Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kronologi Atap Asrama Ponpes di Situbondo Ambruk yang Mengakibatkan 1 Santri Meninggal Dunia

Anisa Bahril Wahdah • Kamis, 30 Oktober 2025 | 11:15 WIB
Anggota BPBD dan Polres Situbondo meninjau lokasi asrama Ponpes Syehk Abdul Qodir Jaelani di Dusun Pesanggrahan, Desa Belimbing, Kecamatan Besuki, Rabu (29/10). (RADAR SITUBONDO)
Anggota BPBD dan Polres Situbondo meninjau lokasi asrama Ponpes Syehk Abdul Qodir Jaelani di Dusun Pesanggrahan, Desa Belimbing, Kecamatan Besuki, Rabu (29/10). (RADAR SITUBONDO)

 

KABAR duka kembali datang dari para santri. Asrama asrama putri Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jailani, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo ambruk pada Rabu (29/10/2025) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Akibat peristiwa tragis ini, 12 santriwati menjadi korban, satu di antaranya meninggal dunia.

Salah satu asrama putri ambruk diduga kuat akibat hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan tersebut.

Akibat insiden tersebut, satu santri putri meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian bermula sekitar pukul 23.30 WIB, ketika hujan deras dan angin kencang mengguyur wilayah Besuki.

Sekitar pukul 01.00 WIB, atap asrama tiba-tiba ambruk menimpa para santri yang sedang tertidur lelap.

Jeritan dan tangisan para santri terdengar dari dalam bangunan. Pengasuh pesantren bersama santri lainnya segera datang untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan plafon.

“Begitu mendengar suara keras, saya bersama pengurus langsung menuju lokasi dan mengevakuasi para santri. Korban luka segera kami bawa ke rumah sakit,” ujar KH. Muhammad Hasan Ainul Ilmi, pengasuh Ponpes Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jailani.

Korban luka kemudian dilarikan ke RSIA Jatimed dan RSUD Besuki untuk mendapatkan perawatan medis.

Sayangnya, satu santri bernama Putri Hemilia (13), warga Dusun Rawan, Desa Besuki, meninggal dunia akibat luka berat yang dideritanya.

“Korban meninggal sekitar pukul 06.00 WIB setelah sempat dirawat di RSIA Jatimed. Jenazah sudah dimakamkan pagi harinya,” ujar Puriyono, Koordinator BPBD Situbondo.

Menurut Puriyono, total 11 santriwati lainnya mengalami luka-luka. Enam di antaranya dirawat di Puskesmas Besuki, empat di RSUD Besuki, dan sebagian besar kini sudah bisa rawat jalan.

“Yang meninggal satu orang, tiga santriwati masih rawat inap, delapan sudah rawat jalan,” imbuhnya.

Pihak keluarga korban, lanjut Puriyono, menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan takdir Allah.

Mereka bahkan telah membuat surat pernyataan tidak menuntut pihak mana pun.

Sementara itu, dugaan awal penyebab ambruknya plafon adalah terjangan hujan deras dan angin kencang yang melanda kawasan pesantren pada malam kejadian.

Namun, kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pastinya.

“Penyebab sementara karena faktor cuaca ekstrem, tapi hasil pasti masih menunggu penyelidikan dari Polres Situbondo,” jelas Puriyono.

KH. Muhammad Hasan Ainul Ilmi menyampaikan duka mendalam atas wafatnya santri tersebut.

Ia berjanji akan terus mendampingi para korban hingga proses pemulihan tuntas.

“Ini cobaan berat bagi keluarga besar pesantren. Kami pastikan semua korban mendapat perawatan dan pendampingan penuh,” tegas Kiai Hasan. (jpg/abw)

ESTAFET ENERGI: Proses distribusi BBM di wilayah Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. FOTO: ANGEL LYNN UNTUK RADAR TARAKAN
ESTAFET ENERGI: Proses distribusi BBM di wilayah Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. FOTO: ANGEL LYNN UNTUK RADAR TARAKAN
Editor : Ayu Oktaviana
#asrama putri #pondok pesantren #perawatan #Pengasuh Pesantren #RSUD Besuki #Luka Berat #Salafiah Syafiiyah Syekh Abdul Qodir Jailani #peristiwa tragis