Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Santri di Pati Tak Hanya Jadi Korban Asusila, Uang dan Tenaga Disebut Terkuras

Miftahul Ilma • Selasa, 5 Mei 2026 | 13:45 WIB
Ilustrasi asusila oleh Kiai di pondok pesantren Kabupaten Pati.
Ilustrasi asusila oleh Kiai di pondok pesantren Kabupaten Pati.

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Aksi bejat seorang oknum Kiai di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, bikin warga geram.

Pasalnya, ia memakai isu agama guna memuaskan hasrat nafsunya kepada puluhan santriwati. 
Namun tak hanya itu, selain dilecehkan, para korban juga menderita kerugian materi.

Mantan pengikut bernama Shofi angkat bicara. Ia mengaku pernah berada dalam lingkaran dekat pelaku selama sekitar satu dekade, dari 2008 hingga 2018.
Menurut Shofi, selama itu ia tidak hanya mengabdikan tenaga, tetapi juga mengeluarkan banyak materi untuk kepentingan pesantren.

“Menjadi korban dalam harta benda. Pada 2008 itu kerja gotong royong siang dan malam hari, nggak dibayar. Malah kalau punya uang, disetorkan sama dia,” kata Shofi kepada awak media pada Sabtu, (2/5/2026) mengutip Jakarta.suaramerdekadotcom. 

Ia bahkan mengaku pernah diminta menyembunyikan keberadaannya dari keluarga demi tetap berada di lingkungan tersebut.

“2008 itu saya disuruh ngaku sama orang tua saya kalau mondok di tempat lain biar uang dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini,” imbuhnya.

Kerugian yang dialami, menurutnya, sulit dihitung karena berlangsung dalam waktu lama, termasuk tenaga yang dikeluarkan saat pembangunan fasilitas ibadah.

“Tak terhitung mas. Tenaga aja pas bangun musala itu siang dan malam terus-terusan. Itu banyak yang seperti itu,” sambunnya.

Shofi juga menyebut pernah menjual tanah pribadi dan menyerahkan hasilnya kepada pelaku.
Selain persoalan materi, ia menyoroti adanya ajaran yang menurutnya menyimpang. Ia mengaku dahulu mempercayai pelaku sebagai sosok dengan kemampuan khusus.

“Saya anggap dia itu Wali Allah, dia tau semuanya. Mbah saya akan meninggal sampai jamnya dia tahu. Adik saya akan melahirkan jam 11 malam suruh telepon, dia ngasih tau jam dan nama,” jelasnya.

Dalam praktik sehari-hari, Shofi mengaku melihat langsung perilaku yang dinilai tidak wajar terhadap para santri.

“Pelaku menyimpang ya paling salaman itu tadi. Istri saya juga begitu, dicium pipi kanan-kiri, jidat, dan bibir. Banyak santri yang dibegitukan, hampir semuanya,” terangnya.

Ia menyebut tindakan tersebut kerap terjadi di hadapan orang lain, namun jarang mendapat penolakan karena kuatnya pengaruh pelaku.

“Doktrinnya itu, dunia dan seisinya itu nur (cahaya) Kanjeng Nabi. Itu benar, tapi terus ditandai dirinya sendiri, dibilang dunia ini halal untuk Nabi dan keturunan Nabi,” ujarnya.

Bahkan, ia mengaku pernah diminta memberikan izin jika istrinya hendak dinikahi oleh pelaku.
Selain itu, Shofi juga melihat interaksi fisik lain seperti merangkul santri dalam berbagai kesempatan.
“Itu didiamkan karena orangnya mengaku Khariqul ‘Adah, punya kemampuan,” lanjutnya.

Sementara itu, kuasa hukum korban, Ali Yusron, mengungkapkan bahwa laporan awal berasal dari sejumlah santriwati yang berani mengadu.

“Korban yang mengadu itu ada delapan orang. Sebetulnya dari keterangan saksi, korban lebih dari 30 sampai 50 santriwati di bawah umur, kelas 1 kelas 2 SMP,” kata kuasa hukum korban, Ali Yusron.

Ia menjelaskan pola awal dugaan tindakan tersebut bermula dari komunikasi yang dilakukan pelaku kepada korban pada waktu tertentu.

“Kronologi awalnya itu pengasuh ponpes ini menghubungi santriwati pada jam 12 malam untuk menemani tidur. Korban menolak, tetapi diancam kalau tidak mau, saya ganti, saya keluarkan,” tukasnya.

Kasus ini diduga berlangsung dalam kurun waktu cukup panjang, yakni sejak 2024 hingga 2026. Pihak kuasa hukum memperkirakan jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring proses penyelidikan yang berjalan. (*)

Editor : Agus Pramono
#kiai cabul #kiai pati #korban kiai pati