KALTENGPOS.JAWAPOS.COM - Sejumlah anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat Jepang resmi membentuk koalisi khusus guna mempromosikan industri kartu koleksi atau trading card. Sektor ini kini tengah berkembang pesat dan dinilai memiliki potensi daya saing global yang tinggi.
Kelompok yang beranggotakan 20 orang legislatif tersebut, mengurif ANTARA berfokus untuk menyempurnakan ekosistem industri kartu koleksi. Upaya ini dilakukan melalui perumusan regulasi baru serta penyelesaian berbagai isu krusial, seperti peredaran kartu palsu dan praktik pemborongan untuk dijual kembali demi keuntungan sepihak.
Selain itu, pembentukan koalisi ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi pasar secara keseluruhan. Langkah strategis tersebut diharapkan mampu memperlancar ekspansi industri kartu koleksi asal Jepang agar dapat menembus pasar internasional secara lebih luas.
Kartu-kartu koleksi populer yang memuat karakter dari permainan, manga, dan anime Jepang seperti Pokemon dan Yu-Gi-Oh! semakin digandrungi penggemar internasional dalam beberapa tahun belakangan.
Dalam pertemuan perdana koalisi tersebut pada akhir Juli, anggota DPR Jepang Seiji Kihara yang ditetapkan sebagai ketua koalisi mengatakan, industri kartu koleksi "dapat bersaing secara global", tetapi "pasar yang sehat" juga harus dibentuk.
Sebagai bapak dari anak yang juga mengoleksi kartu permainan, Kihara menambahkan bahwa turnamen dan acara-acara terkait yang digelar di seantero Jepang menekankan peran penting industri kartu koleksi dalam mendorong pembangunan daerah.
Pada pertemuan yang sama, perwakilan dari badan industri dan pejabat dari kementerian ekonomi dan perdagangan Jepang menjabarkan kondisi pasar dan tantangan yang dihadapi sektor kartu koleksi.
Sementara itu, menurut Asosiasi Permainan Jepang, nilai pasar kartu koleksi domestik mencapai 338 miliar yen pada tahun anggaran 2025 yang dimulai bulan April.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan sejak 2017, di mana nilai pasar kartu koleksi ada di angka 88 miliar yen.
Koalisi tersebut mengatakan, nilai aset kartu koleksi yang terus bertumbuh menciptakan masalah baru seperti meningkatnya kartu palsu, penipuan dalam penjualan kartu, serta pemanfaatan kartu koleksi dalam pencucian uang.
Kelompok tersebut juga menekankan pentingnya membentuk sebuah kerangka industri, mengingat upaya perbaikan praktik perdagangan kartu koleksi selama ini masih tergantung pada langkah peritel dan kolektor masing-masing.
(ant)
Editor : Agus Pramono