Siti Aida, Sehari Bisa 5 Kali Merias Jenazah, Ceritakan Pengalaman yang Tak Terlupakan

rifqi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 17:00 WIB
Siti Aida ketika menjalani profesinya sebagai perias jenazah di Palangka Raya.(Dok Pribadi)
Siti Aida ketika menjalani profesinya sebagai perias jenazah di Palangka Raya.(Dok Pribadi)

PALANGKA RAYA-Bagi Siti Aida, merias jenazah tidak sesederhana merias orang yang masih hidup.

Kondisi tubuh setiap jenazah berbeda. Ada mata yang sulit ditutup, mulut yang tidak mudah dirapatkan, hingga cairan tubuh yang masih keluar.

Karena itu, Aida sebisa mungkin datang sebelum proses penyuntikan formalin dilakukan. Setelah diawetkan, tubuh dapat menjadi lebih keras sehingga proses merias wajah menjadi lebih sulit.

Baca Juga: 20 Tahun Merias Jenazah, Siti Aida Tetap Tenang Meski Pernah Terkunci Sendirian Tengah Malam

Jika kondisi memungkinkan, Aida dan pihak rumah sakit berupaya melakukan proses rias terlebih dahulu.

Selama 20 tahun, tantangan paling berat pernah dihadapinya ketika menangani korban kecelakaan dengan kondisi wajah yang rusak parah.

Baca Juga: 20 Tahun Merias Jenazah, Siti Aida Tetap Tenang Meski Pernah Terkunci Sendirian Tengah Malam

“Saat itu, suami korban hanya meminta satu hal. Ia ingin istrinya tetap terlihat cantik untuk terakhir kalinya,” kata Aida kepada Kalteng Pos, Selasa (22/9/2026).

Tidak ada lagi bentuk wajah yang utuh untuk dijadikan patokan. Aida kemudian menggunakan foundation bertekstur sangat tebal dan berusaha membentuk kembali wajah korban berdasarkan foto.

Kasus lainnya adalah korban ledakan gas yang mengalami luka melepuh di bagian wajah.

Anak-anak korban berharap luka tersebut tidak terlalu terlihat ketika mereka melihat ibunya untuk terakhir kali. Aida sempat ragu. Namun, ia tetap mencoba.

Kulit yang melepuh terlebih dahulu disemprot hairspray dan dibiarkan mengering. Setelah itu, bagian wajah ditutup menggunakan foundation tebal.

“Tidak semua foundation itu masuk, tergantung kulitnya juga,” jelasnya.

Ia juga pernah menangani jenazah yang baru ditemukan setelah tiga hari dan telah membeku di lemari pendingin. Kondisi kulit yang keras membuat proses rias kembali membutuhkan cara khusus agar kosmetik dapat menempel.

Namun, Aida memahami bahwa tidak semua kondisi jenazah dapat ditangani.

Untuk korban tenggelam, misalnya, ada kondisi tertentu yang membuat proses rias sulit dilakukan.

“Kalau bisa, kita bilang bisa. Kalau enggak, ya bilang enggak,” katanya.

Meminta Izin Sebelum Menyentuh Jenazah

Di balik keterampilan teknis tersebut, Aida memiliki kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan.

Setiap hendak menyentuh jenazah, ia terlebih dahulu berbicara dan meminta izin. Ia juga meminta maaf apabila hasil riasannya nanti tidak sempurna. Setelah selesai, Aida berpamitan.

Kebiasaan itu berkaitan dengan keyakinan pribadinya mengenai orang yang telah meninggal. Ia meyakini bahwa meski jasad telah meninggal, ruh tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.

“Jasad memang mati, tapi ruhnya itu selalu mengerti,” katanya pelan.

Keyakinan tersebut membuatnya selalu berusaha memperlakukan jenazah dengan penuh penghormatan, baik jenazah muslim maupun Nasrani.

Berbagai pengalaman yang menurutnya ganjil selama bekerja juga tidak membuatnya berhenti.

Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari risiko pekerjaan.

Bisa Tangani Lima Jenazah Sehari

Kesibukan sebagai perias jenazah membuat Aida terbiasa bekerja dalam waktu yang tidak menentu.

Dalam sehari, ia bisa menangani hingga lima jenazah. Untuk satu wajah, waktu yang dibutuhkan sekitar 30 menit.

Tarif yang dikenakan untuk jasa merias jenazah biasanya mulai sekitar Rp700 ribu.

Namun, tidak semua keluarga mampu membayar.

Aida masih mengingat keluarga dari kampung yang kesulitan membayar biaya memandikan jenazah. Dalam kondisi seperti itu, ia memilih tetap membantu merias tanpa menjadikan bayaran sebagai pertimbangan utama.

Menurutnya, orang yang telah meninggal tetap berhak mendapatkan penghormatan terakhir.

20 tahun lebih bersentuhan dengan kematian membuat Aida menemukan makna lain dari pekerjaannya.

Ia tidak bertahan karena pekerjaan itu mudah. Ia juga tidak menganggap dirinya tidak pernah takut.

Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membantu keluarga yang sedang kehilangan orang yang mereka cintai.

“Rasanya kayak senang, ada kebahagiaan tersendiri kalau bisa bantu orang,” tuturnya.
Bagi Aida, itulah makna ikhlas yang ia temukan dari pekerjaannya.

Ketika telepon kembali berdering pada malam hari, ia tahu apa yang harus dilakukan. Berangkat menuju ruang jenazah.

Menghadapi wajah yang sudah tidak lagi bisa berbicara. Bekerja dalam kesunyian. Memoles wajah untuk penghormatan terakhir.

Dan ketika suasana terasa ganjil, Aida kembali pada kebiasaan yang selama ini membuatnya tenang: meminta izin sebelum menyentuh jenazah, bekerja dengan penuh penghormatan, lalu berpamitan ketika semuanya selesai.

Di tempat yang bagi sebagian orang menjadi ruang paling menakutkan, Aida justru menemukan pekerjaan, pengalaman, sekaligus makna tentang kemanusiaan.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
perias jenazah kemanusiaan korban kecelakaan