KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kemunculan varian baru Covid-19 BA.3.2 yang dijuluki Cicada mulai menarik perhatian dunia. Varian turunan Omicron ini dilaporkan telah terdeteksi di puluhan negara lintas benua, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, hingga sejumlah negara di Eropa dan Afrika.
Penyebarannya yang tidak lagi terpusat di satu kawasan membuat otoritas kesehatan internasional meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah negara seperti Inggris, Belanda, Kenya, serta beberapa wilayah Eropa Timur juga telah melaporkan temuan varian tersebut.
Di tengah perkembangan global itu, pemerintah memastikan Indonesia masih aman dari varian tersebut. Hingga akhir Maret 2026, belum ada laporan masuknya BA.3.2 ke dalam negeri.
“Sampai saat ini akhir Maret 2026, belum ditemukan varian tersebut di Indonesia,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengutip IDM Times, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, varian Cicada telah masuk dalam kategori Varian Under Monitoring (VUM) oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sejak Desember 2025. Meski sudah menyebar ke berbagai negara, varian ini belum menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat penularan maupun keparahan.
“Menurut WHO, risiko kesehatan masyarakat untuk varian BA.3.2 (Cicada, red) adalah rendah,” katanya.
Aji juga memaparkan kondisi terkini varian Covid-19 di Indonesia yang masih didominasi oleh XFG sebesar 57 persen, disusul LF.7 sebesar 29 persen, dan XFG 3.4.3 sebesar 14 persen. Ketiga varian tersebut dinilai masih dalam kategori risiko rendah.
Dengan kondisi yang relatif terkendali, pemerintah belum memberlakukan kebijakan pengetatan di pintu masuk negara. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan secara berlapis.
“Karena situasi masih terkendali dan berisiko rendah, maka tidak ada tindakan khusus berupa pengetatan di pintu masuk negara. Namun demikian Kemenkes tetap melakukan surveilans, pelaporan rutin dari lapangan dan pengujian sampel di lab serta komunikasi risiko,” ujarnya.
Secara klinis, gejala yang ditimbulkan varian Cicada tidak jauh berbeda dengan varian Omicron sebelumnya. Pasien umumnya mengalami sakit tenggorokan, batuk, demam, pilek, hingga kelelahan dan nyeri tubuh.
Dalam beberapa kasus, gejala tambahan seperti sakit kepala, mual ringan, hingga sesak napas juga dilaporkan. Namun hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan varian ini lebih berbahaya dibandingkan varian Covid-19 sebelumnya.
Meski demikian, para ahli tetap melakukan pemantauan intensif mengingat adanya mutasi pada varian tersebut, meskipun dampaknya sejauh ini dinilai belum signifikan terhadap tingkat keparahan penyakit. (mif)
Editor : Agus Pramono