Dari Naskah ke Panggung Seni, LS Terapung Kembali Hidupkan Teater Monolog Sekolah

Ayu Oktaviana • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 18:40 WIB
Penampilan naskah monolog "Abu" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa", Sabtu (26/9) malam.
Penampilan naskah monolog "Abu" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa" pada pagelaran karya, Sabtu (26/9) malam.

PALANGKA RAYA – Pagelaran karya dengan tema “Pesan-pesan Hari Ini Untuk Masa Depan” menjadi penutup rangkaian kegiatan Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran “Dramaturgi Bahasa” yang dilaksanakan oleh Lingkar Studi Teater dan Sastra Kampung (LS Terapung) pada Sabtu (26/9/2026) malam di Aula UPT Museum Balanga. 

Pagelaran tersebut merupakan puncak dari rangkaian Lokakarya “Dramaturgi Bahasa” yang digelar oleh LS Terapung bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah.

“Tujuan kegiatan ini adalah upaya memberikan wacana bagaimana proses yang seharusnya dilakukan pada penggarapan naskah teater monolog kemudian diwujudkan dalam pemanggungan,” jelasnya dalam sambutan pembuka pada pagelaran karya.

Menurut Alimul, selama ini dalam ajang FLS3N siswa terkadang hanya menerima naskah monolog untuk dihafalkan dan kemudian dibawa ke perlombaan. Proses memahami isi dan maksud naskah justru belum banyak mendapat perhatian.

Lokakarya Dramaturgi Bahasa yang dilaksanakan pada 19-20 September 2026 lalu melahirkan banyak naskah monolog dari 50 peserta yang terdaftar. Delapan diantaranya terpilih untuk dipentaskan pada pagelaran karya.

“Penulisan naskah monolog oleh peserta sangat antusias. Terpilih delapan naskah yang ditampilkan. Naskah yang dipilih ialah yang mudah dihapal dan diwujudkan di panggung seni. Naskah yang ditulis peserta juga menyinggung masalah sosial, lingkungan dan mental health,” sambungnya.

Penampilan naskah monolog "Tikus Manipulatif" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa", Sabtu (26/9) malam.
Penampilan naskah monolog "Tikus Manipulatif" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa" pada pagelaran karya, Sabtu (26/9) malam.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Sukardi Gau, mengapresiasi kegiatan tersebut dan arahan penting mengenai keterkaitan erat antara pelestarian lingkungan (ekologi) dan perkembangan bahasa serta seni. 

Ia menyampaikan terima kasih kepada LS Terapung yang telah membuka ruang bagi peserta untuk berekspresi dan mengembangkan imajinasi di luar kelas.

Oleh sebab itu, ia mendorong agar isu ekologi dijadikan fokus perhatian bersama ke depan, termasuk melalui pendekatan keilmuan seperti ekolinguistik. Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan bahasa sangat erat kaitannya dengan lingkungan hidup dan alam sekitar.   

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai ruang ekspresi dan imajinasi. Mudah-mudahan momentum ini jadi ruang ekspresi yang berkembang lebih jauh dan apa yang sudah diinisiasi oleh LS Terapung menjadi titik awal,” tutup Sukardi Gau.

Naskah Monolog Angkat Isu Sensitif

Ratusan mata tertuju pada satu titik di panggung utama Aula Museum Balanga, Sabtu (26/9/2026) malam. Ruangan yang sebelumnya ramai perlahan menjadi hening. Cahaya diredupkan, menyisakan sorot lampu yang jatuh tepat kepada aktor.

Satu per satu cerita kemudian hidup di atas panggung. Delapan kelompok teater monolog tampil dalam Pagelaran Karya “Pesan-Pesan Hari Ini untuk Masa Depan”, puncak rangkaian Lokakarya Dramaturgi Bahasa yang digelar Lingkar Studi Teater dan Sastra Kampung (LS Terapung).

Naskah-naskah yang lahir dari lokakarya tersebut banyak mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari masalah sosial, lingkungan, hingga kesehatan mental. Isu-isu yang terkadang sensitif dan tidak mudah dibicarakan, mendapat ruang melalui panggung monolog.

Delapan naskah terpilih yang dipentaskan masing-masing berjudul “Tikus Manipulatif”, “Terkurung dalam Ruang Hampa”, “Doa yang Dipertahankan”, “Kepadaku yang Berbeda”, “Abu”, “Si Perempuan Gila”, “Piala untuk Ibuku”, dan “Jangan Hapus Aku”.

Penampilan naskah monolog "Kepadaku yang Berbeda" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa", Sabtu (26/9) malam.
Penampilan naskah monolog "Kepadaku yang Berbeda" oleh peserta Lokakarya Penulisan Naskah Monolog dan Keaktoran "Dramaturgi Bahasa", Sabtu (26/9) malam.

Tata cahaya menjadi salah satu kekuatan dalam pertunjukan. Dalam ruangan yang redup, sorot lampu mengiringi gerak dan emosi setiap aktor. Penonton tampak mengikuti pertunjukan dengan khidmat hingga akhir.

Salah satu karya yang cukup dekat dengan kondisi Kalimantan Tengah saat ini adalah naskah“Abu”, karya Khofifah Intan Nur Alfiani, siswi SMAN 4 Palangka Raya.

Naskah tersebut lahir dari sebuah pengalaman sederhana. Saat berkunjung ke Museum Balanga, Pipah sapaan akrabnya, melihat poster orangutan. Dari gambar itu, muncul ide untuk menulis cerita tentang lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan.

Bagi Pipah, persoalan kabut asap bukan sesuatu yang kecil. Sebagai pengidap asma, kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitasnya. Rasa khawatir itu kemudian dituangkan ke dalam naskah monolog.

Dalam “Abu”, Pipah menggambarkan seekor orangutan yang kehilangan anaknya akibat kebakaran hutan dan lahan. Kesedihan bercampur amarah menjadi suara yang dibawa aktor tersebut ke atas panggung.

Sorot lampu merah yang menyerupai kobaran api membuat suasana pertunjukan semakin kuat. Aktor yang membawakan tokoh orangutan pun berhasil menghidupkan karakter yang ditulis Pipah.

Sebagai penulis, Pipah mengaku puas melihat naskahnya diterjemahkan ke dalam pertunjukan.

“Eksekusinya sangat bagus dan memuaskan, apalagi dengan waktu latihan teman-teman yang singkat, ” ujar Pipah.

Menurutnya, mengikuti Lokakarya Dramaturgi Bahasa memberikan pengalaman baru. Tidak hanya soal menulis naskah, tetapi juga memahami bagaimana sebuah tulisan bisa dikembangkan menjadi pertunjukan.

Pengalaman itu menjadi semakin berarti bagi Pipah yang sebelumnya juga pernah mengikuti ajang FLS3N. Baginya, proses dalam lokakarya memberikan kesempatan untuk belajar dan menambah pengalaman dalam memahami seni monolog.

Delapan karya yang malam itu tampil menjadi gambaran bagaimana peserta menerjemahkan kegelisahan mereka ke dalam bahasa panggung. Dari persoalan sosial, lingkungan, keluarga hingga pergulatan batin.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
dramaturgi bahasa LS Terapung naskah monolog kabut asap ekologi