Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Isra Mikraj, Momentum Meningkatkan Kualitas Iman dan Persiapan Menuju Ramadan

Agus Pramono • Kamis, 15 Januari 2026 | 18:00 WIB
Anak belajar mengaji. MASJID AL AKBAR SURABAYA
Anak belajar mengaji. MASJID AL AKBAR SURABAYA

 

PALANGKA RAYA-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, melainkan momentum penting untuk menguji sekaligus menguatkan keimanan umat Islam, terutama dalam meningkatkan kualitas ibadah dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan.

Disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah, Prof. H. Khairil Anwar, Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan.

Ia mencontohkan sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan peristiwa tersebut tanpa ragu, sehingga mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Menurutnya, keyakinan seperti inilah yang menjadi fondasi utama seorang muslim dalam memaknai Isra Mi’raj.

“Isra Mi’raj adalah ujian keimanan. Orang yang membenarkannya dengan penuh keyakinan berarti imannya sudah kuat,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa inti utama Isra Mi’raj adalah diterimanya perintah salat lima waktu. Peristiwa ini, kata dia, menegaskan kedudukan salat sebagai tiang agama dan sarana utama mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Jika Nabi Muhammad SAW dimi’rajkan dan bertemu langsung dengan Allah SWT, maka mi’rajnya umat Islam adalah salat. As-sholatu mi’raajul mu’minin, salat adalah mi’rajnya orang-orang beriman,” jelasnya.

Menurut Prof. Khairil, salat bukan hanya gerakan lahiriah, tetapi juga perjalanan spiritual batin. Melalui salat yang khusyuk, seorang hamba dapat melihat kebesaran Allah SWT dengan mata hati, meski tidak dengan mata kepala sebagaimana Nabi Muhammad SAW.

Ia menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas salat, bukan sekadar menjalankan kewajiban secara rutin.

Salat yang benar, lanjutnya, adalah salat yang menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah SWT dalam setiap gerakan dan bacaan.

“Jangan sampai Isra Mi’raj hanya diperingati secara seremonial, tetapi kualitas salat kita tetap sama. Tantangan kita hari ini justru bagaimana menjaga kekhusyukan salat di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan,” tegasnya.

Dalam kaitannya dengan Ramadan, Ketua MUI Kalteng ini menyebut Isra Mi’raj memiliki hubungan yang sangat erat. Ia menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam Islam banyak terjadi pada malam hari, seperti Isra Mi’raj, malam Nuzulul Qur’an, Nisfu Sya’ban, hingga Lailatul Qadar.

“Malam adalah waktu ketenangan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, Nabi Muhammad SAW mempersiapkan diri menuju Ramadan sejak bulan Sya’ban dengan memperbanyak ibadah,” katanya .

Ia menjelaskan, Ramadan merupakan puncak pembinaan iman yang diawali dengan latihan spiritual sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Salat malam, puasa sunnah, tarawih, hingga i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan rangkaian ibadah yang sejatinya berakar dari makna Isra Mi’raj.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Di Ramadan, ini diwujudkan melalui ibadah salat dan puasa, sekaligus kepedulian sosial lewat zakat dan sedekah,” ujarnya.

Selain itu, Prof. Khairil juga menyinggung nilai toleransi dan silaturahmi dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan tersebut bertemu dan bersilaturahmi dengan para nabi sebelumnya, yang menjadi pesan penting bagi umat Islam untuk menjaga kerukunan, tidak hanya sesama muslim, tetapi juga dengan pemeluk agama lain.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita pentingnya silaturahmi dan kerukunan. Ini sangat relevan untuk menjaga keharmonisan masyarakat, khususnya di Kalimantan Tengah yang majemuk,” pungkasnya.

Terpisah, Ustadz Syaifulah Sahlan menyampaikan, Isra Mi’raj merupakan momentum penetapan salat sebagai pilar utama agama Islam. Salat lima waktu bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana utama bagi seorang muslim untuk membangun hubungan spiritual dengan Allah SWT.

“Jika harus dipilih satu hikmah terbesar dari Isra Mi’raj, maka itulah diterimanya perintah salat lima waktu. Salat menjadi rukun Islam yang wajib dan menjadi panduan hidup umat Islam dalam menjaga keimanan dan ketakwaan,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, salat menjadi satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Isra Mi’raj karena memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Perintah tersebut tidak disampaikan melalui Malaikat Jibril, sebagaimana wahyu-wahyu lainnya.

“Ini merupakan bentuk penghargaan dan kehormatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus penegasan betapa pentingnya salat bagi umat Islam.

Salat adalah simbol kedekatan langsung antara hamba dan Tuhannya,” jelasnya.

Selain itu, Isra Mi’raj juga membuktikan kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas, meningkatkan derajat Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, serta menjadi pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan dakwah.

Menjelang Ramadan, Ustadz Syaifulah mengajak umat Islam untuk mulai memperbaiki kualitas salat sebagai bentuk persiapan spiritual.

Ia menekankan bahwa memperbaiki salat tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi bisa melalui langkah-langkah sederhana.

“Mulailah dengan menjaga salat tepat waktu, memahami bacaan dan maknanya, serta berusaha menghadirkan hati saat salat. Kekhusyukan itu dibangun sedikit demi sedikit,” katanya.

Ia juga menganjurkan agar peringatan Isra Mi’raj tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi diikuti dengan amalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak salat sunnah, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, serta meningkatkan sedekah dan kepedulian sosial sebagai bekal menyambut Ramadan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Syaifulah juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar menjadikan Isra Mi’raj sebagai titik balik perubahan diri ke arah yang lebih baik.

“Gunakan momen ini untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Perbaiki iman, perkuat akhlak, jaga salat, dan jadilah inspirasi bagi orang lain. Kalian memiliki potensi besar untuk membawa perubahan,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai Isra Mi’raj kepada anak-anak.

Menurutnya, keteladanan orang tua dalam menjaga salat dan membiasakan ibadah di rumah akan membentuk karakter religius sejak dini.

“Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari contoh. Jika keluarga dan lingkungan menanamkan kecintaan pada salat, maka nilai Isra Mikraj akan hidup dalam keseharian mereka,” pungkasnya. (zia/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#Zakat dan sedekah #KARAKTER RELIGIUS #agama islam #nabi muhammad saw #kalimantan tengah #bulan suci ramadan #ramadan #Isra Mi’raj #Bulan Rajab #Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah #Peristiwa Isra Mikraj #Abu Bakar Ash Shiddiq #nuzulul quran #Prof H Khairil Anwar