PALANGKA RAYA — Memasuki pertengahan Ramadan, aktivitas belanja busana Lebaran di Kota Palangka Raya mulai menunjukkan peningkatan. Masyarakat tidak hanya memanfaatkan platform daring, tetapi juga kembali ramai mendatangi toko secara langsung untuk memilih pakaian yang akan dikenakan saat Hari Raya Idulfitri.
Pemilik Asshofa Moslem Collection, Lia Suraya, mengatakan tren belanja saat ini menunjukkan keseimbangan antara pembelian langsung di toko dan melalui platform online.
“Mulai pertengahan Ramadan, lebih banyak orang datang langsung berbelanja ke toko, terutama di akhir pekan. Untuk pembelian online juga meningkat di waktu-waktu tersebut. Kalau dipersentasekan, kurang lebih 50 banding 50 antara pembelian langsung dan online,” ujar Lia, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, meningkatnya kunjungan langsung ke toko biasanya terjadi ketika masyarakat ingin memastikan bahan, ukuran, serta model pakaian yang akan dikenakan saat Lebaran. Sementara pembelian daring tetap menjadi pilihan praktis bagi pelanggan yang sudah mengenal produk atau memiliki keterbatasan waktu.
Dari sisi tren model busana, Lia menyebut gaya dengan sentuhan cheongsam masih diminati pembeli. Namun, ia menegaskan bahwa konsumen tidak selalu terpaku pada satu tren tertentu.
“Model cheongsam masih diminati, walaupun stoknya sekarang mulai menipis. Tapi biasanya customer tidak hanya bergantung pada tren, mereka juga mempertimbangkan kebutuhan dan selera fashion masing-masing,” katanya.
Selain model, pilihan warna juga menjadi perhatian utama pelanggan. Lia menjelaskan, warna-warna dengan nuansa earth tone masih mendominasi tren busana Lebaran tahun ini. Meski demikian, preferensi konsumen tetap beragam.
“Warna tren masih dengan nuansa earth tone. Tetapi tidak menjadi selera semua orang. Beberapa customer juga memilih warna pastel ataupun warna yang lebih bold,” ujarnya.
Sementara itu, fenomena “Gamis Bini Orang” yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial juga sempat menarik perhatian pelaku usaha fesyen. Lia menjelaskan bahwa istilah tersebut sebenarnya merupakan jargon pemasaran yang berkembang di pusat grosir busana muslim.
“Kalau dari yang saya lihat di beberapa laman media sosial, ‘Gamis Bini Orang’ itu semacam jargon marketing yang sedang tren di Tanah Abang. Inspirasi gayanya dari Inara Rusli yang kesannya classy, biasanya menggunakan aksen brokat dan layer dengan material silk atau satin,” jelasnya.
Meski begitu, tren tersebut belum terlalu terasa di tokonya. Ia mengatakan hingga saat ini belum ada pelanggan yang secara khusus mencari model tersebut.
“Kebetulan untuk style seperti itu sampai sekarang belum ada yang mencarinya di toko kami. Customer biasanya melihat koleksi yang kami tawarkan saja. Untuk model ‘Gamis Bini Orang’ sendiri memang tidak ada di sini,” tambahnya.
Di luar busana, tren aksesori pelengkap juga menunjukkan pola yang relatif stabil. Lia menyebut hijab polos masih menjadi pilihan utama konsumen karena mudah dipadukan dengan berbagai model pakaian.
“Hijab yang diminati tetap hijab polos dengan bahan paris atau voal supaya mudah menyesuaikan dengan baju. Selain polos, model ini juga timeless karena bisa dipakai kapan saja,” ujarnya.
Menariknya, selain hijab, permintaan mukena justru turut meningkat menjelang Lebaran. Beragam motif mukena menjadi salah satu produk yang cukup banyak dicari pelanggan.
“Justru selain hijab, yang juga banyak diminati itu mukena dengan berbagai motif,” kata Lia.
Ia menilai meningkatnya aktivitas belanja menjelang Lebaran menjadi momentum penting bagi pelaku usaha fesyen muslim. Selain mendorong penjualan, Ramadan juga menjadi periode ketika berbagai tren busana bermunculan dan berkembang di tengah masyarakat.
Dengan kombinasi tren desain, pilihan warna yang beragam, serta meningkatnya aktivitas belanja baik daring maupun langsung di toko, pelaku usaha berharap momentum Ramadan tahun ini dapat memberikan dampak positif bagi geliat ekonomi sektor fesyen lokal. (ovi)
Editor : Ayu Oktaviana