Bikin Merinding dan Sedih! Pengakuan Badut Penjual Balon di Mojokerto yang Aniaya Istri dan Habisi Mertua
Miftahul Ilma• Sabtu, 9 Mei 2026 | 11:20 WIB
Satuan, badut dan penjual balon jadi tersangka pembunuhan mertua dan aniaya istri.Instagram/@kabarmojokerto
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Langkahnya sehari-hari tak jauh dari jalanan. Mengenakan kostum badut sambil menjajakan balon dan mainan anak-anak, Satuan atau S (43) mengaku rela kehujanan hingga berjalan kaki demi menghidupi keluarga kecilnya. Namun di balik pekerjaannya yang sederhana, tersimpan kisah rumah tangga yang perlahan runtuh.
S, kini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya usai ia diduga membunuh ibu mertuanya Siti, dan melukai istrinya Sri Wahyuni atau Yuni di Mojokerto, Jawa Timur.
Polisi menyebut peristiwa berdarah itu bermula dari cekcok rumah tangga yang dipicu persoalan hubungan suami istri hingga dugaan perselingkuhan.
Di hadapan polisi, S mengaku sudah lama mengetahui istrinya yang sudah ia nikahi sejak 2020 itu diduga memiliki pria lain.
Tetapi ia memilih diam dan bertahan demi anak mereka yang masih kecil. Ia dan istrinya memang berstatus janda dan duda kala itu.
“Saya masih cinta (istri) pak. Sebetulnya saya tahu sejak lama kalau istri selingkuh. Tapi saya ikuti alurnya saja, saya diamkan,” ucapnya, mengutip video Kabar Mojokerto, Sabtu (9/5/2026).
Pria itu mengaku sakit hati bukan semata karena perselingkuhan, melainkan karena merasa perjuangannya selama ini tak pernah dianggap. Ia mengaku tetap bekerja sambil menggendong anaknya karena tidak ada yang menjaga di rumah.
“Saya kerja bawa anak kecil, hujan kehujanan, panas kepanasan. Kadang jalan kaki dari Mojosari sampai rumah,” katanya.
Beberapa waktu lalu, ia bahkan membawa anaknya pergi hingga tiga hari ke Surabaya untuk bekerja. Di perjalanan, banyak orang bertanya keberadaan ibu si anak karena balita itu terus menempel kepadanya.
“Sampai ada yang tanya, ibunya ke mana,” ujarnya.
Menurut pengakuannya, sang istri hanya mau mengurus anak apabila seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi secara terpisah. Mulai uang belanja, biaya sekolah, hingga kebutuhan pribadi disebut harus tersedia sendiri-sendiri.
“Istri bilang mau ngasuh kalau semuanya dipenuhi. Uang belanja sendiri, uang sekolah sendiri, uang perawatan sendiri,” tuturnya.
Padahal, sebagai badut jalanan dan penjual balon, penghasilannya tidak menentu setiap hari. Kondisi ekonomi itu disebut menjadi salah satu pemicu keretakan rumah tangga mereka.
“Penghasilan saya enggak tentu. Mungkin akhirnya dia cari yang lebih beruang,” katanya.
S juga mengaku paling terpukul memikirkan anaknya yang masih balita. Selama berada di tahanan, ia mengaku sulit tidur karena terus teringat sang anak.
“Yang bikin enggak bisa tidur itu kepikiran anak saya terus,” ujarnya.
Ia mengaku menghabisi mertuanya Siti karena panik saat kepergok menganiaya istrinya.
"Spontan Pak, iya (panik). Karena mertua datang makanya saya langsung ambil pisau di dapur," ungkapnya, mengutip berbagai sumber.
Meski demikian, di balik kasus pidana yang kini menjeratnya, pengakuan S tentang perjuangannya mengasuh anak sambil bekerja di jalanan meninggalkan sisi lain yang menyita perhatian publik.(*)