Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik

Dramatis, Cerita Kapten Tug Boat yang Terombang-ambing Selama 6 Jam di Perairan Ujung Pandaran

Agus Pramono • Jumat, 10 Oktober 2025 | 18:02 WIB
Ode, kapten tug boat yang selamat.
Ode, kapten tug boat yang selamat.

SAMPIT– Ode (61) tak henti-hentinya mengucap syukur usai dirinya selamat dari musibah nahas yang menimpanya. Kapal Tug Boat Datine 138 yang dikemudikannya bersama tiga Anak Buah Kapal (ABK)-nya mengalami kebocoran hingga tenggelam, Selasa (7/10) dini hari lalu.

Enam jam terombang-ambing di laut lepas daerah Ujung Pandaran tanpa arah, Ode hanya berpegangan pada alat keselamatan seadanya.

Dengan suara parau dan mata yang tampak masih menyimpan rasa takut, Ode menceritakan bagaimana ia harus berjuang melawan ombak dan rasa pasrah di tengah laut.

“Ya namanya musibah, saya tidak bisa mengelak lagi. Karena takdir, maut di tangan Allah,” ujarnya saat ditemui usai keluar dari kamar jenazah RSUD dr Murjani Sampit, Jumat (10/10/2025) sore.

Ia menjelaskan, kapal yang dikemudikannya saat itu berangkat dari Sampit menuju Kapuas untuk assist. Namun di tengah perjalanan, kapal mengalami kebocoran.

Awalnya, dirinya ingin singgah di wilayah Pagatan, Kabupaten Katingan. Namun, akibat kapalnya bocor hebat, ia dan rekannya langsung hanyut ke laut.

“Saya bawa kapal itu izin keluar menuju Kapuas. Karena tidak sampai dan ada kebocoran juga, saya mau masuk ke Pagatan. Tapi tidak bisa lagi karena kebocoran kuat. Di situ ada kami berempat,” tuturnya.

Dalam kondisi panik, seluruh awak kapal berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Dua orang kru naik ke sekoci, satu menggunakan jeriken, sementara Ode bertahan hanya dengan alat lifecraft yang terapung di sekitar kapal.

“Saya bertahan enam jam karena kuasa Allah. Yang saya pegang itu alat lifecraft. Di dalamnya ada parasut, kembang api, obat, minuman, roti, mineral, dan pompa untuk sekoci itu. Tapi saya tidak naik sekoci,” jelasnya.

Ode mengaku sempat dilanda ketakutan luar biasa ketika menyadari ia sendirian di tengah laut. “Saya merasa ketakutan sudah jelas. Tapi takut pun sama siapa saya? Saya hanya pasrah dan berdoa,” katanya.

Usai terombang-ambing di laut selama berjam-jam, keberuntungan berpihak padanya. Sejumlah nelayan yang melintas melihat benda mencurigakan di permukaan laut.

Sebuah tangki kapal yang hanyut membuat nelayan tersebut mendekat ke lokasi. Di situlah Ode berteriak meminta pertolongan. Meski posisi Ode dan tangki minyak itu cukup jauh, ia tak pantang menyerah untuk berteriak.

“Saya teriak sampai didengar orang. Laut waktu itu sunyi, tidak ada orang. Tiba-tiba kelotok itu muncul. Mereka kira saya di dalam tangki kapal, ternyata saya jauh dari situ. Lalu mereka mengejar dan menolong saya,” kisahnya.

Saat diselamatkan, kondisi Ode sangat lemah. Kondisi kakinya sudah tak dapat digerakkan akibat terlalu lama mengapung di air. Ia akhirnya dinaikkan ke perahu milik nelayan dalam keadaan lelah dan lemas.

“Kaki saya sudah kram, tidak bisa digerakkan lagi. Saya hanya bergantung di alat itu,” ucapnya.

Namun, kebahagiaan karena selamat tak sepenuhnya membuatnya lega. Rasa sedih dan trauma masih membayangi karena tiga anak buah kapalnya belum ditemukan. 

Satu jenazah yang ditemukan nelayan pada Jumat (10/10/2025) pagi tak bisa dikenalinya usai ia melihat kondisi jenazah langsung di kamar jenazah RSUD dr Murjani. 

“Jenazah pertama yang ditemukan ini identifikasinya sementara teman saya, Pujiono. Tapi saya belum bisa mengenalinya karena mukanya sudah hancur,” ujarnya.

 

Dua kali merasakan tenggelam

Bagi Ode, insiden ini bukan yang pertama. Pria yang sudah bekerja di kapal sejak 1983 itu mengaku pernah mengalami kejadian serupa saat kapalnya tenggelam di Laut Jawa pada tahun 1995. Saat itu, dirinya juga diselamatkan oleh nelayan usai kapalnya bocor dan ia terombang-ambing di laut selama dua hari.

“Ini musibah yang kedua. Pertama tenggelam di Laut Jawa, di Semarang tahun 1995. Kejadiannya persis sama. Saya dua hari terombang-ambing dan ditolong nelayan,” kenangnya.

Kini, di tengah trauma yang masih membekas, Ode hanya berharap agar seluruh anak buah kapalnya bisa ditemukan baik dalam kondisi hidup atau mati.

“Saya sedih dan trauma karena ABK saya belum ketemu. Kalau bisa, hidup atau mati harus ditemukan,” imbuhnya. (mif/ram)

Editor : Agus Pramono
#kapal tenggelam #kapten kapal #kotawaringin timur #tug boat tenggelam