PALANGKA RAYA – Sejak ditinggal wafat ibunya lima bulan lalu, tiga kakak beradik harus berjuang sendiri. Mereka hidup dari belas kasihan orang lain. Jika ada uang yang mereka dapat, mereka pilih uang untuk digunakan biaya ojek online untuk berangkat ke sekolah.
“Jika ada uang, mereka lebih memilih untuk biaya ojol ke sekolah, dibandingkan untuk makan,” cerita Suyatno ketua Paguyuban Wong Ngapak Kalteng, saat ditemui kaltengpos.jawapos.com di Palangka Raya, Rabu (19/8/2026).
Cerita ini disampaikan Suyatno kepada kaltengpos.jawapos.com bersama pengurus lainnya Agus Reres Hamison (sekretaris), Sugiatno (wakil sekretaris) Arif Rahman Hakim (bendahara), saat ditemui kemarin siang.
Awalnya Suyatno mendapat cerita dari istrinya yang merupakan guru SMPN 6 Palangka Raya Jl Seth Adji, bahwa ada seorang siswa perempuan berisial AS telantar karena ibunya meninggal dunia lima bulan lalu.
Baca Juga: Ditinggal Wafat Ibu, Hidup dari Belas Kasihan, Tiga Remaja Putri Sempat Tak Makan Dua Hari
Kemudian pihak sekolah menggalang bantuan. Setelah terkumpul di serahkan dan diantar ke barak di Jalan Meranti III (bukan Ramin III seperti diberitakan sebelumnya), Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut.
Saat mengantar itu baru diketahui, kalau siswa tersebut punya seorang kakak BN yang duduk di kelas 12 SMAN, dan adik NR yang duduk di kelas 6 MIS.
“Mereka tinggal bertiga. Mereka hidup dari bantuan tetangganya dan bantuan. Salah seorang anak sempat sakit. Kami bawa ke dokter untuk berobat. Diketahui, karena si anak terlalu sering makan mie,” ujar Suyatno.
Setelah melihat lansung ke baraknya memang kondisinya memprihatinkan. Akhirnya pengurus Paguyuban Wong Ngapak Kalteng membantu membersihkan barak tempat tinggalnya. Memberikan bantuan untuk keperluan sehari-hari dan sekolahnya.
“Ketiga anak ini harus dibantu. Akhirnya kami dari anggota paguyuban mengumpulkan bantuan. Kemudian saya pasang status, ada yang menghubungi, dan memberikan bantuan. Kami serahkan ke mereka,” cerita Suyatno.
Saat ini mereka bisa bersekolah seperti biasa. Cuma memang kendalanya karena mereka tidak ada alat transportasi, akhirnya mereka harus menggunakan jasa ojek online (ojol) untuk pergi pulang sekolah.
“Jika mereka ada uang, mereka gunakan untuk biaya transportasi ke sekolah dari pada untuk beli makan. Karena di sekolah mereka dapat MBG, jadi makan siang sudah terjamin,” cerita Suyatno yang sehari-hari guru di SMPN 9 Palangka Raya Jl Hiu Putih.
Mereka sangat bersemangat ke sekolah. Setiap jam 4 pagi mereka sudah bangun. Kemudian sebelum jam 6 mereka sudah berangkat sekolah.
Dulu jika tidak punya uang, mereka tidak berangkat sekolah karena tak ada biaya untuk ojol. Karena jarak barak dengan sekolah cukup jauh. Kakak pertama di SMAN 4, yang kedua di SMPN 6, dan yang bungsu di MIS Islamiyah.
Saat ini, tiga anak ini dipindahkan baraknya ke lokasi yang mendekati sekolah. Dibarak baru ini ada yang membimbing mereka, dari anggota paguyuban wong ngapak yang juga tinggal di barak tersebut.
“Kami mengajak para dermawan untuk membantu mereka. Bagi yang ingin membantu, bisa menghubungi kami untuk koordinasi agar bantuan bisa sesuai dengan keperluan mereka. Jangan sampai bantuan yang diberikan mubazir,” ujar Suyatno.
Pengurus Paguyuban Wong Ngapak, kata Suyatno siap menemani yang ingin memberikan bantuan langsung ke si anak. Silakan hubungi ke nomor 081398048342 (Suyatno) , atau nomor 085345529771. (Sugiat). (*)
Editor : Agus Pramono