VIDEO beredar di media sosial memperlihatkan kondisi banjir di wilayah Gunung Bromo.
Hal ini diakibatkan hujan deras yang mengguyur Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (30/9/2025) siang memicu banjir lumpur sekaligus longsor di Desa Ngadisari. Akibatnya, enam rumah warga terdampak, dengan dua di antaranya mengalami kerusakan parah.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 14.30, ketika tembok penahan tanah (TPT) di kawasan Cemoro Lawang ambrol.
TPT sepanjang 10 meter dengan tinggi sekitar 6 meter itu tidak mampu menahan gempuran air dan tanah yang sudah gembur akibat banjir.
Material longsor kemudian jatuh menimpa permukiman warga yang berada di bawahnya. Selain tanah dan batu, longsor juga membawa lumpur dari banjir, sehingga menambah dampak kerusakan.
Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, membenarkan bahwa keenam rumah terdampak longsor berada di Dusun Cemoro Lawang. “Dua rumah rusak parah, sedangkan sisanya masih bisa dihuni meski tetap terdampak material longsor,” ujarnya.
“Enam rumah itu semua kena banjir lumpur juga. Dua rumah di antaranya rusak parah,” tuturnya.
Dua rumah yang rusak parah itu milik Mochamat Ghandi, 42 dan Suminar, 56. Beruntung seisi rumah selamat.
Sebab, saat kejadian mereka ada di luar rumah.
Namun, kerugian materiil dua pemilik rumah ini cukup besar. Ditafsir mencapai ratusan juta rupiah.
Sebab, bagian belakang bangunan ambrol diterjang banjir lumpur yang turun dari tebing dan longsor.
“Paling parah itu rumahnya Ghandi, kemungkinan kerugian bisa Rp 100 juta. Mulai dari bangunan hingga perabotannya rusak. Sementara untuk rumah Suminar kurang lebih Rp 20 juta kerugiannya,” tafsirnya.
Sunaryono menduga, banjir terjadi tidak hanya karena intensitas hujan lebat yang turun sore itu. Namun, juga karena fungsi drainase di lingkungan sekitar yang kurang maksimal.
Diketahui, lingkungan sekitar banyak terdapat hotel dan rumah makan. Namun, saluran drainasenya diduga kurang maksimal.
“Dulu sering saya sarankan pada pemilik hotel atau rumah makan di sekitar sini untuk memperhatikan sistem irigasi yang sesuai AMDAL. Namun sepertinya diabaikan sehingga terjadi demikian,” ujarnya.
Menurutnya, banyak saluran irigasi yang tak sesuai standar. Ada yang ditutup permanen, hingga ukurannya yang terlalu kecil. Sehingga, tak dapat menampung air.
“Akhirnya aliran air kurang maksimal dan meluap, membuat TPT jebol. Material TPT inilah yang kemarin ikut terbawa arus air dan akhirnya menghantam rumah warga,” terangnya. (jpg/abw)
Editor : Ayu Oktaviana