Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Mata Minus Landa Generasi Emas, Terlalu Sering Main HP, Makin Banyak Anak Berkacamata

Agus Pramono • Rabu, 11 Februari 2026 | 19:15 WIB
dr Sisilya Maria Umboh dan dr. Mandasari Mandarana
dr Sisilya Maria Umboh dan dr. Mandasari Mandarana

 

PALANGKA RAYA–Gangguan kesehatan mata pada anak-anak saat ini semakin sering ditemukan, terutama gangguan refraksi seperti miopia atau mata minus.

Kondisi tersebut tidak hanya dialami generasi emas di Indonesia tetapi juga menjadi fenomena global yang prevalensinya terus meningkat.

Salah satu murid yang menjadi sumber Kalteng Pos di Palangka Raya, mengaku telah menggunakan kacamata sejak kelas V SD.

Saat ditanyai Kalteng Pos sejak kapan mulai menggunakan kacamata, ia menyebut kebiasaannya bermain game online dalam waktu lama, terutama sambil rebahan, menjadi faktor yang diduga memicu gangguan penglihatan yang dialaminya.

“Aku sering main game sambil tiduran kaya rebahan gitu kak. Ada kayanya udah setahunan ini make, cuma kurang lebih lah pokoknya segitu,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Dokter Spesialis Mata di RSUD Doris Sylvanus, dr Sisilya Maria Umboh menjelaskan gangguan mata memiliki gejala yang sangat beragam. Pasien yang datang ke dokter mata biasanya sudah merasakan adanya keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Gejalanya itu bisa berupa silau, penglihatan berbayang, mata terasa tidak fokus, mata berair, mata merah, atau bahkan tidak merah tetapi penglihatannya kabur,” jelasnya saat diwawancarai, Jumat (6/2/2026).

Sisilya menyebut khusus pada anak-anak, keluhan paling sering yang ditemui adalah miopia. Anak sering kali tidak menyadari adanya gangguan penglihatan sehingga tidak mengeluh secara langsung. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam mendeteksi tanda-tanda awal.

Ia menyebutkan kebiasaan anak menyipitkan mata saat melihat papan tulis, menonton televisi, atau melihat objek tertentu dapat menjadi indikasi adanya gangguan penglihatan.

“Walaupun anak tidak mengeluh, orang tua harus lebih aware. Kalau anak menyipitkan mata atau mendekat ke objek yang dilihat, itu bisa jadi tanda bahwa anak membutuhkan kacamata,” ujarnya.

Sisilya menegaskan apabila gangguan penglihatan tidak disadari dan ditangani sejak dini, maka dapat berlanjut hingga usia bertambah dan penanganannya menjadi terlambat. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan mata malas atau amblyopia, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap fungsi penglihatan anak.

Terkait jarak pandang yang ideal, ia menjelaskan bahwa hal tersebut bergantung pada jenis objek yang dilihat, apakah jarak dekat atau jarak jauh. Namun pada mata yang normal, seseorang seharusnya tidak perlu menyipitkan mata untuk melihat objek jarak jauh.

“Kalau anak sampai menyipitkan mata atau maju ke depan untuk melihat papan tulis, itu sudah menjadi tanda bahwa anak membutuhkan koreksi kacamata,” katanya.

Dokter Mata lainnya di RSUD Doris Sylvanus, dr. Mandasari Mandarana, banyak kasus gangguan penglihatan pada anak justru diketahui dari laporan guru atau hasil pengamatan di sekolah. Tidak jarang orang tua sendiri tidak menyadari kondisi tersebut.

“Ada anak yang posisi duduknya dipindahkan dari depan ke belakang kelas, lalu mulai kesulitan belajar karena tidak bisa melihat dengan jelas,” ungkapnya.

Ia menilai program screening penglihatan yang dilakukan oleh sekolah merupakan langkah yang sangat baik dan perlu dilakukan secara rutin pada usia tertentu.

Dari hasil screening tersebut, banyak anak akhirnya dirujuk ke dokter mata untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, edukasi mengenai durasi penggunaan gadget juga masih perlu ditingkatkan karena masih banyak orang tua yang belum memahami batasan waktu layar yang aman bagi anak.

Menjawab pentingnya penggunaan kacamata pada anak usia dini, dr. Sisilya menegaskan bahwa kacamata harus diberikan sedini mungkin apabila memang sudah terdeteksi adanya gangguan penglihatan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, bayi pun dapat membutuhkan kacamata.

“Tujuannya untuk merangsang saraf mata agar bisa melihat dengan baik dan mencegah terjadinya mata malas,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pemberian kacamata sesuai kebutuhan diharapkan dapat menghambat progresivitas mata minus agar tidak semakin berat. Mata minus sendiri terbagi dalam kategori ringan, sedang, dan berat, yang ditentukan melalui pemeriksaan mata. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemeriksaan mata dilakukan secara rutin, idealnya setahun sekali, atau lebih sering pada kasus tertentu sesuai rekomendasi dokter.

Selain gangguan refraksi, masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai penyakit mata lainnya. dr. Sisilya menjelaskan bahwa mata yang tampak tenang menandakan kondisi yang baik. Namun, jika muncul mata merah, peradangan, atau nyeri, maka harus segera diperiksakan.

“Nyeri mata bisa menandakan glaukoma atau infeksi yang berasal dari penyakit sistemik di dalam tubuh,” ujarnya.

Hal senada disampaikan dr. Mandasari, yang mengaku justru khawatir pada pasien yang merasa penglihatannya kabur tetapi membiarkannya, terutama jika hanya satu mata yang terganggu. Kondisi tersebut sering luput dari perhatian karena mata lainnya masih berfungsi dengan baik. Karena itu, ia menganjurkan pemeriksaan mata dilakukan setidaknya satu hingga dua tahun sekali.

Terkait kemungkinan lepas dari kacamata, dr. Sisilya menjelaskan bahwa hal tersebut bergantung pada kondisi masing-masing individu. Bentuk dan panjang bola mata sangat memengaruhi kebutuhan penggunaan kacamata.

“Kalau memang hasil pemeriksaan harus pakai kacamata, maka tetap harus digunakan. Jika ingin bebas kacamata, ada opsi seperti LASIK atau operasi intraokular, tergantung indikasi,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa faktor genetik turut berperan dalam gangguan penglihatan anak, terutama terkait panjang bola mata yang diturunkan. Selain itu, faktor lingkungan seperti penggunaan gadget, pencahayaan yang kurang, dan aktivitas jarak dekat juga berpengaruh. Anggapan bahwa memakai kacamata dapat memperparah minus pun ditegaskan sebagai mitos.

“Justru kalau tidak memakai kacamata sesuai kebutuhan, minus bisa bertambah lebih cepat,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Sisilya merekomendasikan pemeriksaan rutin ke dokter mata, konsumsi makanan bergizi seimbang, pembatasan waktu layar gadget, serta penerapan aturan 20-20-20.

Dalam aturan kesehatan metode ini digunakan sebagai slogan dalam dunia kesehatan mata yaitu setiap 20 menit, alihkan pandangan dari layar dan tatap objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk merilekskan mata.

Bagi anak-anak juga dianjurkan memiliki aktivitas luar ruangan, terutama balita, minimal 2,5 jam per hari dengan paparan sinar matahari pagi, serta menghindari paparan asap rokok dan sinar ultraviolet berlebihan.

“Kalau anak memang membutuhkan kacamata, segera berikan sesuai rekomendasi dokter. Deteksi dan penanganan dini adalah kunci menjaga kesehatan penglihatan anak hingga dewasa,” pungkasnya. (afa/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#miopia #Gangguan Penglihatan Anak #amblyopia #kesehatan mata anak #faktor genetik #Saraf mata #gangguan penglihatan #RSUD Doris Sylvanus #waktu layar #Rekomendasi Dokter #mata merah #penggunaan gadget #makanan bergizi anak #lasik #Dokter Mata KMU Aktif Berikan Edukasi Alat Kesehatan Mata di FKTP #main game #generasi emas #kesehatan mata #kacamata