KALTENG POS – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena kebijakan politiknya, melainkan karena dugaan keracunan makanan yang menyebabkan penundaan sidang kasus korupsinya.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu (21/7), Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi bahwa Netanyahu, 75 tahun, mengalami peradangan usus dan dehidrasi setelah jatuh sakit pada malam sebelumnya.
“Berdasarkan instruksi tim medis, Perdana Menteri akan menjalani istirahat total di rumah selama tiga hari ke depan, namun tetap menjalankan tugas kenegaraan dari kediamannya,” demikian isi pernyataan yang dikutip dari Reuters.
Sidang Kasus Korupsi Netanyahu Ditunda Lagi
Akibat kondisi tersebut, Pengadilan Distrik Yerusalem menunda sidang lanjutan atas kasus dugaan korupsi Netanyahu, yang sedianya digelar Senin (21/7) dan Selasa (22/7).
Menurut laporan Times of Israel, ini bukan pertama kalinya jadwal kesaksian Netanyahu tertunda, yang sejak Desember 2023 sudah beberapa kali molor karena berbagai alasan, termasuk kesehatan.
Tim kuasa hukum Netanyahu yang diwakili Amit Hadad sempat mengusulkan penjadwalan ulang ke Rabu dan Kamis. Namun karena konflik jadwal, pengadilan memutuskan membatalkan seluruh agenda sidang pekan ini.
“Pengadilan tidak bisa hanya menunda, karena tidak ada slot waktu lain yang tersedia minggu ini,” ujar juru bicara pengadilan.
Riwayat Kesehatan Netanyahu Jadi Sorotan
Kondisi kesehatan Netanyahu kini menjadi perhatian serius. Selama dua tahun terakhir, ia telah menjalani serangkaian tindakan medis, termasuk:
- Pemasangan alat pacu jantung (2023),
- Operasi pengangkatan prostat (akhir 2023),
- Operasi hernia (Maret 2024),
- Serta sempat absen karena flu.
Kondisi ini menambah kekhawatiran publik Israel terhadap kemampuan Netanyahu memimpin negara, apalagi di tengah krisis berkepanjangan dengan Hamas di Gaza, ketegangan militer dengan Iran, dan padatnya agenda diplomatik.
Dengan pengadilan memasuki masa reses musim panas hingga 5 September, Netanyahu kemungkinan baru akan kembali bersaksi pada bulan tersebut.
Meski tetap menjalankan roda pemerintahan dari rumah, publik terus memantau apakah kondisi fisiknya mampu menopang beban kepemimpinan di tengah situasi politik dan keamanan yang terus bergolak. ***
Editor : Husrin A. Latif S.Pd