Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Santriwati di Pati Mengaku Pernah Dipukul Jika Dinilai Membangkang, Diancam Putus Sanad Jika Mengadukan Aksi Cabulnya

Miftahul Ilma • Jumat, 8 Mei 2026 | 13:00 WIB
Korban Kiai Ashari curhat pengalamannya. YouTube/Denny Sumargo
Korban Kiai Ashari curhat pengalamannya. YouTube/Denny Sumargo
 
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Aksi AS, oknum kiai cabul di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah tak hanya melakukan pencabulan terhadap santriwatinya. Ia juga diduga pernah melakukan pemukulan terhadap para santriwatinya. 
 
Dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo yang tayang Kamis, (7/5/2026), salah seorang korban mengungkapkan, perlakuan kasar dari oknum tersebut terjadi kepada santri yang dianggap tidak patuh. Bahkan, menurut korban, pemukulan bisa terjadi hanya karena santri dinilai membantah atau tidak mengikuti keinginan pelaku.
 
Baca Juga: Blak-blakan Korban Kiai Ashari Pati: Awalnya Disuruh Mijit, Ujung-Ujungnya Disuruh Melayani Nafsunya
 
“Di sana itu keras. Kalau di situ itu kalau tidak benar langsung dipukul sama oknum tadi,” ujar korban.
 
Korban mengatakan, posisi pelaku di lingkungan pondok yang merupakan pembuat dan pendiri yayasan membuat tidak ada santri lain yang berani melawan. Sosoknya disebut memiliki pengaruh paling besar dibanding pengurus lainnya.
 
“Yang lain enggak dibolehin sama oknumnya. Jadi dia paling tinggi,” katanya.
 
Aksi oknum kiai cabul itu diketahui terjadi bertahap. Ia biasanya mengajak santriwati untuk ziarah atau selawatan. Usai itu, santriwati yang diajak diminta untuk menemani tidur. Lambat laun, oknum itupun melakukan pencabulan. 
 
Korban mengaku kerap merasa takut saat dipanggil atau diminta datang ke kamar pelaku. Namun di sisi lain, mereka juga khawatir dianggap melawan guru jika menolak.
 
Baca Juga: Kiai Ashari Pati Ditangkap! Wajahnya Sekilas Sedikit Babak Belur
 
“Kadang mau kadang enggak. Jadi gak tidur beneran. Cuma nutup mata taukut diapa-apain,” ungkapnya.
 
Menurut korban, budaya hormat terhadap guru menjadi alasan banyak santri memilih diam. Apalagi setiap tindakan pelaku selalu dikaitkan dengan ajaran Thariqah. 
 
Korban bahkan pernah mencoba bercerita kepada keluarganya. Namun cerita itu justru sampai ke telinga pelaku dan berujung teguran l.
 
“Dulu pernah cerita ke kakak. Tapi akhirnya ketahuan. Terus kami dipanggil dan dimarahi,” katanya.
 
Korban mengaku saat itu pelaku menyebut perlakuan tersebut merupakan perintah guru Thariqah. Bahkan santri disebut diancam akan putus sanad (jalur keilmuan) jika membicarakan kejadian di dalam pondok kepada orang lain.
 
Baca Juga: Modus Kiai Cabul di Pati: Mengaku Wali, Kerap Mencium Korban di Depan Umum
 
“Kata dia nanti sanadnya diputus kalau cerita,” ujarnya.
 
Kuasa hukum korban, Ali Yusron, menyebut tekanan psikologis dan ancaman penyebaran aib menjadi faktor korban sulit melawan.
 
Korban yang melapor sempat dijanjikan akan dipekerjakan jika tidak melapor. 
 
“Korban ini takut. Ada yang diintimidasi, bahkan ada ancaman akan dibuka aibnya kalau melapor,” kata Ali.
 
Ia menambahkan, dugaan kekerasan dan penyimpangan di lingkungan tersebut sebenarnya bukan isu baru. Menurutnya, kasus serupa pernah mencuat bertahun-tahun lalu.
 
“Dulu sekitar 2009 pernah didemo. Tahun 2011 muncul lagi dengan kasus yang sama,” tandasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana
#kiai cabul #kiai ashari #Pondok Pesantren Ndholo Kusumo #pencabulan