Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Gibran Alami Gangguan Pencernaan Usai Memakan Menu MBG di Posyandu Harum Manis Milik Adiknya

Agus Pramono • Jumat, 6 Februari 2026 | 18:19 WIB

 

Ketua Posyandu Harum Manis, Isnainiyah.RIFQI/KALTENG POS
Ketua Posyandu Harum Manis, Isnainiyah.RIFQI/KALTENG POS

PALANGKA RAYA-Gangguan pencernaan usai makan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B di Posyandu Harum Manis, Kelurahan Panarung, turut melibatkan seorang anak bernama Gibran.

Dia bukan penerima manfaat program, namun ikut mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan milik adiknya.

Ketua Posyandu Harum Manis, Isnainiyah, menjelaskan bahwa Gibran bukan terdaftar sebagai sasaran MBG, namun memakan porsi yang seharusnya dikonsumsi adiknya karena alasan sayang agar makanan tidak terbuang.

“Anak atas nama Gibran itu bukan penerima MBG. Dia makan porsi adiknya sekitar jam setengah dua siang. Setelah itu baru muncul keluhan,” ujar Isnainiyah, Jumat (6/2/2026).

Ia mengatakan, kejadian tersebut terkonfirmasi setelah pihak posyandu melakukan pendataan waktu konsumsi makanan terhadap warga yang mengalami gejala mual dan muntah.

“Kami minta semua yang mengalami keluhan mengisi data jam makan. Rata-rata yang mual itu makan di atas jam satu sampai jam tiga sore, termasuk Gibran,” jelasnya.

Isnainiyah menegaskan bahwa dari 102 penerima manfaat MBG di wilayah tersebut, hanya 16 orang yang mengalami gejala, dengan tingkat keparahan berbeda. Dari jumlah itu, 12 orang mengalami keluhan ringan, sementara 4 orang harus mendapat penanganan medis.

“Yang dirawat itu satu ibu hamil, satu ibu menyusui, satu balita penerima MBG, dan satu anak non-penerima, yaitu Gibran,” katanya.

Menurut Isnainiyah, distribusi makanan MBG selama ini dilakukan sesuai prosedur. Makanan diterima posyandu sekitar pukul 08.00–09.00 WIB, diperiksa secara fisik oleh kader, lalu dibagikan kepada penerima manfaat dengan imbauan agar segera dikonsumsi.

“Kami selalu ingatkan maksimal dimakan sebelum jam sepuluh. Tapi namanya masyarakat, ada yang menunda karena berbagai alasan,” ujarnya.

Ia menilai, kasus ini menjadi pelajaran penting terkait pola konsumsi makanan MBG, terutama menu basah seperti telur mata sapi yang berisiko jika dikonsumsi melewati batas waktu.

“Ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi faktanya yang mengalami keluhan rata-rata makan lewat jam aman. Dan ada juga yang bukan penerima, tapi ikut makan,” pungkas Isnainiyah.

Hingga kini, pihak posyandu masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari instansi terkait untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. (*rif)

Editor : Agus Pramono
#gibran #puskesmas #Mbg #palangka raya #gangguan pencernaan