VIRAL kasus seorang perempuan muda asal Palembang yang menyamar sebagai pramugari di pesawat Batik Air rute Palembang–Jakarta ternyata memiliki kisah di balik layar yang lebih manusiawi.
Nisya, panggilan akrabnya, mengaku aksinya lahir dari rasa malu kepada keluarga setelah menjadi korban penipuan.
Kanit IV Indag Polres Bandara Soekarno-Hatta, Iptu Agung Pujianto, menceritakan kronologi yang menimpa Nisya. Ia diperkenalkan dengan seseorang yang mengaku bisa membantunya diterima sebagai pramugari.
Nisya berangkat ke Jakarta. Tergiur janji itu dan berharap mewujudkan cita-citanya.
“Kemudian datanglah dia ke Jakarta dan ketemu seseorang yang menawarkan (menjadi pramugari) tersebut,” ujar Agung dalam program Kompas Petang di YouTube Kompas TV, Kamis (8/1/2026).
Oknum tersebut menjanjikan Nisya bisa lolos seleksi dengan syarat membayar uang Rp30 juta. Namun janji itu tidak pernah ditepati, dan orang yang bersangkutan sudah tidak dapat dihubungi.
“Pada dasarnya dia itu korban, yang mana mau masuk (jadi, red) pramugari lalu menyerahkan uang Rp30 juta tapi berujung gagal,” jelas Agung.
Merasa malu dan terpojok, Nisya kemudian memutuskan untuk berpura-pura menjadi pramugari. Ia mengenakan atribut lengkap, mulai dari seragam hingga kartu identitas sekolah pramugari Batik Air, dan bahkan memosting foto di media sosial.
Tujuannya, agar keluarganya percaya bahwa dirinya telah berhasil menjadi pramugari. Nisya sendiri juga diketahui tidak fasih Bahasa Inggris. Itulah salah satu hal yang membuatnya ketahuan.
“Bahkan sempat memposting di media sosialnya dan berfoto-foto bareng orang tuanya dengan mengenakan pakaian pramugari lengkap,” ujar Agung.
Peristiwa ini sempat membuat publik terkejut karena Nisya berhasil masuk ke pesawat Batik Air dan ikut terbang sebagai pramugari gadungan.
Meski aksinya viral, pihak maskapai menegaskan bahwa Nisya bukan karyawan dan tidak berwenang bertindak atas nama Batik Air.(ram)
Editor : Ayu Oktaviana