MAKKAH – Jemaah haji asal Kalteng mulai mempersiapkan diri menghadapi puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Berbagai pembekalan hingga simulasi teknis terus dilakukan oleh petugas haji guna memastikan seluruh jemaah dapat menjalani rangkaian ibadah dengan aman dan lancar.
Pembimbing Ibadah Kloter BDJ 6, Siti Habibah, mengatakan saat ini masing-masing kloter mengikuti sosialisasi dan pembinaan dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Sektor 10 Mekkah terkait persiapan Armuzna.
“Setiap kloter mengikuti pertemuan bersama petugas sektor 10 dengan materi tentang persiapan manasik Armuzna dan pentingnya menjaga kesehatan. Jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh semangat,” ujarnya, Minggu (18/5/2026).
Menurutnya, persiapan teknis juga mulai dilakukan secara detail untuk mengantisipasi kepadatan saat puncak haji nanti. Bahkan, para ketua kloter 5 hingga 10 telah diajak langsung oleh pihak syarikah Al Bait Guest (BTG) meninjau lokasi Armuzna.
Dalam kunjungan tersebut, ketua kloter memasang spanduk nama masing-masing kloter sebagai penanda tenda agar jemaah tidak salah masuk saat berada di Arafah maupun Mina yang dipadati jutaan jemaah dari berbagai negara.
“Pada kesempatan itu juga syarikah menyerahkan gelang Armuzna yang wajib dipakai seluruh jamaah selama berada di Armuzna,” jelasnya.
Adapun tahapan puncak ibadah haji Armuzna tahun 2026 akan dimulai pada 25 Mei 2026 atau 8 Zulhijjah, di mana seluruh jemaah bergerak dari Makkah menuju Mina. Selanjutnya pada 26 Mei 2026 atau 9 Zulhijjah, jemaah melaksanakan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.
Kemudian pada 27 Mei 2026 atau 10 Zulhijjah yang bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, jemaah melaksanakan lempar jumrah aqabah, penyembelihan kurban, tahalul, hingga tawaf ifadah.
Rangkaian ibadah dilanjutkan pada 28 Mei 2026 atau 11 Zulhijjah dengan pelaksanaan lempar tiga jumrah di hari Tasyrik pertama. Selanjutnya pada 29 Mei 2026 atau 12 D
Zulhijjah menjadi hari Tasyrik kedua sekaligus pilihan bagi jemaah yang mengambil nafar awal untuk kembali lebih cepat dari Mina.
Sedangkan pada 30 Mei 2026 atau 13 Zulhijjah, jemaah yang mengambil nafar tsani akan menyelesaikan hari Tasyrik ketiga sebelum kembali ke Makkah.
Sementara menunggu fase puncak haji, aktivitas jemaah lebih banyak dilakukan di hotel. Bagi jemaah yang sehat, mereka memanfaatkan waktu untuk melaksanakan umrah sunnah dan ibadah di Masjidil Haram. Sedangkan jemaah lanjut usia dan berisiko tinggi disarankan memperbanyak istirahat serta rutin memeriksakan kondisi kesehatan.
Layanan transportasi bus shalawat untuk menuju Masjidil Haram juga disebut berjalan lancar dan tersedia selama 24 jam. Namun khusus pada hari Jumat, layanan sempat dibatasi hanya sampai pukul 08.00 WAS guna menghindari kemacetan di sekitar kawasan Masjidil Haram.
“Jamaah yang belum berangkat ke Masjidil Haram saat Jumat disarankan melaksanakan salat Jumat di sekitar hotel atau musholla hotel,” katanya.
Di sisi lain, pelayanan kesehatan menjadi perhatian serius petugas haji. Pos kesehatan satelit disiapkan di beberapa tower hotel, yakni tower 1, 3, 4, dan 8. Selain itu, dokter dan tenaga medis secara aktif melakukan visitasi ke kamar-kamar jemaah yang melaporkan kondisi kesehatannya.
Siti Habibah mengungkapkan, keluhan kesehatan yang paling banyak dirasakan jemaah saat ini adalah batuk dan flu akibat cuaca serta kelelahan aktivitas ibadah.
“Dokter bersama tenaga medis terus memantau kondisi jamaah. Kebanyakan memang mengalami batuk dan flu,” ungkapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar yang akan dihadapi petugas saat puncak haji nanti adalah proses mobilisasi jemaah menuju Arafah. Sebab, pengaturan bus dilakukan berdasarkan daftar syarikah sehingga jemaah dari berbagai kloter akan bercampur dalam satu kendaraan.
“Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena sebelumnya pendampingan lebih mudah dilakukan berdasarkan kloter masing-masing,” jelasnya.
Selain itu, ia memastikan seluruh proses pembayaran DAM Tamattu bagi jemaah haji asal Kalimantan Tengah telah selesai dilaksanakan di masing-masing kloter. (*)
Editor : Agus Pramono