Sesampainya di lokasi, personel dibagi menjadi dua tim. Tim pertama yang terdiri atas sembilan anggota dipimpin langsung Kasatresnarkoba bertugas melakukan penyergapan ke rumah target operasi.
Sementara Tim 2 yang beranggotakan tiga personel bersiaga di sekitar SMPN setempat sebagai tim pendukung.
Operasi semula berjalan sesuai rencana. Petugas berhasil mengamankan BIO. Namun situasi berubah drastis ketika seorang pria tiba-tiba keluar dari arah dapur sambil mengayunkan parang ke arah anggota polisi.
Tak lama berselang, dua pria lainnya juga muncul membawa senjata tajam dan mengarah ke Kasatresnarkoba.
Melihat kondisi yang mengancam keselamatan personel, Aiptu Sumariyanto melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Namun peringatan tersebut tidak dihiraukan. Serangan justru semakin meningkat sehingga petugas terpaksa mengambil tindakan tegas dan terukur dengan melepaskan tembakan untuk melumpuhkan pelaku.
Akibat tindakan tersebut, seorang pria bernama Teriyo (40), yang disebut ikut melakukan penyerangan terhadap petugas, roboh setelah terkena tembakan dan meninggal dunia di lokasi.
Kematian Teriyo memicu kemarahan keluarga dan warga sekitar.
Dalam waktu singkat, puluhan warga berdatangan mengepung lokasi sambil membawa parang, balok kayu hingga senjata api rakitan. Massa kemudian menyerang personel Satresnarkoba yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
Dalam kondisi terdesak, Tim 1 segera meminta bantuan penebalan personel kepada Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah. Sambil menunggu bantuan datang, anggota memutuskan mundur untuk menyelamatkan diri.
Personel berlarian menuju tepian sungai sebelum akhirnya nekat berenang menyeberangi aliran sungai yang deras menuju sebuah pulau kecil di tengah sungai.
Mereka berusaha bersembunyi dari kejaran massa yang disebut terus menyerang menggunakan senjata tajam dan melepaskan tembakan dari senjata api rakitan.
Di sisi lain, Tim 2 yang berada di sekitar SMPN juga sempat mengalami pengejaran oleh sekelompok warga menggunakan sebuah mobil SUV berwarna silver. Massa menghadang mereka di tengah jalan dengan membawa senjata tajam dan senjata api rakitan. Beruntung, Tim 2 berhasil lolos dan tiba dengan selamat di Polsek Katingan Tengah.
Sementara itu, Tim 1 yang terjebak di pulau kecil kembali berusaha menyelamatkan diri dengan berenang menyeberangi sungai.
Namun derasnya arus dan kondisi fisik yang mulai kelelahan membuat tiga anggota, yakni Aiptu Sumariyanto, Aipda Yudhie, dan Bripda Nopandri Ramadhana, tidak mampu melanjutkan renang hingga seberang.
Dalam kondisi kritis, ketiganya sempat berteriak, "Saya menyerah...", sebelum akhirnya terseret kembali ke tepian sungai yang telah dipenuhi warga.
Lima personel lainnya, yakni Bripka Jhon, Briptu Dedi, Briptu Kristian, Bripda Ferdy, dan Bripda Eko berhasil mencapai seberang sungai dan menyelamatkan diri dengan bersembunyi di kawasan hutan.
Hingga proses evakuasi dilakukan, sembilan personel Satresnarkoba berhasil ditemukan dan dievakuasi oleh personel Polres Katingan bersama Polsek Katingan Tengah. Namun, Aipda Yudhie ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sebuah lanting.
Sementara itu, dua anggota lainnya, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, hingga Kamis siang masih belum diketahui keberadaannya. Tim gabungan terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai untuk mencari kedua personel tersebut.
Saat ini lokasi kejadian masih dijaga ketat oleh personel gabungan bersenjata lengkap guna mengantisipasi kemungkinan bentrokan susulan.
Jasad anggota Polri dan warga sipil yang meninggal dunia telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
Dikonfirmasi terkait insiden tersebut, Kasi Humas Polres Katingan, Iptu Moh. Mastur, SH, belum memberikan penjelasan secara rinci.
"Nanti keterangan resmi akan disampaikan langsung oleh Pak Kapolres. Beliau masih di atas (lokasi kejadian)," ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, aparat kepolisian masih melakukan pencarian terhadap dua personel yang hilang sekaligus mendalami seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan operasi penangkapan bandar narkoba tersebut berujung tragedi.
Apabila nanti Polda Kalimantan Tengah atau Polres Katingan memberikan keterangan resmi, berita ini sebaiknya diperbarui agar kronologi dan jumlah korban sesuai dengan data resmi terbaru.(*)
Editor : Ayu Oktaviana