Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Tasya Walina, Calon Ustazah yang Jadi Korban Pembantaian Satu Keluarga di Perbatasan Kalteng Kaltim

Miftahul Ilma • Senin, 27 April 2026 | 16:15 WIB
Tasya Walina, calon ustazah jaadi korban pembunuhan di perbatasan Kalteng Kaltim
Tasya Walina, calon ustazah jaadi korban pembunuhan di perbatasan Kalteng Kaltim

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Harapan para santri di Pondok Pesantren An-Najah Cindai Alus untuk menyambut ustazah baru berubah menjadi duka. Sosok yang mereka nantikan, Tasya Walina, justru lebih dulu dikenal lewat cerita sebelum sempat hadir di hadapan mereka.

Nama Tasya sudah lebih dulu beredar di kalangan santri. Meski belum pernah bertemu, cerita dari senior membuatnya dikenal sebagai pribadi yang baik.

Baca Juga: Saksi Selamat Ceritakan Detik-Detik Serangan yang Tewaskan 5 Warga Sekeluarga dari Teweh Timur

Tasya Walina binti Zein merupakan alumnus Pondok Mu’adalah Ala Gontor An-Najah Cindai Alus. Setelah Ramadan, tepatnya memasuki bulan Syawal, ia dijadwalkan kembali ke pesantren untuk menjalani masa pengabdian sebagai ustazah.

Rencana tersebut tidak pernah terwujud. Sebelum kembali ke Martapura, Tasya pulang ke kampung halamannya di Teweh Timur, Barito Utara, untuk membantu orang tuanya.

Namun, pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 16.30 WIB, tragedi terjadi di kawasan Timber Dana KM 80. Tasya bersama anggota keluarganya menjadi korban dalam aksi kekerasan oleh orang tak dikenal. Lima orang dilaporkan meninggal dunia.

Kabar tersebut mengejutkan lingkungan pesantren. Bila, sahabat dekat Tasya selama enam tahun, mengaku sempat tidak percaya saat pertama kali mendengar informasi tersebut.

Baca Juga: 5 Warga Teweh Timur Tewas Diserang saat Berada di Dalam Pondok, Berikut Kronologinya

“Saya langsung coba hubungi ibunya, tapi tidak tersambung. Kami waktu itu belum tahu kalau ibunya juga ikut meninggal dunia,” katanya, mengutip Radar Banjarmasin (Jawa Pos grup). 

Upaya memastikan kabar itu berlanjut dengan menghubungi kerabat lainnya. “Beliau hanya minta kami mendoakan Tasya,” ujarnya.

Malam harinya, para alumnus berkumpul. Mereka menggelar doa bersama dan tahlil untuk mengenang Tasya.

“Jujur kami masih tidak percaya, karena Tasya baik sekali orangnya, pintar dan sangat penyayang,” ucap Bila.

Selama di pesantren, Tasya dikenal sebagai santriwati yang aktif dan dapat diandalkan. Ia merupakan bagian dari angkatan The Primal Generation tahun 2025/2026 dan pernah dipercaya di bagian perlengkapan.

Baca Juga: 5 Warga Teweh Timur Tewas Diserang saat Berada di Dalam Pondok, Berikut Kronologinya

Ia juga dikenal tekun dalam menghafal Al-Qur’an. Meski tidak banyak bicara, ia konsisten dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Bagi para santri kecil, Tasya tetap menjadi sosok yang hanya hidup dalam cerita. Sosok ustazah yang mereka tunggu, namun tak pernah sempat mengajar.

Ia memiliki keinginan sederhana, menjadi pengajar dan mengabdi di pesantren. Bahkan, ia sempat menunda masa pengabdian selama enam bulan demi menyelesaikan urusan keluarga.

“Dia izin menunda pengabdian, katanya mau menyelesaikan urusan keluarga,” kata Bila.

Setelah itu, ia berencana kembali ke pesantren. Namun rencana tersebut tidak pernah terwujud. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren.

“Kami sangat merasa kehilangan. Tapi kami percaya Tasya sudah tenang di tempat terbaik. Semoga semua kebaikannya menjadi jalan untuknya di sisi Allah,” tutup Bila.

Untuk diketahui, kepolisian Polres Barito Utara berhasil menangkap tiga orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan sadis terhadap lima warga di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Baca Juga: Kapolres Barito Utara Kejar Pelaku yang Habisi Satu Keluarga Warga Teweh Timur

Para tersangka masing-masing berinisial SA (perempuan), LK (Laki-laki), dan FN (Laki-laki). Mereka diamankan di dua lokasi berbeda. Satu orang diringkus di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, sementara dua lainnya ditangkap di wilayah Kalimantan Tengah.

Kejadian ini menewaskan lima orang dan satu orang lainnya dalam kondisi kritis. Korban jiwa dalam peristiwa tersebut adalah Cuah (55), petani; Hasna (40), ibu rumah tangga; Tasya (17); David (3); serta Ono (50), ibu rumah tangga. Seluruh korban beralamat di Desa Benangin 2, Kecamatan Teweh Timur. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#pembunuhan satu keluarga #pembunuhan sadis barito utara #pembunuhan di perbatasan kalteng kaltim #Pondok Pesantren An-Najah Cindai Alus #Kecamatan Teweh Timur