PALANGKA RAYA-Eddy, sang keponakan yang tega membunuh pamannya yang juga pemilik bengkel di Jalan Raflesia, Tjilik Riwut Km 11 Palangka Raya kini sudah diamankan pihak kepolisian dari Polresta Palangka Raya.
Eddy dikenal warga sekitar sebagai sosok yang pendiam. Jarang berinteraksi dengan warga. Sesekali nongkrong di bengkel milik korban.
"Kalau selama ini setahu saya bengkel korban jadi tempat nongkrong, rumah pelaku di situ,"ujar warga Zulkifli sambil menunjuk bangunan kayu dan kebun.
Eddy selama ini tinggal di rumah kayu yang jaraknya selemparan batu dari bengkel korban M Agus Duanson.
Sehari-hari, Eddy bekerja merawat kebun di sekitar rumahnya. Di kebun itu, ditanam berbagai macam sayuran. Ada juga pohon rambutan yang sudah berbuah.
Pagi buta, Sabtu (10/1/2026), Eddy tampak kalap. Minuman keras menambah gairah untuk menganiaya. Dendamnya termuntah.
Membawa bekal belati, dia datangi bengkel M Agus. Dia menggedor pintu. M Agus keluar. Ada argumen singkat. Tak hanya mulut Eddy yang berbicara, belati yang dia bawa dihujamkan ke jantung M Agus.
"Saya tusuk jantungnya,"ucap Endang Susilowati, Ketua RT 05/RW 05 Jalan Raflesia, Kelurahan Katimpun menirukan perkataan Eddy.
Ketika fajar menyingsing, darah berceceran di ruang tengah. Tubuh M Agus terlentang bertelanjang dada dan berselimut darah.
Eddy, yang sudah menaruh belatinya, duduk termenung. Menyesali. Menangis sesekali. Polisi datang menjemputnya.
Adik perempuan Eddy, yang kabur bersama anaknya di momen mencekam itu kini belum tahu dimana keberadaannya.
Dia adalah saksi kunci yang bisa membuka tabir motif apa gerangan sampai keponakan bisa naik pitam dan berbuat sekeji itu.
"Dia itu saksi kuncinya, kami tidak tahu keberadaanya,"timpal Zulkifli.(ram)
Editor : Agus Pramono