Sebuah gagasan penelitian tidak lahir dalam satu malam. Ada proses panjang yang harus dilalui, dari merumuskan ide, menyusun proposal, melewati seleksi, hingga menguji setiap temuan dengan data. Perjalanan itulah yang kini dijalani lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (UPR) melalui riset PKM-RE DOXCINOVA
PALANGKA RAYA-Di tengah ketatnya persaingan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim tersebut berhasil melewati seleksi dan mendapatkan pendanaan penelitian.
Dari 25.253 proposal yang diajukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, DOXCINOVA menjadi salah satu tim yang berhasil melangkah ke tahap pendanaan.
Bagi mereka, lolos pendanaan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, sejak Juni 2026, penelitian memasuki tahapan yang sesungguhnya.
Selama empat bulan, hingga September 2026, tim DOXCINOVA mengembangkan penelitian yang berfokus pada inovasi terapi kanker ovarium.
Mereka menggabungkan doxycycline dengan citronellol oil, ekstrak minyak sereh, melalui sistem penghantaran nanoemulsi yang disebut CO-DOXY.
Nama DOXCINOVA pun menjadi bagian dari perjalanan penelitian tersebut. Di dalamnya terdapat lima mahasiswa dengan peran masing-masing, yakni Elisabet Rini Loisa Samosir sebagai ketua tim, bersama Yunita Salsabilla Puteri, Aulia Fitriansyah Putra, Made Jessy Andini, dan Ni Made Fitriana Desi sebagai anggota. Mereka didampingi Ysrafil, S.Farm., M.Biomed. sebagai dosen pendamping.
Penelitian ini tidak sekadar mengembangkan sebuah formulasi. Tim juga berupaya melihat bagaimana kombinasi doxycycline dan citronellol oil dapat bekerja pada tingkat molekuler.
Untuk itu, penelitian menggunakan pendekatan network pharmacology dan simulasi molekuler.
Pendekatan tersebut digunakan untuk mengungkap mekanisme molekuler kedua bahan serta kemungkinan target terapi yang bekerja secara sinergis dalam melawan sel kanker ovarium.
Dari proses karakterisasi yang telah dilakukan, tim mendapatkan formula terbaik dengan nilai transmitansi 91,7 persen. Analisis ukuran partikel juga menunjukkan ukuran sekitar 49,56 nanometer.
Angka tersebut menjadi bagian dari data yang terus dikumpulkan dan dianalisis tim. Sebab, penelitian DOXCINOVA masih berlangsung. Setelah mendapatkan hasil karakterisasi tersebut, tahapan berikutnya tetap harus dijalani untuk melihat lebih jauh karakteristik formulasi yang dikembangkan.
Pengujian fisikokimia dan pengujian terhadap sel menjadi bagian dari tahapan lanjutan penelitian. Melalui rangkaian pengujian itu, tim ingin melihat potensi formulasi nanosistem kombinasi tersebut dalam menghambat proliferasi sel kanker ovarium secara in vitro.
Di sinilah perjalanan DOXCINOVA menjadi lebih dari sekadar sebuah proposal yang berhasil mendapatkan pendanaan.
Setiap hasil pengujian menjadi bagian penting untuk menjawab pertanyaan penelitian. Sebab, inovasi di bidang kesehatan membutuhkan data dan pembuktian ilmiah yang kuat. Karena itu, tim tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan dari hasil yang masih dalam proses penelitian.
Di tengah perjalanan tersebut, kesempatan untuk mempresentasikan riset datang melalui Seminar Kreativitas Mahasiswa #3 tingkat nasional dan internasional yang digelar di Universitas Palangka Raya pada 30 Juli 2026.
Forum tersebut mempertemukan perguruan tinggi dari enam provinsi di Indonesia dan satu universitas dari luar negeri. Di hadapan peserta dan penilai, tim DOXCINOVA membawa penelitian yang masih terus mereka kerjakan.
Mereka tidak hanya harus memahami riset yang dilakukan, tetapi juga mampu menjelaskan gagasan dan hasil penelitian secara baik melalui presentasi. Hasilnya, DOXCINOVA berhasil meraih Juara Terbaik I kategori Best Presenter.
Penghargaan tersebut menjadi capaian tersendiri bagi tim. Namun, bagi mereka, penghargaan itu bukan garis akhir. Sebab, pada saat prestasi tersebut diraih, penelitian DOXCINOVA masih berjalan dan baru akan menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian pada September 2026.
Dengan demikian, ada dua perjalanan yang berjalan beriringan. Di satu sisi, mereka membawa penelitian ke ruang kompetisi dan berhasil mendapatkan penghargaan. Di sisi lain, pekerjaan ilmiah mereka masih terus berlanjut untuk menyelesaikan seluruh tahapan riset.
Bagi Elisabet, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa sebuah inovasi membutuhkan proses yang panjang. Gagasan yang baik harus ditopang oleh data yang kuat agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Penelitian mengajarkan kami bahwa inovasi lahir dari proses yang panjang. Kami berkomitmen menyandarkan riset ini pada data yang kuat agar bermanfaat bagi masyarakat dan karya anak bangsa dapat terus berkembang dan mendapat dukungan dari seluruh pihak, khususnya dalam dunia penelitian,” ungkap Elisabet kepada Kalteng Pos, Kamis (27/8/2026).
Kalimat tersebut menjadi gambaran bagaimana tim memandang penelitian yang sedang mereka jalani. Bukan semata-mata mengejar penghargaan, melainkan berusaha menyelesaikan riset berdasarkan tahapan dan data yang diperoleh.
Masih ada waktu hingga September untuk menuntaskan penelitian selama empat bulan tersebut. Berbagai hasil yang telah diperoleh akan menjadi bagian dari rangkaian analisis berikutnya.
Jika seluruh tahapan dapat diselesaikan sesuai rencana, penelitian ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi kombinasi doxycycline dan citronellol oil melalui sistem nanosistem terhadap kanker ovarium.
Namun, untuk saat ini, DOXCINOVA masih berada dalam perjalanan. Data masih dikumpulkan, pengujian masih dilakukan, dan hasil penelitian masih terus dikaji.
Dari sebuah proposal yang harus bersaing dengan puluhan ribu proposal lainnya, lima mahasiswa UPR itu kini membawa satu gagasan yang mereka kembangkan setahap demi setahap.
Penghargaan Best Presenter pada 30 Juli lalu menjadi satu catatan penting dalam perjalanan tersebut. Tetapi cerita DOXCINOVA belum selesai. September nanti menjadi penanda berakhirnya rangkaian penelitian empat bulan yang mereka jalani sejak Juni.
Dan dari sana, seluruh data yang terkumpul akan berbicara sejauh mana inovasi yang mereka kembangkan dapat memberikan kontribusi bagi dunia penelitian, khususnya dalam pencarian pendekatan baru terhadap kanker ovarium. (*)
Editor : Ayu Oktaviana