Blak-blakan Korban Kiai Ashari Pati: Awalnya Disuruh Mijit, Ujung-Ujungnya Disuruh Melayani Nafsunya
Agus Pramono• Jumat, 8 Mei 2026 | 11:15 WIB
Korban Kiai Ashari. YouTube/Denny Sumargo
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Kelakuan Kiai Ashari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, benar benar diluar nalar. Seakan tak takut dengan azab Tuhan. Pria yang sudah berumur itu tega melakukan pelecehan terhadap puluhan santriwatinya dengan dalih agama.
Padahal, dalam ajaran Agama Islam, prilaku tersebut adalah perilaku yang salah, menyimpang dan diharamkan agama.
Dengan akal liciknya, pelaku berhasil memperdaya korban dengan dalih agama hingga korban mengira itu hanya bentuk kepatuhan seorang santri kepada guru.
Dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo yang tayang Kamis, (7/5/2026), korban mengaku dipanggil saat malam hari, diminta memijat, diajak ziarah hingga selawatan dianggap sebagai hal biasa di lingkungan pondok.
Namun perlahan, semua itu berubah menjadi pengalaman yang mengguncang psikis korban.
Korban dugaan pelecehan oleh seorang oknum pengasuh pondok pesantren mengungkapkan, perlakuan yang diterimanya tidak terjadi sekaligus, melainkan bertahap hingga akhirnya mengarah pada tindakan yang dinilai sudah melewati batas.
“Awal mulanya ya disuruh mijeti. Tiba-tiba dipanggil mijet. Terus dicium (pipi kanan dan kiri),” ungkap korban.
Korban mengaku kerap diajak mengikuti kegiatan ziarah dan selawatan. Karena statusnya sebagai santri, ia mengaku tidak memiliki rasa curiga sedikit pun.
“Kita enggak ada kecurigaan. Karena santri melekatnya harus tawadu,” katanya.
Namun setelah kegiatan itu selesai, korban sering diminta menemani pelaku tidur di kamar meski tak melakukan apapun. Menurut korban, kiai tersebut berdalih semua itu merupakan bagian dari terapi spiritual atas perintah seorang guru Thariqah.
Thariqah (tarekat) sendiri adalah jalan, metode, atau sistem bimbingan spiritual dalam Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah serta menekankan aspek Ihsan (penyucian jiwa).
“Katanya saya banyak penyakit iri, dengki, banyak fitnah. Obatnya gini katanya. Salah satunya tidur bareng,” ujarnya.
Korban mengaku sempat merasa ada yang tidak wajar, namun ketakutan membuatnya memilih diam. Terlebih keluarganya juga dikenal dekat dengan lingkungan pondok.
“Aku merasa ini enggak benar, tapi aku enggak bisa apa-apa. Soalnya bapak juga percaya sama situ, bapak juga ngurus di situ,” ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, nafsu kiai itupun mulai bergejolak. Korban mengaku pernah dipaksa melakukan tindakan seksual menyimpang dengan dalih ritual agar diakui dalam sanad Thariqah.
“Pernah satu kejadian itu pak kiai suruh ngem*t. Biar nanti ada darah daging di tubuh saya,” katanya.
Korban menyebut tindakan tersebut bukan hanya sekali terjadi, tetapi hingga 10 kali. Selama itu pula ia hidup dalam tekanan dan rasa takut.
Korban pernah mencoba bercerita kepada kakaknya. Kakak korban diketahui juga merupakan santri di ponpes tersebut. Cerita itupun sampai ke telinga pelaku dan membuat pelaku marah.
“Kok cerita gitu, wong itu disuruh guru thoriqoh,” kata korban menirukan ucapan pelaku saat memarahinya.
Menurut korban, banyak santri lain sebenarnya ingin berbicara. Korban dari prilaku tak senonoh itu bahkan diperkirakan berjumlah puluhan.
“Kalau korban mau speak up itu banyak,” ujarnya.
Saat ini pelaku sudah diamankan pihak kepolisian usai sempat kabut. Ia diduga sempat berpindah-pindah daerah untuk menghindari kejaran aparat hingga akhirnya ditangkap di Wonogiri. (*)