Desa Sei Pinang Terancam Krisis Air Bersih, Kades Minta Pemerintah Daerah Bergerak 

Hartoyo • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:45 WIB
Beginilah kondisi sungai di Desa Sei Pinang yang surut.(Warga)
Beginilah kondisi sungai di Desa Sei Pinang yang surut.(Warga)

KUALA KAPUAS – Kemarau panjang mulai mengancam ketersediaan air bersih bagi sekitar 700 kepala keluarga (KK) di Desa Sei Pinang, Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas.

Debit sungai terus menyusut, sementara sumur resapan warga mulai mengering.

Kepala Desa Sei Pinang Rintho A Sangkai mengatakan, kondisi air sungai saat ini sudah sangat surut.

Warga terpaksa mencari sumber air ke anak sungai yang masih memiliki sedikit persediaan air.

Namun, jumlah air yang didapat sangat terbatas. Warga hanya mampu membawa beberapa jeriken untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Air sungai sudah surut. Masyarakat mencari air bersih ke anak sungai, itu pun hanya beberapa jeriken saja,” kata Rintho A Sangkai.

Persoalan semakin berat karena air sungai di wilayah tersebut telah terkontaminasi aktivitas pertambangan.

Warga tidak berani menggunakan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi dan hanya memanfaatkannya untuk mandi.

Di sisi lain, sumur resapan warga juga mulai mengering. Jika kemarau masih berlangsung hingga satu atau dua pekan ke depan, masyarakat dikhawatirkan benar-benar mengalami krisis air bersih.

“Kalau kondisi ini berlangsung satu minggu atau dua minggu ke depan, masyarakat benar-benar bisa mengalami krisis air bersih,” ungkap Rintho, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga: Pemadaman Listrik Menghambat Distribusi Air Bersih ke Wilayah Selatan Kotim

Karena itu, Rintho A Sangkai meminta pemerintah daerah segera turun tangan dengan mendistribusikan air bersih ke Desa Sei Pinang.

Bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk minum dan memasak.

“Kami berharap kepada pemerintah daerah (Pemda) dapat mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di wilayah kami untuk kebutuhan minum dan masak,” harapnya.

Dampak kemarau tidak hanya dirasakan dari sulitnya mendapatkan air bersih. Surutnya sungai juga menyulitkan transportasi untuk mengangkut kebutuhan pokok menuju desa.

Kondisi tersebut membuat distribusi barang menjadi lebih sulit dan ikut mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Masyarakat akhirnya harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari.

Rintho A Sangkai berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar selama kemarau berlangsung.(*)

Editor : Agus Pramono
desa sei pinang kapuas krisis air bersih