KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Inggris, Jerman, dan Swedia meminta warganya menyiapkan persediaan darurat di rumah untuk menghadapi situasi ketika layanan publik dan rantai pasok terganggu.
Mengutip berbagai sumber, Inggris mengambil langkah tersebut melalui kampanye nasional Be Ready, yang mengarahkan rumah tangga memiliki bekal kebutuhan dasar setidaknya untuk tiga hari. Pemerintah mengingatkan bahwa keadaan darurat tidak hanya berkaitan dengan konflik bersenjata, tetapi juga banjir, kebakaran hutan, pemadaman listrik, dan terhentinya pasokan air.
Panduan itu mencakup makanan tahan lama, air minum, uang tunai, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, serta alat untuk memperoleh informasi ketika jaringan komunikasi atau listrik mengalami gangguan.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyambut respons masyarakat terhadap imbauan tersebut. Ia menilai persiapan sederhana di tingkat rumah tangga dapat membantu warga menghadapi gangguan yang tidak terduga.
“Ini menggembirakan karena masyarakat mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap menghadapi keadaan darurat. Memiliki sejumlah kebutuhan sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, dapat membantu keluarga menghadapi gangguan, baik akibat banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah. Kita semua bisa berperan dalam membuat Inggris lebih tangguh,” katanya, dikuti Rabu (28/10/2026).
Melalui Be Ready, pemerintah Inggris menyarankan warga menyediakan sekitar tiga liter air minum per orang setiap hari. Artinya, setiap orang perlu menyiapkan setidaknya sembilan liter untuk kebutuhan minum selama tiga hari, di luar air untuk memasak dan keperluan lainnya.
Makanan yang disimpan sebaiknya tahan lama dan dapat dikonsumsi tanpa perlu dimasak, seperti daging, buah, serta sayuran kalengan. Pembuka kaleng juga perlu disiapkan, termasuk makanan khusus bagi hewan peliharaan.
Untuk mengantisipasi pemadaman listrik, pemerintah menganjurkan warga memiliki senter, baterai cadangan, radio bertenaga baterai atau putar manual, serta pengisi daya portabel untuk ponsel. Selimut, kantong tidur, dan pakaian hangat juga masuk dalam daftar perlengkapan darurat.
Persiapan lain meliputi perlengkapan pertolongan pertama, cairan pembersih tangan, tisu basah, uang tunai dalam pecahan berbeda, serta salinan dokumen penting. Warga yang mengonsumsi obat resep secara rutin disarankan memastikan persediaan obat tersedia untuk beberapa hari.
Keluarga dengan bayi perlu menyiapkan popok dan susu formula. Formula siap minum menjadi salah satu pilihan karena kondisi darurat dapat menyulitkan warga merebus air atau mensterilkan botol.
Pemerintah tidak meminta masyarakat membeli seluruh kebutuhan tersebut sekaligus. Persediaan dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit dan disimpan di lokasi yang mudah dijangkau, termasuk ketika rumah mengalami pemadaman listrik.
Imbauan kesiapsiagaan juga diterapkan di Jerman. Pemerintah negara itu menyarankan masyarakat menyimpan kebutuhan pokok untuk menghadapi gangguan yang dapat berlangsung lebih lama, dengan persediaan darurat hingga sepuluh hari.
Air atau cairan yang disiapkan dianjurkan mencapai dua liter per orang setiap hari. Pemerintah Jerman menilai krisis tidak selalu muncul akibat perang, tetapi juga bisa dipicu wabah penyakit pada hewan atau kecelakaan besar di fasilitas teknis yang mengganggu pasokan.
“Selain skenario perang, terdapat pula berbagai krisis di masa damai yang dapat memicu kekurangan pangan dan hambatan dalam rantai pasokan. Contohnya termasuk wabah penyakit pada hewan atau kecelakaan serius pada instalasi teknis berskala besar,” tulis pernyataan resmi Pemerintah Jerman.
Sementara itu, Swedia secara terbuka mengingatkan masyarakat mengenai memburuknya situasi keamanan dan kemungkinan terjadinya serangan bersenjata. Pemerintah negara tersebut juga menyoroti ancaman terorisme, serangan siber, serta penyebaran informasi menyesatkan.
“Perang sedang berlangsung di sudut dunia kita, dan situasi keamanan saat ini merupakan yang paling serius sejak Perang Dunia Kedua. Ancaman teroris, serangan siber, dan penyebaran informasi yang menyesatkan digunakan untuk mencelakai serta memengaruhi kita. Serangan bersenjata terhadap Swedia tidak dapat dikesampingkan,” demikian pernyataan Badan Pertahanan Sipil dan Ketahanan Swedia.
Di Inggris, dorongan memperkuat kesiapsiagaan rumah tangga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap risiko keamanan. Streeting sebelumnya memperingatkan bahwa negara itu perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam tulisannya di The Telegraph, ia menyebut kemampuan militer negara-negara yang berpotensi menjadi lawan Inggris dapat meningkat hingga 2030. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan bersama negara-negara sekutu.
“Kesediaan musuh-musuh kita untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang berubah adalah kemampuan mereka. Pada 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk menyerang,” bunyi tulisan itu.
“Itu berarti kita memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan menang,” lanjutnya.
Kekhawatiran keamanan Inggris juga berkaitan dengan aktivitas drone di sekitar fasilitas militer. Berdasarkan data yang diperoleh melalui permintaan informasi publik, tercatat sekitar 340 insiden keamanan yang melibatkan drone di atau dekat fasilitas Kementerian Pertahanan Inggris hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan 250 insiden sepanjang 2025 dan 126 kasus pada 2024.
Selain itu, Moskow memperingatkan bahwa fasilitas Inggris di Ukraina dapat dianggap sebagai “target yang sah” apabila digunakan untuk mendukung serangan jarak jauh terhadap Rusia.
Persiapan darurat Inggris tidak hanya didorong persoalan keamanan. Gelombang panas dan kekeringan yang melanda negara itu juga memunculkan kekhawatiran terhadap produksi pangan.
Analis bank investasi Shore Capital memperingatkan bahwa rangkaian gelombang panas dan kondisi kering berkepanjangan dapat merusak hasil panen. Situasi tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan bahan pangan dan meningkatkan ketergantungan Inggris terhadap impor.
Serikat Petani Nasional Inggris atau National Farmers Union (NFU) turut menyoroti kondisi yang dialami sektor peternakan. Sejumlah peternak sapi perah dilaporkan telah menggunakan persediaan pakan yang semestinya disiapkan untuk musim dingin karena rumput sulit tumbuh akibat kekeringan. (*)
Editor : Agus Pramono