Suasana ruang rekaman Podcast Ruang Redaksi siang itu tampak hangat bersama dr Maria Nainggolan, Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr Doris Sylvanus (RSDDS) membahas topik yang sering dianggap sepele, tetapi diam-diam mengancam banyak orang, hipertensi. Perbincangan ini juga bisa disaksikan di Kanal YouTube Kalteng Pos.
FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya
PEREMPUAN yang berprofesi sebagai dokter penyakit dalam ini menyebut bahwa hipertensi terjadi tidak disebabkan oleh satu atau dua faktor, dan tekanan pada setiap tubuh manusia berbeda-beda.
Orang yang terbiasa dengan tensi rendah diminta menaikkan tensi agar normal bisa merasa pusing atau bahkan sebaliknya.
Dengan nada tenang, ia berkata bahwa normal pada tiap tubuh kita berbeda dan kemampuan penyesuaian itulah yang membantu kita bertahan dengan tensi.
“Tekanan darah 120/80 itu normal. Tapi kalau sudah 120 ke 130, naik ke 140, itu masuk normal tinggi. Sedangkan 90 ke atas sudah disebut hipertensi,”ujarnya, Jumat (14/11/2025).
Ia menekankan bahwa pemeriksaan pun tidak cukup sekali. Minimal dua kali dalam dua waktu berbeda untuk memastikan seseorang benar-benar hipertensi. Maria mengatakan bahwa hipertensi tidak selalu punya sebab tunggal. Ada yang disebut hipertensi primer yang muncul tanpa penyebab yang jelas dan hipertensi sekunder. Ia menjelaskan bahwa tekanan darah bisa melonjak akibat gangguan organ lain.
“Misalnya ada penebalan dinding pembuluh darah atau gangguan ginjal, kerusakan jantung atau gangguan hormonal. Itu semua bisa jadi penyebab hipertensi sekunder,” terangnya.
Yang mengejutkan, hipertensi kini tidak lagi hanya menyerang usia lanjut. Anak muda usia 20–30 tahun kini banyak yang mengalaminya, dr. Maria menyebutkan bahwa temuan itu cukup sering muncul saat pemeriksaan bahkan pada usia 19 tahun ke atas. Secara tidak langsung ia menyebut gaya hidup sebagai faktor dominan.
Klasifikasi hipertensi pun memiliki tingkatan tertentu. Ia menjelaskan secara rinci bahwa hipertensi derajat 1 berada di angka 140–159, derajat 2 pada 160–180, dan di atas itu sudah masuk kategori urgensi. Semua kategori itu tetap masuk hipertensi dan perlu waspada.
Salah satu topik yang ramai dibahas adalah konsumsi garam dan micin. Banyak yang mengira micin hanya penyedap rasa, padahal kandungannya sama dengan garam.
“Yang direkomendasikan itu satu sendok teh per hari. Kalau ada sodium atau natrium di komposisi, itu tetap dihitung sebagai garam,” ujarnya menegaskan.
Isu lama tentang micin yang dikaitkan dengan kebodohan pun dibantahnya. Ia menyebut konsumsi tinggi garam bisa mengganggu metabolisme tubuh dan menaikkan tekanan darah.
“Untuk gangguan kognitif langsung, tidak ada buktinya. Yang bermasalah adalah natriumnya kalau berlebihan,” katanya.
Kebiasaan minum kopi juga kerap diperdebatkan, dr Maria mengungkapkan tidak ada penelitian yang secara tegas melarang kopi untuk penderita hipertensi. Namun efek ikutannya bisa mempengaruhi tekanan darah.
“Kopi itu bisa menyebabkan diuresis, lalu orang jadi sering buang air kecil, kurang cairan, ditambah sering kali dicampur gula. Itu yang bisa bikin tekanannya naik,” tambahnya.
Tentang obat hipertensi, dr. Maria memberi penjelasan yang paling sering disalahpahami masyarakat. Banyak yang takut obat tekanan darah merusak ginjal. Dengan tegas ia mengatakan, “Obat tekanan darah justru melindungi ginjal. Bukan merusaknya,” tegasnya.
Efek samping tetap ada pada sebagian orang, tetapi bukan berupa kerusakan organ. Namun obat boleh dihentikan jika tekanan darah sudah benar-benar stabil dan gaya hidup terkontrol.
“Kalau semua faktor risiko diperbaiki dan tekanan darah normal, obat bisa dihentikan. Tapi kalau tidak, tetap harus minum setiap hari,” jelasnya.
Bagi anak muda yang punya hipertensi, pola hidup menjadi kunci. Berat badan berlebih, konsumsi asin, gula berlebihan, kopi berlebihan, kurang tidur, hingga merokok harus diperbaiki terlebih dahulu. Jika faktor risiko masih ada, obat tidak bisa dilepas. Selain itu, istilah lain seperti White coat hypertension yaitu tekanan darah naik saat bertemu dokter juga menjadi bahasan unik.
“Ada yang di rumah normal, tapi begitu ketemu dokter langsung naik. Biasanya karena cemas,” ucap dr. Maria sambil tersenyum.
Itulah sebabnya ia menyarankan pengukuran tekanan darah di rumah selama beberapa hari sebagai perbandingan.
Herbal untuk menurunkan tekanan darah juga sering dipertanyakan. Menurutnya, sayur seperti seledri, labu siam, timun, atau bawang putih boleh dikonsumsi. Tapi ia menegaskan bahwa herbal komersial tidak direkomendasikan karena dosisnya tidak jelas.
“Kalau bawang putih untuk bumbu masak boleh. Tapi makan bawang putih mentah satu toples, itu belum ada penelitiannya,” tuturnya.
Olahraga pun memiliki peran besar menurunkan tekanan darah. Latihan kardio adalah yang paling efektif. “Sepeda, berenang, jogging itu bagus. Kalau gym itu tidak melatih jantung,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa olahraga permainan seperti badminton atau futsal sebenarnya baik, tetapi harus didahului dengan kebugaran kardiovaskular yang kuat.
Di rumah sakit, ia mengaku banyak menemukan pasien muda yang tidak menyadari dirinya hipertensi. Umumnya diketahui saat medical check up. Gejala yang muncul bisa berupa pusing, kepala berat, tapi kebanyakan justru tanpa gejala. “Ada yang datang tekanannya 170, 180, tapi tidak merasa apa-apa,” ujarnya.
Kebiasaan makan asin juga menjadi biang kerok. Ikan asin, makanan kemasan, hingga snack dengan natrium tinggi sering menjadi penyebab tak disadari. Faktor genetik pun berpengaruh. Namun pada ibu hamil, hipertensi punya mekanisme berbeda. Tidak serta-merta membuat anak dalam kandungan hipertensi.
Maria menekankan pola makan rendah garam, gula, dan lemak. Mengonsumsi buah dan sayuran, mengikuti prinsip diet DASH, hingga memilih beras merah yang indeks glikemiknya lebih rendah dibanding beras putih. Semua kembali pada pengaturan porsi dan kebutuhan kalori harian.
Terakhir, ia menegaskan bahwa hipertensi bukan penyakit yang hilang begitu saja. Meski begitu, tekanan darah bisa tetap normal sepanjang seseorang disiplin menjaga gaya hidupnya. “Hipertensi itu bisa dikontrol, bukan disembuhkan total,” katanya.
Maria menutup obrolan dengan pesan sederhana namun penting. Sebuah pesan yang menggugah, mengingat hipertensi kini tidak lagi hanya menjadi penyakit usia senja, melainkan mengintai generasi muda yang hidup dalam ritme cepat dan kebiasaan instan.
“Yang utama itu mengenali diri sendiri. Kalau sudah tahu faktor risikonya, perbaiki. Jangan menunggu sakit. Kendalikan dari sekarang,” tutupnya. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana