Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Hari Batik Nasional: Batik Benang Bintik Kalteng Jadi Identitas dan Kebanggaan Daerah

Agus Pramono • Kamis, 2 Oktober 2025 | 13:30 WIB
Batik Benang Bintik.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Batik Benang Bintik.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

PALANGKA RAYA – Batik bukan sekadar kain bergambar. Ia adalah simbol identitas, ungkapan rasa syukur, sekaligus warisan budaya yang telah diakui dunia.

Di Kalimantan Tengah (Kalteng), batik memiliki tempat istimewa melalui Batik Benang Bintik, kain khas Dayak yang sarat filosofi dan kini semakin dilirik pasar nasional maupun internasional.

Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober pun menjadi pengingat penting untuk merawat sekaligus memajukan batik sebagai jati diri daerah.

Adiah Chandra Sari, tokoh penggiat batik yang juga menjabat Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalteng, menyebut batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan wujud spiritual masyarakat terhadap alam dan kehidupan.

“Batik adalah manifestasi rasa syukur kita kepada Tuhan. Setiap motifnya lahir dari kekaguman manusia terhadap ciptaan-Nya. Di Kalteng, motif batik banyak terinspirasi dari ornamen Dayak yang sarat filosofi,” kata Adiah, Rabu (1/9/2025).

Ia menjelaskan, nenek moyang Dayak menciptakan ornamen berdasarkan simbol-simbol yang berhubungan dengan kehidupan, keseimbangan, dan penghormatan pada alam.

“Ornamen-ornamen itulah yang kemudian dituangkan dalam Batik Benang Bintik. Jadi, setiap goresan bukan sekadar corak, tapi ada makna yang mendalam di baliknya,” tambahnya.

Menurut Adiah, Hari Batik Nasional menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak melupakan warisan budaya.

“Batik, termasuk Batik Benang Bintik, adalah identitas. Kalau kita mencintainya, otomatis akan tumbuh rasa memiliki. Dari situlah timbul kepedulian untuk melestarikan dan mengembangkannya,” ujarnya.

Lebih jauh, Adiah menyebut ada lima motif Batik Kalteng yang paling populer sekaligus memiliki nilai filosofi tinggi, yakni Batang Garing, Bajakah, Burung Tingang, Mandau Talawang, dan Balanga.

Dirinya menjelaskan, Batang Garing melambangkan pohon kehidupan, keseimbangan, dan keberlanjutan.

Bajakah dikenal sebagai tanaman obat hutan, simbol kekuatan dan kesehatan. Burung Tingang/Enggang dihormati sebagai burung keramat, simbol persatuan dan kejayaan. Mandau Talawang menggambarkan keberanian, perlindungan, dan semangat juang. Sedangkan Balanga, melambangkan kebersamaan dan perlindungan dalam kehidupan masyarakat.

“Kelima motif ini paling diminati, baik di tingkat lokal maupun nasional. Motifnya sederhana tapi penuh makna, dan itu yang membuat batik kita berbeda,” jelas Adiah.

Adiah menilai, tantangan terbesar pelestarian batik saat ini adalah keterlibatan generasi muda. Banyak yang menganggap batik hanya cocok untuk acara formal, padahal bisa dikembangkan menjadi busana sehari-hari yang modis.

“Batik Kalteng tidak hanya untuk ibu-ibu atau acara resmi. Dengan desain yang tepat, bisa dipakai remaja, bahkan bisa jadi tren busana modern. Karena itu, generasi muda harus merasa bangga dan menjadikan batik sebagai bagian dari identitas mereka,” tegasnya.

Ia juga menyinggung peluang besar agar batik menjadi pintu promosi pariwisata daerah.

“Dari batik, kita bisa memperkenalkan budaya Dayak, keindahan alam, hingga kekayaan Kalimantan Tengah. Batik adalah etalase budaya kita,” ujarnya.

Adiah menegaskan bahwa pelestarian batik tidak boleh berhenti. Dirinya mendorong anak muda untuk bangga memakai Batik Benang Bintik. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya melestarikan warisan, tetapi juga memperkenalkan identitas Kalteng ke seluruh dunia.

“Setiap tahun kegiatan pelestarian seni dan budaya harus meningkat. Kita ingin menjadikan Kalteng sebagai daerah wisata budaya, dan batik adalah salah satu pintu masuknya,” pungkasnya.

Sejalan dengan pesan Adiah, semangat melestarikan batik juga diwujudkan oleh Yunan Bahtiyar, perajin batik muda asal Pekalongan yang kini menetap di Palangka Raya. Sejak Desember 2022, ia membuka Galeri Batik Kalteng di Jalan Kinibalu.

Meski bukan putra asli Kalteng, Yunan jatuh cinta pada Batik Benang Bintik. Ia mengungkapkan bahwa dua motif yang paling diminati konsumen saat ini adalah Batang Garing dan Burung Tingang.

Sebab menurutnya, motif Batang Garing dan Burung Tingang banyak dicari, memiliki filosofi yang kuat, coraknya indah, dan mudah dipadukan dengan busana modern.

“Saya selalu buat produksi terbatas agar motifnya beragam dan eksklusif. Motif Batang Garing dan Burung Tingang paling banyak dicari konsumen,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).

Selain busana, Yunan juga mengembangkan produk turunan seperti tas, aksesoris, hingga sepatu kombinasi batik.

“Dengan begitu, batik bisa lebih dekat dengan anak muda, bukan hanya untuk acara resmi,” tambahnya.

Namun, ia mengakui tantangan pengrajin tidak ringan, terutama dengan maraknya kain printing impor.

“Sekarang banyak batik printing dari luar negeri, harganya murah tapi kualitasnya beda. Karena itu saya berharap masyarakat lebih menghargai batik asli Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh, menegaskan bahwa batik adalah identitas sekaligus kebanggaan daerah.

“Batik adalah simbol identitas kita sebagai bangsa Indonesia, khususnya bagi Kalimantan Tengah. Aneka corak Batik Benang Bintik mencerminkan kekayaan budaya dan nilai-nilai lokal yang harmonis,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).

Menurut Faridawaty, batik bukan sekadar kain hias, melainkan pesan budaya nonbendawi yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

“Melalui batik, kita bisa mempelajari sejarah, makna motif, dan proses pembuatannya. Itu semua merupakan bagian dari pendidikan budaya,” katanya.

Ia juga menekankan berbagai cara melestarikan batik, mulai dari kebiasaan memakai batik dalam acara formal maupun informal, mendukung pengrajin lokal, hingga memasukkan pelajaran membatik dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

“Kursus membatik gratis di pusat-pusat budaya, museum, atau dinas terkait juga perlu digalakkan. Selain itu, promosi batik harus ditingkatkan, baik di level lokal, nasional, maupun internasional,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, dukungan pemerintah juga menjadi kunci.

“Pemerintah dapat memberikan bantuan langsung kepada pengrajin, menyelenggarakan pameran batik, serta membuat kebijakan agar batik digunakan di berbagai institusi, termasuk kampus dan sekolah,” ujarnya.

Dengan semangat kebersamaan, ia berharap Batik Benang Bintik tidak hanya dikenal sebagai produk busana, tetapi juga sebagai simbol budaya dan identitas masyarakat Kalteng yang diwariskan lintas generasi. (ovi)

Editor : Ayu Oktaviana
#batik #batik kalteng #Pelestarian seni #BATANG GARING #motif batik #kalteng #filosofi #hari batik nasional #Pariwisata Daerah #simbol budaya #warisan budaya #Simbol Identitas #Adiah Chandra Sari #Dayak #lintas generasi #khas dayak #budaya #budaya Dayak #tanaman obat #Benang Bintik #galeri batik