PALANGKA RAYA – Peningkatan angka kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Tengah sepanjang 2025 menjadi perhatian serius jajaran Polda Kalteng.
Data Ditlantas menunjukkan hampir 50 persen korban kecelakaan didominasi usia 12 hingga 23 tahun dan mayoritas menggunakan sepeda motor.
Baca Juga: Patroli Balapan Liar di Palangka Raya, Polisi Temukan Alat Isap Sabu hingga Sajam dalam Jok Motor
Pertumbuhan kendaraan di Kalteng meningkat hampir 20 persen, sementara kapasitas jalan relatif tidak bertambah.
Kalau tidak dikelola dengan baik, maka potensi kecelakaan otomatis ikut meningkat.
Melalui Rapat Kerja Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Tingkat Provinsi Tahun 2026, Direktorat Lalu Lintas Polda Kalteng mulai menyiapkan strategi terpadu guna menekan angka kecelakaan menuju target Zero Accident dan Zero Fatality.
Direktur Lalu Lintas Polda Kalteng Kombes Pol Yusep Dwi Prastiya mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi, angka kecelakaan pada 2025 mengalami kenaikan sekitar 5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Balap Liar Kian Meresahkan, Berikut Langkah Antisipasi dari Ditlantas Polda Kalteng
“Fatalitas korban meninggal memang menurun, tetapi total kejadian justru meningkat. Ini menjadi alarm serius bagi kita semua,” ujarnya saat Raker Forum LLAJ di Graha Bhayangkara Mapolda Kalteng, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, tren peningkatan juga terlihat saat pelaksanaan Operasi Ketupat. Dalam kurun 14 hari operasi, angka kecelakaan melonjak hampir 58 persen dan korban meninggal dunia ikut mengalami peningkatan signifikan.
Atas arahan Kapolda Kalteng, pihaknya langsung mengaktifkan Forum LLAJ sebagai wadah koordinasi lintas sektor untuk merumuskan langkah konkret penanganan keselamatan jalan.
Yusep menjelaskan, bersama tim pakar keselamatan jalan, pihaknya telah melakukan kajian selama hampir satu bulan, termasuk survei langsung ke sejumlah ruas jalan rawan kecelakaan.
Baca Juga: Tekan Balap Liar, Ditlantas Polda Kalteng Dorong Reaktivasi Sirkuit Sabaru
Dari hasil kajian tersebut, lahir rekomendasi strategi jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk satu sampai lima tahun ke depan.
Salah satu fokus utama yakni membangun konektivitas database kecelakaan yang dapat diakses seluruh anggota forum agar analisis penyebab kecelakaan bisa dilakukan secara cepat dan menyeluruh.
“Selama ini kecelakaan sering hanya disimpulkan karena faktor manusia. Padahal ada banyak aspek lain seperti kondisi jalan, penerangan, kelelahan pengemudi, hingga rekayasa lalu lintas,” jelasnya.
Ia mencontohkan ruas jalan lurus Kasongan di Kabupaten Katingan yang kerap terjadi kecelakaan meski tidak memiliki tikungan ekstrem.
Selain itu, Forum LLAJ juga merekomendasikan penguatan pengawasan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), optimalisasi CCTV, hingga pembatasan jam operasional kendaraan berat.
“Keselamatan tetap harus menjadi prioritas tanpa menghambat aktivitas ekonomi,” katanya.
Pendekatan edukasi juga menjadi perhatian serius.(*)