PALANGKA RAYA– Dugaan kasus gangguan pencernaan usai menyantap menu MBG terjadi di Posyandu Harum Manis, Kelurahan Panarung, Kota Palangka Raya.
Sebanyak 16 orang dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B.
Ketika didatangi wartawan, Ketua Posyandu Harum Manis, Isnainiyah tidak menampik. Ia menjelaskan bahwa dari total 102 penerima manfaat, hanya 16 orang yang mengalami gangguan kesehatan.
Untuk menu saat kejadian telur mata sapi saus asam manis tumis buncis sama kacang plus serut jagung.
Dari jumlah tersebut, 12 orang mengalami gejala ringan, sementara 4 orang harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
“Total ada 16 orang yang mengalami gejala. Dua belas hanya mual biasa dan bisa ditangani di rumah, sementara empat orang muntah terus dan harus dirawat,” kata Isnainiyah, Jumat (6/2/2026).
Ia merinci, 16 orang yang terdampak terdiri dari balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Sementara untuk empat pasien yang dirawat, masing-masing adalah satu balita berusia 20 bulan, satu anak usia tujuh tahun, satu ibu menyusui, dan satu ibu hamil.
“Yang dirawat itu satu balita, satu anak usia tujuh tahun, satu ibu menyusui, dan satu ibu hamil. Tapi ada juga yang sebenarnya bukan penerima MBG, hanya makan jatah adiknya,” jelasnya.
Dari empat pasien tersebut, tiga orang dirawat di RSI Muhammadiyah Palangka Raya, sementara satu ibu hamil dirawat di RS Bhayangkara dan telah diperbolehkan pulang pada Jumat sore setelah kondisinya membaik.
Isnaniyah menyebutkan, distribusi MBG di Posyandu Harum Manis dilakukan setiap hari sejak 8 Januari 2026, mulai Senin hingga Sabtu.
Khusus hari Jumat, terdapat menu basah dan menu kering yang dibagikan kepada penerima manfaat.
“Menu kering itu susu, biskuit, dan buah. Sedangkan menu basah kemarin telur mata sapi saus asam manis, tumis sayur, tempe, dan buah melon,” ujarnya.
Makanan MBG tiba di posyandu sekitar pukul 08.00–09.00 WIB. Pihak posyandu, kata Isnaniyah, telah berulang kali mengingatkan agar makanan segera dikonsumsi maksimal empat jam setelah diterima.
Namun berdasarkan pendataan yang dilakukan, sebagian besar warga yang mengalami gejala mengonsumsi makanan di atas pukul 13.00 hingga 15.00 WIB.
“Kami minta semua yang sakit isi data, jam berapa mereka makan. Rata-rata yang mual itu makannya lewat jam satu siang, bahkan ada yang jam tiga sore,” ungkapnya.
Gejala mulai dirasakan hampir bersamaan sekitar pukul 17.00 WIB, ditandai dengan mual dan muntah.
Laporan awal diterima pengurus posyandu melalui pesan pribadi, sebelum akhirnya ramai disampaikan di grup WhatsApp warga sekitar pukul 18.00 WIB.
Isnaniyah menegaskan bahwa hingga kini belum ada kesimpulan resmi terkait penyebab kejadian tersebut, dan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari instansi berwenang.
“Kalau memang dari dapur, secara logika satu dapur melayani 12 titik. Harusnya banyak yang terdampak. Faktanya hanya di Harum Manis,” katanya.
Ia juga memastikan proses penyaluran makanan dilakukan sesuai prosedur, dengan kader menggunakan sarung tangan dan makanan tetap dalam kondisi tertutup hingga diserahkan kepada penerima.
“Kami juga ikut makan menu yang sama. Kami tidak menyalahkan siapa pun, hanya menyampaikan fakta di lapangan,” tegasnya.
Hingga Jumat sore, seluruh pasien yang dirawat dilaporkan berangsur membaik, dan tidak ada korban dalam kondisi kritis. (*rif)
Editor : Agus Pramono