Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Mengenal Toxic Relationship dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Remaja

Anisa Bahril Wahdah • Selasa, 30 September 2025 | 20:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

FENOMENA toxic relationship kian mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja. Banyak yang terjebak dalam hubungan tidak sehat hingga berujung pada depresi, kecemasan, bahkan trauma emosional.

Alih-alih menjadi ruang aman, hubungan justru berubah menjadi sumber luka batin yang menggerogoti kesehatan mental generasi muda.

Dilansir dari Alodokter dan Halodoc, toxic relationship diartikan sebagai interaksi yang dipenuhi perilaku merusak.

Wujudnya bisa berupa kritik berlebihan, pelecehan emosional, hingga pengabaian.

Hubungan beracun ini dapat terjadi dalam percintaan, keluarga, maupun pertemanan.

Dampak paling nyata terlihat pada kesehatan mental remaja. Mereka yang terperangkap di dalamnya rentan mengalami stres berkepanjangan, depresi, hingga gangguan kecemasan.

Komunikasi tidak sehat menjadi pemicu utama: kritik yang menjatuhkan, hinaan, dan ketidakmauan untuk mendengarkan perlahan mengikis rasa percaya diri.

Akibatnya, hubungan yang seharusnya memberi dukungan malah berubah menjadi tekanan.

Dalam jangka panjang, remaja berisiko terisolasi dari lingkungannya. Banyak yang menutup diri, enggan berinteraksi, dan larut dalam kesepian—kondisi yang semakin memperparah masalah mental yang ada.

Tak hanya itu, harga diri mereka pun bisa runtuh. Perlakuan merendahkan secara terus-menerus menumbuhkan rasa tidak berharga, menimbulkan keraguan pada kemampuan diri, bahkan memadamkan keyakinan untuk meraih cita-cita.

Penelitian dalam Journal of Affective Disorders mengungkap, toxic relationship terbukti meningkatkan risiko stres dan kecemasan.

Sebaliknya, hubungan yang sehat mampu menghadirkan rasa aman, kenyamanan emosional, serta motivasi untuk berkembang.

Dampak lain yang tak kalah berbahaya adalah hilangnya kebiasaan positif. Banyak remaja mulai meninggalkan rutinitas olahraga, pola tidur sehat, hingga perawatan diri.

Bahkan, sebagian besar mengabaikan kebersihan pribadi karena terlalu larut dalam energi negatif.

Toksisitas dalam hubungan bisa memicu pola pikir negatif. Energi negatif yang terbawa ke kehidupan sehari-hari membuat remaja memandang dunia dengan pesimis dan penuh tekanan.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini. Ciri-cirinya dapat berupa pelecehan verbal, Kekerasan fisik, rasa cemburu berlebihan, selalu dikontrol oleh pasangan, selalu dicurigai dan dikekang, hingga kurangnya dukungan emosional dari pasangan.

Untuk mengatasi toxic relationship, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui bahwa hubungan yang dijalani memang termasuk kategori tidak sehat.

Setelah itu, penting untuk mengevaluasi kembali diri dengan menanyakan, “Apakah hubungan ini membuat saya kehilangan rasa percaya diri dan merasa tertekan?” Sikap asertif juga dibutuhkan, yakni dengan berani mengkomunikasikan perasaan secara jujur dan tegas.

Dampak lain yang tak kalah berbahaya adalah hilangnya kebiasaan positif. Banyak remaja mulai meninggalkan rutinitas olahraga, pola tidur sehat, hingga perawatan diri.

Bahkan, sebagian besar mengabaikan kebersihan pribadi karena terlalu larut dalam energi negatif.

Toksisitas dalam hubungan bisa memicu pola pikir negatif. Energi negatif yang terbawa ke kehidupan sehari-hari membuat remaja memandang dunia dengan pesimis dan penuh tekanan.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini. Ciri-cirinya dapat berupa pelecehan verbal, Kekerasan fisik, rasa cemburu berlebihan, selalu dikontrol oleh pasangan, selalu dicurigai dan dikekang, hingga kurangnya dukungan emosional dari pasangan.

Untuk mengatasi toxic relationship, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui bahwa hubungan yang dijalani memang termasuk kategori tidak sehat.

Setelah itu, penting untuk mengevaluasi kembali diri dengan menanyakan, “Apakah hubungan ini membuat saya kehilangan rasa percaya diri dan merasa tertekan?” Sikap asertif juga dibutuhkan, yakni dengan berani mengkomunikasikan perasaan secara jujur dan tegas. (jpg/abw)

Editor : Ayu Oktaviana
#pelecehan verbal #Emosional #kekerasan fisik #pelecehan #kecemasan #toxic relationship #perawatan diri #kesehatan mental #hubungan