PALANGKA RAYA – Bau asap mulai tercium di sejumlah kawasan Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah titik panas (*hotspot*) dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah sepanjang Juli 2026.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, hingga 26 Juli 2026 terdapat 3.863 titik panas (hotspot) yang terdeteksi sepanjang tahun ini.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.848 titik panas muncul hanya selama Juli 2026. Artinya, hampir separuh dari total hotspot sepanjang tahun tercatat dalam satu bulan terakhir.
Baca Juga: Dilema BPBD Kotim Ketika Karhutla Meluas: Distribusi Air Bersih atau Pemadaman
Lonjakan juga terlihat dari jumlah kejadian karhutla. Pada Januari tercatat 112 kejadian, kemudian Februari 32 kejadian, Maret 76 kejadian, April 59 kejadian, Mei 27 kejadian, dan Juni 28 kejadian.
Memasuki Juli, jumlah kejadian karhutla melonjak menjadi 393 kejadian. Kondisi serupa terjadi pada luas lahan yang terbakar. Jika pada Juni luas lahan terbakar tercatat 25,92 hektare, sepanjang Juli angka tersebut meningkat drastis menjadi 710,58 hektare.
Khusus pada Minggu (26/7/2026), BPBD mencatat terdapat 241 titik panas, 21 kejadian karhutla, dengan total luas lahan terbakar mencapai 44,96 hektare.
Hotspot Terbanyak di Kotim, Karhutla Tertinggi di Palangka Raya
Berdasarkan akumulasi data hingga 26 Juli 2026, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah *hotspot* terbanyak di Kalimantan Tengah, yakni 503 titik.
Selanjutnya Kabupaten Kapuas dengan 489 titik, Lamandau 480 titik, Katingan 424 titik, Pulang Pisau 364 titik, Sukamara 357 titik, Seruyan 313 titik, Gunung Mas 287 titik, Barito Utara 211 titik, Murung Raya 115 titik, Kotawaringin Barat 97 titik, Barito Selatan 84 titik, Palangka Raya 83 titik, dan Barito Timur 56 titik.
Baca Juga: Kapolda Kalteng Police Line Lahan Karhutla di Tumbang Nusa, 8 Pemilik Lahan Jadi Tersangka
Namun, jika dilihat berdasarkan jumlah kejadian karhutla, Kota Palangka Raya justru menempati posisi tertinggi dengan 248 kejadian.
Posisi berikutnya ditempati Kotawaringin Timur dengan 125 kejadian, Barito Utara 67 kejadian, Kotawaringin Barat 65 kejadian, Kapuas 20 kejadian, serta sejumlah daerah lainnya.
Sementara berdasarkan luas lahan terbakar hasil laporan lapangan, Kabupaten Sukamara menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 256,35 hektare.
Disusul Kotawaringin Timur 234,18 hektare, Palangka Raya 150,50 hektare, Kotawaringin Barat 114,46 hektare, Pulang Pisau 110,25 hektare, dan Seruyan 84,10 hektare.
Enam Karhutla Terjadi di Palangka Raya
Kondisi karhutla juga masih terjadi di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya. Dalam laporan harian BPBD pada 26 Juli 2026, tercatat enam kejadian karhutla.
Dari enam kejadian tersebut, empat lokasi berhasil dipadamkan. Sementara dua lokasi lainnya masih dalam penanganan karena berada di kawasan lahan gambut.
Lokasi pertama berada di Jalan Hasanka, Kelurahan Kalampangan. Kebakaran yang terjadi sejak 21 Juli tersebut hingga kini masih dalam proses pembasahan lantaran bara api masih ditemukan di bawah permukaan tanah gambut.
Lokasi kedua berada di Jalan Ketimpun Permai Km 13, Kelurahan Petuk Ketimpun. Kebakaran yang terjadi sejak 22 Juli itu telah membakar sekitar 8,5 hektare lahan gambut dan hingga kini masih berstatus belum padam.
Sementara itu, petugas berhasil memadamkan kebakaran di Jalan Yos Sudarso Ujung, Jalan Yos Sudarso Lanjutan, Jalan Danau Indah, serta Jalan Kahuripan.
Luas lahan yang terbakar di sejumlah lokasi tersebut berkisar antara 0,03 hingga 2,35 hektare.
Tumbang Nusa Masih Terbakar hingga Hari ke-25
Selain Palangka Raya, kebakaran yang menjadi perhatian berada di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau.
Kebakaran di kawasan lahan gambut dengan luas sekitar 60 hektare tersebut telah memasuki hari ke-25 pemadaman. Hingga kini, kawasan tersebut masih terpantau mengeluarkan asap.
Kebakaran juga masih terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur. Satu titik karhutla di Desa Bawan, Kecamatan Mentaya Hulu, dengan luas sekitar 15 hektare masih dalam proses pemadaman.
Berdasarkan hasil patroli udara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejumlah kawasan yang masih terpantau mengeluarkan asap berada di Sabangau, Jekan Raya, Tasik Payawan, Katingan Kuala, Kota Besi, serta Tumbang Nusa.
BPBD Perkuat Pencegahan Karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib mengatakan peningkatan jumlah *hotspot* menjadi indikator bahwa potensi karhutla saat ini semakin tinggi, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
"Sepanjang Juli memang terjadi peningkatan hotspot maupun kejadian karhutla. Karena itu kami terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pengendalian di lapangan," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Toyib menegaskan, pemerintah tidak hanya berfokus pada upaya pemadaman, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas.
"Kami terus melakukan upaya antisipasi dalam bentuk imbauan larangan membakar lahan, sosialisasi melalui sirling, dan pemadaman melalui upaya terpadu yang melibatkan semua unsur di bawah koordinasi Satgas Karhutla Provinsi," tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca panas mulai mendominasi.
Menurutnya, kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan penanganan yang lebih intensif.
"Peran masyarakat sangat penting. Jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan, segera laporkan kepada petugas agar bisa segera ditangani sebelum meluas," pungkasnya.(*)
Editor : Agus Pramono