Asap Pekat Hambat Water Bombing di Kapuas, Penanganan Karhutla Fokus Operasi Darat

Hartoyo • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 07:23 WIB
Helikopter Water Bombing siap beroperasi di Kotim.(Instagram BNPB)
Helikopter Water Bombing belum bisa beroperasi.(Instagram BNPB)

KUALA KAPUAS – Kabut asap menghambat operasi water bombing dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas.

Kondisi tersebut membuat pesawat tidak dapat terbang sehingga penanganan di lapangan diperkuat melalui operasi darat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, operasi darat menjadi faktor utama penanganan karhutla di Kapuas dalam beberapa hari hingga pekan ke depan.

Hal itu disampaikan saat dicegat wartawan setelah rapat koordinasi bersama Bupati Kapuas HM Wiyatno, Kapolda Kalteng, Pangdam XII Tanjungpura dan jajaran terkait di Posko Induk Karhutla BPBD Kapuas, Selasa (22/9/2026) petang.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Bupati Kapuas HM Wiyatno menyerahkan bingkisan kepada petugas Damkar.(Art/Kalteng Pos)
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Bupati Kapuas HM Wiyatno menyerahkan bingkisan kepada petugas Damkar.(Art/Kalteng Pos)

“Operasi darat untuk beberapa hari, beberapa minggu ini menjadi faktor utama,” kata Suharyanto didampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Menurut dia, water bombing di Kapuas belum dapat dilakukan karena jarak pandang tertutup kabut asap. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap penerbangan di Kalimantan Tengah.

Meski demikian, operasi udara tetap dimanfaatkan di wilayah yang memungkinkan. Water bombing dari Pangkalan Bun dan Sampit telah membantu satgas darat melakukan pemadaman di sejumlah lokasi yang terbakar.

“Water bombing yang di Pangkalan Bun dan Sampit itu sudah bisa membantu satgas darat memadamkan tempat-tempat yang terbakar,” jelasnya.

Selain operasi udara, BNPB juga mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Pesawat dari Pangkalan Udara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, dikerahkan untuk mendukung OMC, sementara satu pesawat lainnya digeser ke Pangkalan Bun.

Suharyanto menyebut persoalan sumber air juga menjadi tantangan utama bagi satgas darat.

Untuk mendukung pemadaman, Kodam memiliki sekitar 100 mobil tangki serta flexible water berkapasitas 600 liter yang dapat digunakan apabila diperlukan.

Air dari mobil tangki dapat digunakan untuk mengisi tandon, kemudian dialirkan melalui selang oleh personel satgas darat menuju lokasi kebakaran. Dukungan tersebut menjadi penting ketika kondisi asap membuat operasi udara tidak dapat dilakukan.

Di sisi lain, OMC mulai menunjukkan hasil. Hujan deras dilaporkan turun di kawasan Tumbang Nusa setelah pelaksanaan OMC dari Syamsudin Noor. Hujan tersebut diharapkan membantu pemadaman sekaligus memperbaiki jarak pandang.

Suharyanto menegaskan, pemerintah pusat terus mendampingi pemerintah daerah dalam menangani karhutla. Arahan juga diberikan dalam setiap rapat koordinasi untuk memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan sesuai kebutuhan.

“Kami dari pemerintah pusat terus mendampingi pemerintah daerah. Saat rapat koordinasi, kami memberikan arahan,” tegasnya.(*)

Editor : Agus Pramono
kapuas raja juli antoni Karhutla Kapuas water bombing