Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Hipertensi, Silent Killer yang Kini Mengintai Usia Mengintai Usia Produktif

Agus Pramono • Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:30 WIB

dr. Uria Ricko Tanguhno Handen, Dokter Umum Puskesmas Bahaur Hilir
dr. Uria Ricko Tanguhno Handen, Dokter Umum Puskesmas Bahaur Hilir


KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Tengah semangat mengejar karier, target, dan pencapaian hidup, banyak anak muda lupa satu hal, yakni angka kecil di layar alat pengukur tekanan darah. Padahal, dari sanalah ancaman besar bisa bermula.

Hipertensi, yang dulu identik dengan usia lanjut, kini justru semakin sering ditemukan pada mereka yang masih berusia 20 hingga 40 tahun, atau kelompok usia produktif.

Baca Juga: 234 Kasus Gangguan Ginjal Tercatat di Kalteng Selama Tahun 2025, Dinkes Angkat Bicara

Fenomena ini menjadi peringatan serius, mengingat dampaknya dapat berujung pada penyakit fatal seperti stroke dan serangan jantung di usia yang masih tergolong muda.

Dokter Umum Puskesmas Bahaur Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, dr. Uria Ricko Tanguhno Handen, mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir terjadi tren peningkatan kasus hipertensi pada usia muda.

“Kalau dulu hipertensi iden tik dengan usia di atas 50 tahun, sekarang usia 20–40 tahun sudah cukup sering ditemukan.

Bahkan tidak jarang pasien datang tanpa keluhan, tetapi saat diperiksa tekanan darahnya sudah tinggi,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, perubahan gaya hidup menjadi faktor dominan yang memicu peningkatan kasus tersebut. Konsumsi makanan tinggi garam, makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, kurang tidur, serta stres menjadi pemicu utama. Selain itu, kebiasaan merokok dan faktor keturunan turut memperbesar risiko.

“Penyebab utamanya banyak terkait gaya hidup. Misalnya konsumsi makanan tinggi garam dan makanan cepat saji, kurang olahraga, berat badan berlebih, kurang tidur, serta stres. Selain itu, ke biasaan merokok dan faktor keturunan juga berperan,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, hiperten si sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Kalaupun muncul, keluhan biasanya ringan seperti sakit kepala, pusing, mudah lelah, atau jantung berde bar. Kondisi inilah yang membuat banyak penderita tidak menyadari dirinya mengalami tekanan darah tinggi.

“Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Kalau pun ada, biasanya ringan. Karena gejalanya tidak khas, banyak orang tidak menyadarinya,” katanya.

Tak heran jika hipertensi kerap dijuluki silent killer. Istilah tersebut merujuk pada sifat penyakit yang dapat berkembang tanpa tanda-tanda jelas, namun secara perlahan merusak organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal.

“Betul, hipertensi sering disebut silent killer karena bisa terjadi tanpa gejala, tetapi diam-diam merusak organ tubuh. Banyak orang baru mengetahui saat su dah terjadi komplikasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, sebagian besar penderita hipertensi memang tidak merasakan keluhan apa pun.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting, bahkan bagi mereka yang merasa sehat.

Risiko jangka panjang hipertensi yang tidak terkendali pun tidak bisa dianggap remeh. Dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi dapat memicu stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, hingga gangguan penglihatan. Semakin muda seseorang mengalami hipertensi, semakin lama tubuh terpapar risiko kerusakan pembuluh darah.

“Hipertensi mempercepat kerusakan pembuluh darah, sehingga risiko stroke dan serangan jantung bisa terjadi lebih dini, bahkan di usia produktif,” ungkapnya.

Terkait penanganan, dr. Ricko menjelas kan bahwa pada sebagian kasus, terutama yang masih tergolong ringan dan dipengaruhi faktor gaya hidup, hipertensi dapat dikendalikan bahkan kembali normal dengan perubahan pola hidup sehat.

Namun, pada banyak kasus, penderita tetap memerlukan pengobatan jangka panjang agar tekanan darah terkontrol.

Sebagai langkah pencegahan, ia men yarankan masyarakat, khususnya generasi muda, mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

Upaya tersebut meliputi mengurangi konsumsi garam, memperbanyak aktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, mengelola stres, tidur cukup, serta rutin memer iksa tekanan darah.

“Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli kesehatan. Tekanan darah tinggi bisa terjadi tanpa disadari, tetapi dampa knya bisa sangat serius. Mulailah dari kebiasaan kecil hari ini, karena kesehatan di masa depan ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang,” pesannya.

Maraknya kasus hipertensi pada usia produktif menjadi sinyal perlunya kesada ran kolektif terhadap pola hidup sehat.

Di tengah mobilitas dan tekanan hidup yang kian tinggi, pemeriksaan sederhana seperti cek tekanan darah secara berkala dapat menjadi langkah kecil yang menyelamat kan kualitas hidup di masa depan. (ovi)

Editor : Ayu Oktaviana
#pola hidup sehat #makanan cepat saji #hipertensi #Kabupaten Pulang Pisau #cek tekanan darah #tekanan darah tinggi #ginjal #stroke #silent killer #gaya hidup