PALANGKA RAYA–Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi penyakit terbanyak yang ditangani fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Kalteng sepanjang tahun 2025.
Data Top 10 Diagnosa FKTP menunjukkan, hipertensi menempati urutan pertama dengan jumlah kunjungan tertinggi, mengungguli penyakit menular seperti ISPA, flu, maupun penyakit lainnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng, dr. Riza Syahputra, menjelaskan bahwa hipertensi merupakan kondisi serius yang sering kali tidak disadari penderitanya.
“Hipertensi ini sering disebut silent killer atau pembunuh diam-diam karena banyak kasus tidak bergejala, namun dampaknya bisa sangat fatal,” ujar dr Riza Syahputra, Senin (5/1/2026).
Menurut dr. Riza, hipertensi berisiko menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga gangguan jantung lainnya jika tidak dikendalikan dengan baik.
Tingginya angka kasus hipertensi di Kalteng menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
TOP 10 DIAGNOSA FKTP DI KALTENG 2025
- Hipertensi 858 kasus
- ISPA 525
- Nasofaringtis Akut 393
- Dispepsia 277
- Diabetes 239
- Kontrol hamil 237
- ISPA 205
- Nyeri Otot 164
- Medical Check Up 151
- Pulpitis 137
Ia mengungkapkan, penyebab utama hipertensi didominasi oleh faktor gaya hidup.
Konsumsi garam berlebih menjadi salah satu pemicu utama karena dapat meningkatkan volume darah dan tekanan pada pembuluh arteri.
Selain itu, kurang aktivitas fisik membuat pembuluh darah kehilangan elastisitasnya, sementara kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak serta menyempitkan pembuluh darah.
“Stres kronis dan obesitas juga berperan besar. Kondisi ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah,” jelasnya.
Risiko Hipertensi
• Stroke
• Serangan jantung
• Gagal ginjal
• Gangguan jantung kronis
• Penyebab Utama Hipertensi
• Konsumsi garam berlebihan
• Kurang aktivitas fisik
• Merokok
• Konsumsi alkohol berlebih
• Stres kronis
• Obesitas / kelebihan berat badan
Risiko Lain
• Usia lanjut
• Riwayat keluarga
• Diabetes
• Penyakit ginjal
• Gangguan tiroid
• Kehamilan
• Efek samping obat tertentu
• Gangguan hormon (kelenjar adrenal)
Pencegahan: Gerakan Cerdik
• Cek kesehatan rutin
• Enyahkan asap rokok
• Rajin aktivitas fisik
• Diet sehat & seimbang
• Istirahat cukup
• Kelola stres
Hidup Sehat
• Deteksi dini hipertensi dan Menekan komplikasi berat
• Rutin cek tekanan darah meski merasa sehat
• Perbanyak buah dan sayur
• Batasi asupan garam
• Jaga berat badan ideal
• Cukup tidur
• Hindari alkohol
• Konsultasi ke tenaga kesehatan jika ada penyakit penyerta
Di samping itu, faktor risiko lain seperti usia lanjut, riwayat keluarga, diabetes, penyakit ginjal, gangguan tiroid, hingga kondisi kehamilan turut meningkatkan risiko hipertensi.
Dokter Riza juga menambahkan, sebagian kasus hipertensi dipicu oleh faktor medis sekunder, seperti efek samping obat-obatan tertentu dan gangguan hormon, termasuk masalah pada kelenjar adrenal.
Untuk menekan angka hipertensi, Dinas Kesehatan Kalteng terus menggaungkan penerapan perilaku hidup sehat melalui gerakan CERDIK, yakni Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kelola stres.
“Masyarakat perlu rutin memeriksa tekanan darah meskipun merasa sehat. Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur, membatasi asupan garam, menjaga berat badan ideal, cukup tidur, serta menghindari alkohol.
Selain perubahan gaya hidup, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
“Pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan sangat diperlukan, agar hipertensi bisa terdeteksi lebih awal dan ditangani dengan tepat,” pungkasnya. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana