Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kondisi Jenazah Kakek yang Diterkam Buaya di Sungai Rangkang Begitu Memprihatinkan

Agus Pramono • Senin, 24 November 2025 | 16:10 WIB
Penemuan jenazah korban terkaman buaya.
Penemuan jenazah korban terkaman buaya.

 

SAMPIT-Setelah pencarian dilakukan sejak hari pertama kejadian, tim terpadu akhirnya menemukan jenazah Muhran (63), warga Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut yang hilang akibat serangan buaya di Sungai Rangkang pada Sabtu (22/11/2025) lalu.

Korban ditemukan pada Senin (24/11/2025) sekitar pukul 11.30 WIB.Jenazah ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Penemuan itu berjarak sekitar lima kilometer dari titik awal kejadian.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, mengatakan bahwa dua hari awal pencarian belum menghasilkan temuan. Proses pencarian melibatkan masyarakat, aparat desa, kecamatan, serta tim dari Pos SAR Sampit.

“Hari pertama dan kedua itu nihil. Dalam pencarian juga banyak melibatkan masyarakat desa, aparat desa, kemudian kecamatan, selain juga dari tim terpadu yang kita bentuk,” kata Multazam, Senin (24/11/2025).

Menurutnya, tim SAR menurunkan alat utama berupa unit berukuran besar karena kondisi gelombang di wilayah perairan tersebut cukup tinggi. Memasuki hari kedua dan ketiga, metode pencarian dimodifikasi dengan menggunakan perahu karet kecil untuk menyisir area yang lebih sempit.

“Dari pos SAR Sampit menurunkan alut berupa unit yang cukup besar memang, karena gelombang yang cukup besar. Hari kedua dan ketiga kita coba modifikasi, menggunakan perahu karet yang kecil untuk menyisir sebagian daerah,” ujarnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil pada hari ketiga. Jenazah ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Penemuan itu berjarak sekitar lima kilometer dari titik awal kejadian.

“Alhamdulillah pada hari ini, pukul 11.30, ditemukan jenazah tersebut. Kalau dari kondisi jenazah, ya posisi sekitar 70 persendian bisa diselamatkan dalam kondisi meninggal dan sudah diantarkan ke rumah duka,” jelasnya.

Multazam juga menyampaikan rasa terima kasih kepada warga yang ikut terlibat dalam pencarian meski menghadapi tantangan berat, terutama pasang surut air laut yang menyulitkan pergerakan perahu.

“Obstacle yang paling berat adalah pasang surut air laut, di mana alut jelajah untuk sungai dan laut itu memang terbatas. Tetapi masyarakat dengan perahu tradisional dan keberanian mereka sangat membantu,” tegasnya.

Terkait kronologi awal, Multazam menyebut korban dikenal sebagai warga yang biasa mencari udang di sungai tersebut. Ada saksi yang mendengar teriakan korban saat kejadian.

“Beliau ini biasa mencari udang di daerah sungai itu. Ada saksi yang mendengar beliau berteriak minta tolong. Tetapi karena yang dilawan hewan predator, tentu sangat berisiko untuk langsung memberi pertolongan,” jelasnya. (mif)

Editor : Ayu Oktaviana
#proses pencarian #Sungai rangkang #serangan buaya #BPBD Kotawaringin Timur #Kecamatan Pulau Hanaut #Hewan Predator #perahu tradisional #tim sar