SAMPIT – Sistem pengaman kotak amal di Masjid Nurul Iman Al Juhari, Jalan Tidar 4, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menarik perhatian banyak pihak. Pasalnya, alat itu dinilai efektif.
Bagaimana tidak? Alat yang mampu mengirimkan sinyal dan menyalakan lantunan murottal secara otomatis itu mampu membuat maling kalang kabut bukan kepayang.
Terkait alat itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kotim, Nur Widiantoro, mendukung upaya pengamanan kotak amal masjid dengan memanfaatkan teknologi seperti CCTV dan alarm. Menurutnya, penggunaan sistem keamanan tersebut adalah bagian dari ikhtiar yang dibenarkan dalam ajaran Islam.
“Pada dasarnya kita ini sesama orang harus husnuzan atau berbaik sangka. Tapi dalam perkembangannya, yang namanya kejahatan itu kan pasti ada. Kalau ada orang yang berusaha menjaga hartanya, itu bagian dari ikhtiar. Artinya diperbolehkan dalam agama,” katanya kepada Kalteng Pos, Jumat (1/8/2025).
Ia menjelaskan, tindakan pencegahan seperti memasang alarm atau CCTV pada kotak amal merupakan bentuk usaha yang sah sebelum seseorang bertawakal. Apalagi, menurutnya, tidak sedikit kotak amal di masjid besar yang berisi hingga puluhan juta rupiah, sehingga wajar jika ada langkah pengamanan.
“Kalau memang kotak amal itu tidak aman, dikasih alarm, itu kan bagian dari ikhtiar, karena perintahnya itu ada. Jadi sebelum tawakal, pasrah itu ikhtiar dulu. Zaman sekarang kan dibantu teknologi, saya kira itu tidak masalah,” ujarnya.
Nur juga menegaskan, selama teknologi tersebut tidak digunakan untuk mengintimidasi atau menimbulkan rasa takut kepada masyarakat, penggunaannya sah dalam pandangan agama. Tujuannya semata-mata untuk menjaga amanah dan melindungi dana umat.
“Intinya dalam Islam itu diperbolehkan, sepanjang bukan untuk mengintimidasi orang. Itu untuk pengamanan, semata-mata untuk pengamanan,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, ia berencana menginstruksikan kepada Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) agar menyosialisasikan pemahaman ini ke masyarakat dan takmir masjid di Kotim. Menurutnya, pengamanan berbasis teknologi ini dapat dikembangkan secara lebih luas di berbagai masjid.
“Nanti saya akan panggil kasih Bimas, jadi biar mensosialisasikan ke masyarakat. Daripada kita mencurigai orang, lebih baik pakai itu. CCTV, alarm, itu sudah perpaduan. Karena itu duit umat, dipergunakan untuk pembangunan masjid. Alat itu bisa dikembangkan di Kotim,” pungkasnya.(mif/ram)