KALTENG POS - Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan perbincangan mengenai "Gas Tertawa" atau yang populer disebut Whip Pink.
Sayangnya, tren ini mencuat bersamaan dengan kabar duka wafatnya salah satu selebgram tanah air yang diduga kuat akibat penyalahgunaan zat tersebut.
Menanggapi fenomena yang mengkhawatirkan ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat untuk tidak sekali-kali mencoba mengonsumsinya demi tujuan rekreasi.
Apa Itu Gas Tawa (N2O)?
Seperti dikutip dari laman Antara, Kepala BNN RI, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, menjelaskan bahwa gas tertawa sebenarnya adalah Dinitrogen Oksida (N2O).
Dalam dunia medis atau industri pangan, zat ini memiliki fungsi spesifik (seperti pembius atau pendorong krim kocok).
Karakteristik N2O : Wujud gas tak berwarna pada suhu ruang, memiliki sifat Tidak mudah terbakar, ia memiliki sedikit aroma dan rasa manis saat dihirup.
Mengapa Disebut "Gas Tawa"?
Istilah ini muncul karena efek samping yang ditimbulkan. Pengguna yang menghirup gas ini akan merasakan sensasi melayang dan kegembiraan singkat yang membuat mereka berperilaku seolah sedang sangat senang hingga tertawa lepas tanpa sebab yang jelas.
"N2O bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen," tegas Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Meski memberikan efek high atau euforia dalam hitungan detik, dampak jangka panjang dan risiko fatalnya jauh lebih besar daripada kesenangan sesaatnya:
1. Hipoksia (Kekurangan Oksigen): Menghirup gas ini secara berlebihan menggantikan posisi oksigen di paru-paru dan otak.
2. Kerusakan Saraf: Penggunaan kronis dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sistem saraf pusat.
3. Gangguan Jantung: Risiko henti jantung mendadak akibat ketidakseimbangan gas dalam darah.
4. Kematian: Dalam banyak kasus, overdosis atau penggunaan tanpa pengawasan medis dapat menyebabkan kematian seketika.
Whip Pink atau gas tertawa bukanlah mainan dan bukan sarana untuk "healing". BNN mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, untuk tetap waspada terhadap tren media sosial yang membahayakan nyawa. Kesehatan dan keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada tren sesaat.
Editor : Ayu Oktaviana