Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Dokter Onkologi Tegaskan Kanker Bukan Vonis Mati, Peluang Sembuh Bisa 95 Persen

Agus Pramono • Rabu, 4 Februari 2026 | 18:00 WIB
Pasien terapi radiasi kegawatdaruratan pada kasus Sindrom Vena Kava Inferior akibat kanker Paru.RSUD DORIS SILVANUS
Pasien terapi radiasi kegawatdaruratan pada kasus Sindrom Vena Kava Inferior akibat kanker Paru.RSUD DORIS SILVANUS


PALANGKA RAYA–Hari Kanker Sedunia diperingati setiap 4 Februari. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa kanker bukanlah vonis akhir, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan jika ditangani sejak dini.

Fakta ini ditegaskan oleh dr Fajar Senoaji SpOnkRad, Spesialis Onkologi Radiasi, yang sehari-hari menangani pasien kanker rujukan di Kalteng.

Menurutnya, banyak masyarakat masih memandang kanker sebagai akhir dari segalanya. Padahal, tingkat kesembuhan kanker sangat tinggi apabila pasien datang pada stadium awal.

Sebaliknya, keterlambatan datang berobat menjadi tantangan terbesar dalam penanganan kanker di Indonesia, termasuk di Kalteng.

“Kanker itu bukan akhir segalanya. Kalau datang stadium satu, peluang sembuhnya bisa 90 sampai 95 persen. Semakin tinggi stadiumnya, semakin kecil peluang kesembuhan,” ujar dr Fajar, Senin (2/2/2026).

Fajar menjelaskan, Rumah Sakit Doris Sylvanus sebagai rumah sakit rujukan di Kalteng menjadi pusat layanan lanjutan bagi pasien kanker dari berbagai daerah. Sebagian besar pasien datang melalui rujukan rumah sakit tipe C di kabupaten dan kota.

Namun, ia menegaskan bahwa dirinya bukan pintu masuk utama pasien kanker. Di rumah sakit tersebut terdapat tujuh dokter spesialis kanker lain yang terlebih dahulu menangani pasien.

“Selain saya ada tujuh dokter onkologi lain, mulai dari bedah onkologi, paru onkologi, bedah digestif, hingga penyakit dalam hemato onkologi. Pasien rujukan pasti diterima oleh mereka lebih dulu. Saya ini ibarat penjaga gawang terakhir,” jelasnya.

Terapi kanker sendiri terbagi menjadi tiga jenis utama, yakni pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Jika pasien dinilai membutuhkan radiasi, barulah dirujuk ke layanan onkologi radiasi.

Dalam satu bulan terakhir, layanan onkologi radiasi menangani 25 pasien kanker, dengan 23 pasien menjalani terapi radiasi.

Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen merupakan pasien kanker paru-paru, sementara kasus terbanyak adalah kanker payudara.

“Yang paling banyak kami tangani adalah kanker payudara. Belasan pasien dalam satu bulan,” katanya.

Ia menjelaskan, kanker memiliki banyak faktor penyebab dan tidak bisa disamaratakan. Untuk kanker payudara, faktor utama adalah hormonal.

“Pola makan tinggi lemak dan kolesterol, penggunaan KB hormonal seperti suntik, pil, atau susuk, menstruasi terlalu dini, serta tidak menyusui anak, semuanya meningkatkan risiko kanker payudara,” paparnya.

Sementara itu, kanker paru-paru sangat erat kaitannya dengan kebiasaan merokok. Selain perokok aktif, perokok pasif juga memiliki risiko tinggi.

“Paparan rokok bisa menempel di pakaian dan terbawa ke lingkungan sekitar. Di Indonesia, 60 sampai 70 persen pria dewasa merokok, sehingga risiko paparan sangat tinggi,” ungkapnya.

Salah satu penyebab kanker paru sering terlambat terdeteksi adalah karena gejalanya menyerupai penyakit lain, seperti tuberkulosis (TBC).

“Batuk berkepanjangan, berat badan turun, keringat malam. Itu mirip sekali dengan TBC. Akhirnya kanker paru baru ketahuan saat ukurannya sudah besar,” jelas dr Fajar.

Di Indonesia, belum ada program nasional skrining kanker paru-paru. Di negara maju, deteksi dini dilakukan dengan CT scan dosis rendah setiap tahun. Namun, pemeriksaan ini belum ditanggung BPJS.

Sebagai langkah awal, masyarakat terutama perokok disarankan melakukan pemeriksaan rontgen thoraks secara berkala sebagai skrining sederhana. Untuk kanker payudara, dr. Fajar menekankan pentingnya deteksi dini melalui metode SADARI (Periksa Payudara Sendiri).

“Minimal dua minggu sekali. Periksa di depan kaca, raba seluruh jaringan payudara, ketiak, dan sekitar tulang selangka. Perhatikan apakah ada benjolan, perubahan bentuk, warna kulit, atau cairan keluar dari puting,” jelasnya.

Jika ditemukan kelainan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke dokter bedah untuk dilakukan USG payudara.

Sebagai upaya meningkatkan layanan kanker, Rumah Sakit Doris Sylvanus kini telah memiliki alat radioterapi modern bernama Linear Accelerator (Linac).

“Energinya megavolt, seribu kali lipat dibanding CT scan. Dengan energi pengion ini, sel kanker bisa dirusak dan dibunuh. Ditambah lagi ini sudah tercover oleh BPJS, masyarakat hanya tinggal datang untuk melakukan terapi radiasi, jadi tidak ada alasan untuk menunda penyembuhan,” paparnya.

Ia mengatakan, layanan radiasi mulai dibuka sejak 29 Desember 2025 lalu, dengan pasien pertama ditangani pada 5 Januari. Hingga kini, 23 pasien telah menjalani terapi radiasi.

Tidak hanya itu, lanjutnya, layanan radiasi juga digunakan untuk kondisi kegawatdaruratan, seperti kanker yang mengalami perdarahan hebat atau menekan organ vital. Fajar mengakui, sebagian besar pasien kanker di Indonesia datang dalam kondisi stadium lanjut. Banyak di antaranya sebelumnya mencoba pengobatan alternatif.

“Datang sudah menyebar karena mencoba jamu, herbal, atau pengobatan nonmedis. Kalau sudah stadium lanjut, itu yang sulit,” katanya.

Bahkan, beberapa pasien meninggal saat proses radiasi berlangsung, bukan akibat radiasi, melainkan karena komplikasi berat akibat kanker yang sudah merusak organ tubuh.

Melalui momentum Hari Kanker Sedunia, ia mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir terhadap kanker. “Jangan takut dengan kata kanker. Yang harus ditakuti itu menunda pengobatan. Datanglah lebih cepat, periksa sejak dini, karena harapan sembuh itu nyata,” ujarnya.

Salah satu penyintas kanker payudara, Siti Hafsyah mengakui ia telah 2 kali menjalani terapi radiasi di Rumah Sakit Doris Sylvanus dan merasakan perbedaannya dengan kemoterapi.

“Sebelumnya saya sudah 6 kali di kemoterapi, itu sakit sekali setiap kali di kemo. Lalu di bulan Januari kemarin saya di rujuk untuk melakukan terapi radiasi saya pikir rasanya akan sakit juga, ternyata tidak ada rasanya sama sekali. Saya sudah 2 kali melakukan terapi masih ada beberapa kali lagi nanti. Kalau terapi sendiri biayanya mahal untuk sekali terapi, jadi sangat terbantu dengan layanan terapi yang sudah ada di Rumah Sakit Doris ini,” ungkapnya.

Wanita berusia 50 tahun itu mengaku ia telah mengidap kanker payudara sejak tahun 2024.

“Saya tau kalau saya terkena kanker payudara itu di pertengahan 2024, ada benjolan di sekitar payudara saya. Sejak saat itu berat badan saya mulai turun dan nafsu makan saya juga berkurang, tapi saya ingin sembuh jadi saya rutin ke rumah sakit untuk berobat yang mana waktu itu masih kemoterapi belum ada terapi radiasi seperti sekarang,” tuturnya. (zia/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#deteksi dini #hari kanker sedunia #DORIS SYLVANUS #ct scan #kanker paru paru #radiasi #kanker paru #kanker #usg payudara #Sadari #onkologi #pasien kanker #kemoterapi #hari kanker sedunia 2026 #kanker payudara #rumah sakit #perokok pasif #KB #radioterapi #Rontgen