa saling mengenal, seperti lima anak yang ikut ini,” sambung Anton (anak kedua Riduan Syah).

Bagi mereka, momen berkumpulnya keluarga saat Hari Raya Idulfitri tidak selengkap ketika melaksanakan manugal. 

“Kalau lebaran, pada pisah-pisah. Ada yang ke tempat mertua, saudara istri, atau suami yang ada di luar daerah. Kalau manugal ini, semuanya ngumpul. Setiap orang meluangkan waktunya untuk ikut. Biasanya hari liburlah yang dipilih untuk manugal,” beber pria kelahiran 1991 dan berprofesi sebagai asisten dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Muara Teweh itu.

Baca Juga: Wakapolda Kalteng Tegaskan Buka Lahan dengan Cara Bakar Dilarang Keras, Karhutla Jadi Ancaman Serius di Tengah Musim Kemarau

Hasil panen manugal ini tak semuanya dijual. Menanam secara bersama-sama, hasilnya pun akan dinikmati bersama. Digunakan untuk konsumsi sehari-hari dan sebagai persediaan untuk setahun ke depan. Keluarga besar pun mendapatkan bagian alias jatah. 

Lahan ini, sebut pria yang ditinggal mendiang istri sejak tujuh tahun lalu, tidak bisa ditanami untuk kedua kalinya. Hanya bisa sekali. Jika dipaksa, hasilnya pun tidak bisa diharapkan. Tanahnya tak sesubur saat awal dibukanya lahan itu.

“Ini kali ketiga lahan ini ditanami padi. Pertama tahun 1974, kedua tahun 1993, dan terakhir tahun 2019 ini,” beber ayah dari Roni (33), Anton (28), Indra (21), Sukmarani (14), dan Endang (11) ini. 

Usai panen, mereka akan berpindah ke lahan lainnya yang tidak produktif. Misalnya, kebun karet yang tidak menghasilkan lagi. Di tempat itulah mereka akan menebang, membakar, lalu ditanami padi.

“Setelah panen pada Mei atau Juni 2020, lahan ini akan kami tanam sengon. Mau coba peruntungan lain. Karet sudah tidak bisa diandalkan. Harganya terlalu murah,” sambung Riduan Syah sambil mengayunkan kayu dari atas ke bawah untuk membuat lubang.(*)


Naskah ini adalah hasil liputan Kalteng Pos di Muara Teweh pada medio 2019 silam.

Editor : Ayu Oktaviana
bakar lahan tanam padi gotong royong masyarakat dayak kearifan lokal manugal