20 Tahun Merias Jenazah, Siti Aida Tetap Tenang Meski Pernah Terkunci Sendirian Tengah Malam

rifqi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:00 WIB
Siti Aida ketika menjalani profesinya sebagai perias jenazah di Palangka Raya.(Dok Pribadi)
Siti Aida ketika menjalani profesinya sebagai perias jenazah di Palangka Raya.(Dok Pribadi)

PALANGKA RAYA – Lewat tengah malam, ketika sebagian besar orang memilih beristirahat, Siti Aida justru bisa berada di ruang jenazah. Bukan untuk menunggu, melainkan bekerja.

Selama lebih dari dua dekade, perempuan kelahiran 1988 itu terbiasa berada di ruang yang bagi banyak orang dianggap menyeramkan. Ia merias wajah jenazah sebelum keluarga memberikan penghormatan terakhir.

Kesunyian ruang jenazah bukan hal baru bagi Aida. Begitu pula berbagai pengalaman ganjil yang sesekali terjadi.

Salah satunya ketika Aida sedang merias jenazah di ruang jenazah Rumah Sakit Muhammadiyah Palangka Raya. Waktu itu hampir tengah malam, sekitar pukul 23.30 WIB.

Pintu ruangan sebelumnya ditutup oleh seorang perawat. Tidak lama kemudian, pintu tersebut tiba-tiba terkunci dari luar.

Aida yang berada sendirian di dalam kemudian memanggil. Dari luar terdengar suara seseorang yang mengatakan akan segera membukakan pintu.

“Dari luar terdengar suara seseorang yang mengatakan akan segera membukakan pintu,” kata Aida kepada Kalteng Pos, Selasa (22/9/2026).

Belakangan, Aida mengetahui bahwa tidak ada keluarga jenazah yang berada di sekitar pintu tersebut. Mereka ternyata menunggu cukup jauh di ujung lorong, dekat pagar.
Kejadian itu menjadi salah satu pengalaman yang masih diingat Aida. Namun, pengalaman semacam itu tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuni sejak pertengahan 2000-an.

Berawal dari Merawat Lansia
Jauh sebelum dikenal sebagai perias jenazah, Aida bekerja sebagai perawat lansia.

Pekerjaan tersebut membuatnya terbiasa mendampingi orang-orang yang berada di penghujung kehidupan. Tidak sedikit pasien yang dirawatnya kemudian meninggal dunia.

Aida juga beberapa kali membantu proses memandikan jenazah.

Pengalaman itu perlahan membawanya ke pekerjaan yang sekarang. Pada awal 2000-an, seorang pasien dari keluarga direktur rumah sakit meninggal dunia saat berada dalam perawatannya.

Aida ikut membantu memandikan jenazah tersebut. Ketelatenannya kemudian mendapat perhatian hingga ia kembali mendapat kepercayaan untuk membantu menangani jenazah.

Tugasnya tidak lagi sebatas memandikan, tetapi mulai merias wajah.

“Sejak 2005, saya mulai menekuni pekerjaan sebagai perias jenazah dengan lebih serius,” ucapnya.

Semula pekerjaan tersebut hanya menjadi pekerjaan sampingan. Namun, panggilan semakin sering datang.

Dalam sekitar 12 tahun terakhir, Aida mengaku hampir setiap hari mendapat permintaan untuk merias jenazah. Panggilan tidak hanya datang dari keluarga maupun rumah sakit di Palangka Raya, tetapi juga dari gereja dan sejumlah daerah lain.

Mulai Sampit, Kapuas, hingga wilayah di Kalimantan Selatan.

“Job masuk terus, setiap hari pasti ada,” ujarnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
Rumah Sakit Muhammadiyah Palangka Raya perias jenazah