Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Jemaah Haji Asal Kalteng Jalani Umrah Wajib di Bawah Terik Matahari dan Suhu 42 Derajat 

Dea Umilati • Selasa, 12 Mei 2026 | 11:15 WIB
Jemaah haji asal Kalteng ketika melaksanakan umrah wajib ketika tiba di tanah suci Makkah. Kemenag Kalteng
Jemaah haji asal Kalteng ketika melaksanakan umrah wajib ketika tiba di tanah suci Makkah. Kemenag Kalteng

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Suasana khidmat menyelimuti pemondokan jemaah haji asal Kalimantan Tengah di Kota Makkah, Arab Saudi. 

Setelah menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci, para jemaah kini mulai menjalani rangkaian ibadah haji, mulai dari umrah wajib hingga persiapan menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Baca Juga: Kronologi Warga Kotim Kena Tipu Rp450 Juta, Dijanjikan Berangkat Haji 

Di tengah suhu panas ekstrem yang mencapai 42 derajat celsius pada siang hari, ribuan jemaah dari berbagai negara mulai memadati kawasan Masjidil Haram. 

Meski demikian, kondisi jemaah haji asal Kalimantan Tengah dilaporkan tetap sehat dan mampu menjalankan ibadah dengan baik.

Pembimbing Ibadah Kloter 5 BDJ Taufikurrahman, mengatakan jemaah haji Provinsi Kalimantan Tengah yang tergabung dalam Kloter BDJ 03, 04, 05, 06 dan Kloter BDJ 07 seluruhnya diberangkatkan dalam gelombang pertama menuju Madinah Al-Munawwarah.

“Secara keseluruhan sampai saat ini kondisi jemaah dalam keadaan sehat,” ujarnya kepada Kalteng Pos, Senin (11/5/2026).

Baca Juga: Daftar Wisata Kuliner Arab Saudi yang Wajib Dikunjungi Jemaah Haji 2026

Ia menjelaskan, jemaah Kloter 03, 04, 05, dan 06 telah berada di Madinah selama kurang lebih delapan hari untuk melaksanakan rangkaian ibadah dan ziarah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Makkah.

Setibanya di Makkah, para jemaah langsung melaksanakan ibadah umrah wajib yang meliputi tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, hingga tahallul.

Sementara Kloter BDJ 07 masih berada di Madinah dan dijadwalkan menuju Makkah pada Selasa, 12 Mei 2026.

“Masjidil Haram sudah terlihat mulai padat oleh jemaah haji yang mulai berdatangan dari berbagai negara,” katanya.

Seluruh jemaah haji asal Kalteng saat ini ditempatkan di Hotel Al Hidayah Tower 5, wilayah Aziziyah, yang berjarak sekitar 8,5 kilometer dari Masjidil Haram. Lokasi tersebut menjadi pusat aktivitas sekaligus tempat istirahat jemaah selama berada di Makkah.

Baca Juga: Endang, Jemaah Haji Tertua di Kotim: 7 Tahun Menabung dari Upah Mengajar Mengaji dan Jahitan

Cuaca panas ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi para jemaah. Pada pagi hari suhu di Makkah berkisar 29 derajat celsius, sedangkan siang hari diperkirakan mencapai hingga 42 derajat celsius. 

Para petugas haji terus mengingatkan jemaah untuk memperbanyak minum air putih, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta menjaga kondisi fisik agar tetap prima.

“Alhamdulillah untuk Kloter 05 BDJ semuanya termasuk lansia, risti dan disabilitas sudah selesai ibadah umrah wajibnya yaitu pelaksanaan tawaf, sa’i dan tahallul,” tambahnya.

Di tengah padatnya aktivitas ibadah, 26 jemaah pengguna kursi roda dari Kloter BDJ 04 juga berhasil menyelesaikan ibadah umrah wajib di Masjidil Haram. 

Meski memiliki keterbatasan fisik, para jemaah tetap menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan penuh semangat dan kekhusyukan.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Opsi War Tiket Haji, Solusi Atasi Antrean Panjang Jemaah

Pembimbing Ibadah Kloter 4 BDJ, Rusdiannor, mengatakan sebelum keberangkatan menuju Masjidil Haram, pihaknya kembali memberikan pengarahan kepada jemaah mengenai tata cara tawaf, sa’i hingga tahallul agar ibadah berjalan tertib dan sesuai syariat.

“Hal ini dilakukan untuk menyegarkan kembali ingatan jamaah agar ibadah berjalan sesuai syariat dan tetap tertib,” ujarnya.

Pelaksanaan ibadah bagi jemaah lansia, risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas dilakukan dengan pendampingan intensif dari Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), serta petugas Sektor 10 yang menangani pelayanan lansia dan disabilitas.

Prosesi tawaf dan sa’i menggunakan kursi roda berlangsung lancar di tengah kepadatan jemaah dari berbagai negara. Perjuangan para jemaah lansia dan disabilitas tersebut menjadi gambaran kuat tentang semangat spiritual untuk menyempurnakan ibadah haji meski harus menghadapi keterbatasan fisik dan cuaca panas ekstrem.

Baca Juga: Haji dalam Sunyi Pengabdian: Kisah Ketua Kloter Menjaga 360 Tamu Allah di Tanah Suci

Selain fokus pada pelaksanaan ibadah, petugas kloter juga mulai mempersiapkan kebutuhan menjelang puncak haji di Armuzna. Salah satu tahapan penting adalah penyerahan gelang identitas Armuzna oleh pihak muassasah atau syirkah kepada petugas Kloter BDJ 04 di hotel pemondokan jemaah.

Rusdiannor menjelaskan gelang tersebut memiliki fungsi vital selama fase puncak ibadah haji. Selain memuat identitas maktab dan nomor tenda jemaah di Mina dan Arafah, gelang juga menjadi akses resmi untuk mendapatkan layanan katering, transportasi bus salawat, hingga bus antarkota perhajian.

“Gelang ini sangat penting untuk keamanan dan kenyamanan jamaah selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” katanya.

Ia menambahkan, gelang identitas tersebut juga memudahkan petugas dalam melakukan pemantauan apabila ada jemaah yang terpisah dari rombongan di tengah jutaan manusia saat pelaksanaan puncak haji nanti.

Pembimbing Ibadah Kloter 6 BDJ, Siti Habibah juga menambahkan cuaca di Kota Makkah menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi jemaah Indonesia, khususnya yang berasal dari daerah tropis seperti Kalimantan Tengah. 

Baca Juga: Daftar Haji Kado Pernikahan dari Orang Tua, Persiapkan Diri untuk Sempurnakan Agama

Berdasarkan laporan cuaca pada Senin (11/5/2026), suhu udara pada siang hari mencapai 41 derajat celsius dan masuk kategori siaga dua.

Sementara pada sore hari suhu masih berada di angka 37 derajat Celsius, dan malam hari berkisar 34 derajat Celsius. Kondisi panas yang berlangsung hampir sepanjang hari membuat para jemaah diminta lebih disiplin menjaga kesehatan dan mengatur aktivitas. 

"Untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan akibat suhu panas, jemaah diimbau rutin mengonsumsi air putih sekitar 200 mililiter setiap jam, meskipun tidak merasa haus. Petugas kesehatan juga menganjurkan penggunaan oralit guna menjaga cairan tubuh tetap stabil selama menjalankan aktivitas ibadah," jelasnya.

Selain menjaga asupan cairan, jemaah juga diminta menggunakan perlindungan diri saat berada di luar ruangan, seperti payung, masker, sandal yang nyaman, hingga semprotan air untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

"Kami juga mengingatkan agar jemaah membatasi aktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari ketika suhu berada di titik tertinggi. Imbauan ini secara khusus ditujukan kepada jemaah lanjut usia dan jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid agar tidak mengalami gangguan kesehatan selama berada di Tanah Suci," tegasnya.

Di sela-sela ibadah yang padat, para jemaah juga diminta memanfaatkan waktu istirahat dengan baik dan menjaga pola makan secara teratur. Kondisi fisik yang prima dinilai sangat penting mengingat masih banyak rangkaian ibadah yang akan dijalani dalam beberapa pekan ke depan.

Meski harus menghadapi suhu panas yang cukup ekstrem, semangat para jemaah untuk beribadah tetap tinggi. Oleh karena itu, petugas kloter pun terus mendampingi dan memberikan edukasi agar seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan lancar.

“Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah,” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#jemaah lansia #jemaah haji #ibadah haji #Cuaca Panas Ekstrem