PALANGKA RAYA-Fakta menunjukkan bahwa penderita diabetes kebanyakan tidak menyadari bahwa telah menjadi pasien dari penyakit yang sering kali orang sebut dengan penyakit gula.
Hal itu disampaikan oleh dr. Regy Pradityo Adhie, Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit dr Doris Sylvanus (RSDDS) di Podcast Ruang Redaksi, Rabu (19/11/2025).
Padahal, gejala-gejala awal sering kali terlihat, namun diabaikan. Kebanyakan mereka merasa itu hal normal dan biasa.
Bukan kesalahan penderita sepenuhnya tidak mengakui bahwa dirinya sebagai penderita sebab gejala pada diabetes sendiri memang terlihat seperti aktifitas umum namun dengan durasi yang lebih sering.
“Seperti sering buang air kecil, sering lapar, sering mengantuk, makan banyak tapi tetap merasa lapar, setiap habis makan apa saja keinginan ngantuknya tinggi, ini gejala yang sering dianggap biasa,” ungkapnya.
Beberapa pasien merasa wajar mengantuk setelah makan. Pria paruh baya itu menyebut pengaruh makan besar yang menyebabkan kantuk pada tubuh seseorang itu merupakan hal yang wajar.
Namun yang menjadi tidak wajar pada hampir setiap waktu seseorang usai dari makan nasi atau sekedar makan-makanan ringan ia merasa ngantuk yang hebat, padahal itu bisa menjadi tanda gula darah tinggi.
Selain itu, beberapa tanda fisik juga dapat terlihat, seperti perubahan warna kulit di lipatan tubuh.
“Bagian ketiak atau selangkangan yang menghitam bisa menjadi petunjuk adanya resistensi insulin,” jelasnya.
Tak hanya menyerang orang dewasa, diabetes kini juga banyak ditemukan pada usia muda.
Ia menceritakan seorang pasien berusia 17 tahun yang datang dengan keluhan gula puasa mencapai 200.
“Faktor genetik sangat berpengaruh. Kalau orang tua punya diabetes, anak bisa delapan kali lebih berisiko,” tegasnya.
Meski banyak beredar anggapan tentang diabetes basah dan kering hingga isu kadar gula menurun pada nasi dingin, dr. Regy menegaskan bahwa tidak ada penelitian kuat yang mendukung hal tersebut.
“Belum ada bukti pasti yang jelas nasi panas membuat orang cenderung makan lebih banyak itu yang biasanya bikin gula naik,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Pola Makan Mempengaruhi
Mengenai konsumsi nasi, ia menegaskan bahwa karbohidrat memang menjadi sumber gula terbesar. Seiring bertambahnya usia, fungsi sel beta pankreas akan terus menurun sehingga risiko diabetes meningkat.
“Kalau pola makan buruk, sel beta bisa rusak lebih cepat. Tapi kalau pola hidup baik, seseorang bisa saja baru kena diabetes di usia sangat tua,” jelasnya.
Komplikasi diabetes pun tidak main-main. Penderita bisa mengalami gangguan saraf, penglihatan, hingga jantung.
“Dari ujung rambut sampai ujung kaki bisa terdampak. Banyak pasien awalnya hanya merasa kesemutan atau momen yang tidak enaknya sampai membuat mata kabur,” katanya.
Terkait pertanyaan apakah diabetes bisa menyebabkan sulit keturunan, dr. Regy menyebutkan bahwa hal itu dapat terjadi meski bukan faktor utama.
“Pada laki-laki bisa terjadi gangguan fungsi seksual, pada perempuan bisa memengaruhi pembuluh darah di rahim,” paparnya.
Kebiasaan minum teh manis setiap pagi, yang umum dilakukan masyarakat, juga berpotensi meningkatkan risiko.
Namun, ia menegaskan bahwa yang menjadi permasalahan bukan pada minuman tehnya akan tetapi pada kandungan gula di dalam teh tersebut yang memicu penyakit diabetes.
Berlaku pada minuman apapun dengan kandungan gula tinggi akan sangat diwaspadai oleh tubuh.
“Bukan tehnya yang masalah, tapi gulanya. Tiga sendok tiap pagi itu sudah tinggi kalau tidak diimbangi olahraga,” ucapnya mengingatkan.
Penderita Tak Bisa Sembuh
Saat ditanyai mengenai penyakit tersebit masih memiliki peluang untuk disembuhkan atau tidak dr. Regy memberikan jawaban tegas. “Diabetes seperti asma. Tidak bisa sembuh total, tapi bisa dikontrol agar kondisinya seperti orang normal,” katanya.
Ia menambahkan, kadar gula normal puasa harus berada di bawah 120 mg/dL, dan gula darah sewaktu di bawah 200 mg/dL. Jika lebih dari itu perlu diwaspadai.
“Puasanya di atas 126 atau sewaktunya lebih dari 200 itu sudah diabetes,” ujarnya.
Mitos bahwa orang kurus tidak mungkin terkena diabetes juga perlu diluruskan. Menurut ya, seseorang dengan kondisi tubuh yang kurus juga tetap bisa terkena diabetes dengan alasan tertentu.
“Kadang tubuh mereka sudah kehilangan massa akibat proses pembentukan gula dari lemak itu malah lebih berbahaya,” jelasnya.
Untuk mencegah diabetes, olahraga tetap menjadi kunci penting. Ia mengatakan tidak perlu olahraga berat. Jalan kaki setengah jam tanpa berhenti sudah sangat membantu. Melalui aktivitas sederhana pun dapat meningkatkan sensitivitas insulin.
Selain dibarengi dengan olahraga pemilihan asupan makanan seperti buah-buahan yang masuk ke tubuh juga harus diperhatikan.
Ia mengingatkan bahwa buah tetap mengandung fruktosa yang dapat meningkatkan gula darah bila dikonsumsi berlebihan.
“Buah itu sehat tapi pilih yang tidak terlalu manis. Pir, apel hijau, melon biasa silakan yang manis-manis batasi seperti anggur, apel merah atau apel besar, nanas, mangga yang kadar gulanya tinggi biasanya buahnya terasa lebih manis,” ujarnya.
Untuk sayur, ia menekankan bahwa hampir semua jenis sayur aman, asalkan tidak dimasak dengan banyak santan atau gula tambahan.
“Lebih banyak sayur dalam piring sangat dianjurkan. Setengah piring diisi sayur, seperempat karbohidrat dan seperempat lauk,” katanya.
Sebelum menutup perbincangan, ia kembali mengingatkan bahwa diabetes dapat dicegah dengan pola makan sehat, aktivitas fisik cukup, dan pemeriksaan rutin. Menurutnya, semakin cepat diabetes terdeteksi, semakin besar peluang kondisi ini dapat dikontrol.
“Kalau sering ngantuk sering lapar, atau buang air kecil tanpa sebab, jangan tunggu parah. Cek gula darah. Jaga gaya hidup sejak muda karena diabetes tidak pandang usia,” pungkasnya. (*afa/ala)