PALANGKA RAYA-25 Januari diperingati sebagai hari gizi dan makanan. Momentum ini menjadi pengingat dan perhatian pemerintah terkait masalah gizi pada anak.
Meski ketersediaan bahan pangan kerap dianggap sebagai faktor utama, kenyataannya gizi buruk lebih banyak dipicu oleh pola makan, pola asuh, serta pengetahuan gizi keluarga, bukan semata-mata karena kelangkaan makanan. Hal ini disampaikan oleh Ahli Gizi di Palangka Raya Adisty Cynthia.
Adisty menjelaskan bahwa gizi buruk pada anak merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan dan berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.
Untuk mencegah gizi buruk sejak dini, Adisty menekankan pentingnya upaya di tingkat keluarga. Langkah paling efektif adalah pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan, dilanjutkan dengan MPASI bergizi lengkap, penerapan pola asuh yang baik, kebersihan diri dan lingkungan, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu.
“Kunci utamanya adalah perhatian pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pola asuh yang tepat, sanitasi bersih, dan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Adisty, faktor utama penyebab gizi buruk mencakup asupan makanan yang tidak cukup atau tidak berkualitas, infeksi berulang atau penyakit kronis seperti diare dan tuberkulosis, serta sanitasi lingkungan yang buruk yang memicu penyakit.
PENYEBAB GIZI BURUK PADA ANAK
• Asupan makanan tidak cukup/tidak berkualitas
• Infeksi berulang dan penyakit kronis (diare, TBC)
• Sanitasi lingkungan buruk
• Kurangnya pengetahuan gizi orang tua
• Kondisi ekonomi keluarga
• Pola asuh tidak memadai
• Gangguan pencernaan/kelainan bawaan
Temuan Penting
• Anak bisa kenyang tetapi tetap gizi buruk
• Pola makan tinggi karbohidrat, rendah protein, vitamin, dan mineral
• Konsumsi makanan monoton dan minim zat gizi
Peran Keluarga
• Penyediaan makanan bergizi seimbang
• Pembentukan kebiasaan makan sehat
• Pemantauan tumbuh kembang anak (posyandu)
• Membatasi jajan sembarangan
Pencegahan Sejak Dini
• ASI eksklusif 6 bulan
• Makanan Pendamping ASI (MPASI) bergizi lengkap
• Kebersihan diri dan lingkungan
• Pemantauan rutin di posyandu
• Fokus 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Langkah Sederhana dan Terjangkau
• Isi Piringku
½ sayur dan buah
¼ karbohidrat
¼ protein
• Prioritaskan protein hewani (telur, ikan, ayam, hati)
• Ganti camilan kemasan dengan buah/kacang
• Kurangi minuman manis, perbanyak air putih
• Manfaatkan pekarangan (tanam sayur, budidaya ikan dalam ember)
Selain itu, kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi, kondisi ekonomi keluarga, pola asuh yang tidak memadai, hingga gangguan pencernaan atau kelainan bawaan yang menghambat penyerapan nutrisi juga turut berperan.
“Kombinasi faktor-faktor ini akan melemahkan daya tahan tubuh anak dan menghambat pertumbuhan optimalnya,” jelasnya, Sabtu (24/1/2026).
Ia menegaskan, pola makan sehari-hari keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar, bahkan sering kali menjadi faktor penentu munculnya gizi buruk, meskipun bahan pangan sebenarnya tersedia di rumah. Ketidaktersediaan makanan bukan satu-satunya penyebab malnutrisi.
“Anak bisa saja merasa kenyang, tetapi tetap mengalami gizi buruk jika pola makannya rendah protein hewani, vitamin, dan mineral,” ujarnya.
Dalam banyak kasus, anak mengonsumsi makanan yang monoton, tinggi karbohidrat, tetapi minim zat gizi penting. Kondisi ini kerap terjadi akibat kebiasaan makan keluarga yang kurang seimbang, keterbatasan pengetahuan gizi, serta pemilihan makanan praktis yang rendah nilai nutrisi.
Adisty juga menegaskan bahwa faktor ekonomi, pola asuh, dan pengetahuan gizi keluarga sangat memengaruhi munculnya kasus gizi buruk.
Keterbatasan ekonomi dapat membatasi akses terhadap makanan bergizi, namun tanpa pola asuh dan pemahaman gizi yang baik, kondisi gizi anak tetap berisiko meskipun keluarga memiliki bahan pangan yang cukup.
Dalam hal ini, peran orang tua, khususnya ibu, dinilai sangat krusial dalam menentukan status gizi anak di rumah.
Ibu berperan dalam penyediaan makanan bergizi seimbang, pembentukan kebiasaan makan sehat, serta pemantauan rutin tumbuh kembang anak melalui posyandu.
“Mulai dari memilih bahan makanan, cara mengolah yang bersih, memastikan menu bervariasi, sampai membatasi jajan sembarangan, semuanya sangat menentukan kualitas gizi anak,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa memperbaiki kualitas gizi anak tidak harus mahal atau rumit. Ada sejumlah langkah sederhana namun berdampak besar yang bisa langsung diterapkan keluarga, seperti menerapkan prinsip Isi Piringku, dengan setengah piring berisi sayur dan buah, serta setengahnya lagi dibagi antara karbohidrat dan protein. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana