Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Fenomena Gagal Ginjal Serang Usia Muda, Menahan Buang Air Kecil hingga Konsumsi Sumplemen Sembarangan

Agus Pramono • Senin, 17 November 2025 | 09:40 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Regy Pradityo Adhie saat Podcast Ruang Redaksi. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Regy Pradityo Adhie saat Podcast Ruang Redaksi. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

PALANGKA RAYA-Gagal ginjal terus meningkat di Indonesia, bahkan fenomena ini kini mulai menyerang usia muda. 

Bukan hanya karena faktor genetik atau penyakit berat, tapi juga akibat gaya hidup yang diabaikan seperti kurang minum air putih, menahan buang air kecil, hingga konsumsi suplemen tanpa pengawasan dokter. 

Semuanya bisa menjadi awal dari bencana pada organ vital yang biasa disebut dengan istilah buah pinggang ini.  

“Fungsi ginjal itu menyaring racun dalam tubuh. Kalau kita kurang minum air putih, kerja ginjal jadi lebih berat,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Regy Pradityo Adhie saat berbincang di Podcast Ruang Redaksi, Rabu (12/11/2025). 

Dijelaskan dr Regy, penyakit gagal ginjal saat ini tidak lagi bisa hanya di kategorikan sebagai penyakit orang dewasa usia lanjut atau orang tua yang sudah tua. 

Gagal ginjal sekarang bahkan sudah merambah ke usia produktif bahkan sangat belia yang masih di kisaran 20-40 tahun.

 Ini menjadi warning bagi tim kesehatan dan masyarakat dalam menjaga pola hidup dan pola makan yang masuk ke tubuh akan sangat berdampak.

Ia menegaskan bahwa setiap orang memerlukan minimal dua liter air putih setiap hari agar proses filtrasi berjalan optimal. Bila tubuh kekurangan cairan, saringan kecil di ginjal akan cepat lelah. 

Menurutnya, tanda-tanda gagal ginjal sering kali tidak terasa. Ginjal mampu beradaptasi hingga batas tertentu, sehingga seseorang bisa terlihat sehat padahal fungsi ginjalnya sudah menurun. 

“Pernah ada pasien saya datang dengan kondisi tampak sehat. Tapi setelah diperiksa, ternyata sudah mengarah ke penyakit ginjal kronis,” tutur dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Doris Sylvanus Palangka Raya ini.  

Dokter yang dikenal ramah ini menjelaskan, hasil laboratorium menjadi kunci untuk mendeteksi dini. Peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah selama tiga bulan berturut-turut bisa menjadi indikasi gagal ginjal. 

Namun gejala klinis seperti kaki bengkak, sering lelah dan frekuensi buang air kecil yang berkurang juga harus diwaspadai.

Kebiasaan buruk yang merusak ginjal.
Kebiasaan buruk yang merusak ginjal.

Menariknya, banyak yang masih salah kaprah soal penyebabnya. Salah satunya, kebiasaan menahan buang air kecil. 

“Kalau sesekali mungkin tidak masalah, tapi kalau sering, bisa memicu infeksi saluran kemih. Kalau infeksinya menimbulkan batu dan batunya menyumbat saluran kemih, itu baru bisa menyebabkan gagal ginjal,” ujar dr Regy sambil menegaskan bahwa risiko tersebut terjadi secara tidak langsung.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa orang yang memiliki satu ginjal pun masih bisa hidup normal asalkan pola hidupnya disiplin. 

“Satu ginjal cukup asal dijaga betul. Jangan kurang minum, jangan sembarangan konsumsi obat, dan kontrol tekanan darah,” katanya.

Suplemen dan obat penambah massa otot juga menjadi sorotan. Banyak yang tidak sadar bahwa kandungan protein tinggi dan zat steroid pada suplemen bisa memperberat kerja ginjal. 

“Jangan asal ikut-ikutan. Kalau mau pakai suplemen, konsultasikan dulu dengan dokter,” pesannya.

Data kesehatan juga menunjukkan hal serupa. Berdasarkan riset BPJS tahun 2023, dua penyebab terbesar gagal ginjal di Indonesia adalah hipertensi dan diabetes. 

“Hipertensi itu nomor satu, disusul kencing manis. Dan ini bukan cuma menyerang usia tua, sekarang banyak yang masih berusia 20-an,” ungkapnya prihatin.

dr. Regy mencontohkan, dua dari tiga pasien gagal ginjal yang ia tangani justru berusia muda. “Ada yang 22 tahun, 24 tahun. Bahkan ada yang terkena karena minum obat pelangsing herbal yang tidak terdaftar di BPOM. Berat badan memang turun, tapi ginjalnya rusak,” ujarnya.

Ia pun menyayangkan masih banyak pasien yang baru mengetahui dirinya gagal ginjal setelah kondisinya parah. 

“Mereka baru datang ketika sudah sesak, jantung bengkak, kaki bengkak. Padahal kalau dari awal diperiksa, bisa dicegah,” katanya.

Di Rumah Sakit Doris Sylvanus sendiri, jumlah pasien gagal ginjal menunjukkan tren meningkat, namun kesadaran masyarakat juga mulai membaik. 

“Sekarang banyak pasien yang bilang, dok, jangan sampai saya cuci darah. Itu artinya mereka sudah mulai waspada,” ucapnya dengan senyum kecil.

Tindakan medis untuk gagal ginjal lanjut, menurutnya, hanya ada tiga pilihan: cuci darah, cuci darah perut (CAPD), atau transplantasi ginjal. 

Di RS Doris Sylvanus, dua metode pertama sudah tersedia. Dalam sesi santai podcast, dr. Regy juga menyinggung kebiasaan minum kopi yang digemari masyarakat. Ia mengutip anjuran WHO, bahwa konsumsi kopi sebaiknya dibatasi maksimal tiga cangkir kecil per hari. 

“Kopi boleh, asal jangan berlebihan. Dan jangan lupa, kopi membuat kita sering buang air kecil. Kalau lupa minum air putih, bisa dehidrasi dan merusak ginjal,” jelasnya.

Meski air putih adalah kunci, bukan berarti harus diminum berlebihan. “Ada juga pasien yang minum air sampai delapan liter sehari dan malah tidak sadar karena kadar ion dalam tubuhnya turun. Jadi yang sedang-sedang saja. Dua sampai tiga liter sudah cukup,” katanya sambil tertawa ringan.

Menutup perbincangan, dr Regy mengingatkan pentingnya mencintai tubuh sendiri. Ia mengatakan bahwa sehat tidak harus dari hal yang sulit tapi mulailah dari hal sederhana, contohnya cukup minum air putih, jaga pola makan, olahraga teratur, dan jangan malas kontrol kesehatan. 

Ia berharap masyarakat Kalimantan Tengah semakin sadar bahwa gagal ginjal bukanlah takdir semata, tapi bisa dicegah sejak dini. 

“Lebih baik mencegah daripada harus cuci darah seumur hidup,” ujarnya menutup dengan senyum penuh makna. (*afa/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#cuci darah #kopi #pola makan #diabetes #kalimantan tengah #menahan buang air kecil #infeksi saluran kemih #gagal ginjal #dr Doris Sylvanus Palangka Raya #gejala klinis #gaya hidup