BUANG air kecil adalah mekanisme alami tubuh untuk membuang limbah metabolisme berupa urine, yang diproduksi oleh ginjal dan ditampung sementara di kandung kemih. Otak akan memberi sinyal saat kandung kemih penuh.
Meskipun kadang kita terpaksa menunda BAK (misalnya saat meeting atau berkendara), menjadikan penundaan ini sebagai kebiasaan bisa berdampak serius pada kesehatan, terutama kandung kemih. Dikutip dari Alodokter, terdapat beberapa risiko penyakit yang dapat muncul akibat sering menahan buang air kecil.
1. Batu Kandung Kemih
Kebiasaan menahan BAK sering kali mengakibatkan pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas. Urine yang tersisa (residu) dapat menumpuk seiring waktu. Endapan mineral dari urine yang tertinggal ini berpotensi berkembang menjadi batu kandung kemih.
Gejala batu kandung kemih termasuk nyeri perut bagian bawah, kesulitan dan rasa sakit saat BAK, bahkan adanya darah dalam urine.
2. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Menahan BAK membuat urine menumpuk di kandung kemih dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan akhirnya menyerang saluran kemih, memicu Infeksi Saluran Kemih (ISK).
Risiko ini meningkat bagi orang yang sudah memiliki kondisi lain seperti pembesaran prostat (BPH), penyakit ginjal, atau retensi urine.
3. Inkontinensia Urine
Terlalu sering menahan kencing dapat melemahkan otot-otot kandung kemih (atrofi), yang pada akhirnya dapat menyebabkan Inkontinensia Urine. Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan mengendalikan buang air kecil dan mengalami kebocoran atau mengompol.
Selain itu, ISK yang disebabkan oleh kebiasaan menahan BAK juga dapat mengiritasi kandung kemih dan merusak kontrol otot saluran kemih, memperbesar peluang terjadinya inkontinensia.
Walaupun menahan BAK sesekali mungkin tidak berbahaya, menjadikannya kebiasaan dapat menimbulkan masalah kesehatan kronis yang melibatkan batu, infeksi, dan hilangnya kontrol kandung kemih. (*)
Editor : Kiki Rizqie