Saat Energi Melonjak Tanpa Kendali: Mengenal Fase Mania pada Gangguan Bipolar

Agus Pramono • Dipublikasikan Jumat, 3 April 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi bipolar.AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Ilustrasi bipolar.AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa.

 Ia adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh dua kutub emosi yang berlawanan: fase mania (naik) dan fase depresi (turun).

Dalam satu waktu, seseorang bisa tampak sangat berenergi dan penuh semangat, namun di waktu lain terjatuh dalam kesedihan mendalam.

Di antara kedua fase tersebut, fase mania sering kali menjadi titik yang paling mencolok, bahkan kerap disalahartikan sebagai “kondisi baik-baik saja”.

 

Ledakan Energi dalam Fase Mania

Pada fase mania, seseorang tampak seperti memiliki energi tanpa batas. Mereka bisa merasa sangat bahagia, percaya diri, bahkan merasa dirinya lebih hebat dari orang lain.

Namun di balik itu, terdapat perubahan perilaku yang signifikan dan berpotensi berbahaya.

 

Gejala fase mania umumnya meliputi:

* Perasaan sangat bersemangat, senang berlebihan, atau justru mudah tersinggung.

* Kegelisahan yang sulit dikendalikan.

* Kebutuhan tidur yang menurun drastis, tetapi tetap merasa segar.

* Nafsu makan berkurang.

* Bicara sangat cepat dengan topik yang meloncat-loncat.

* Pikiran terasa berpacu, seolah tidak bisa berhenti.

* Merasa mampu melakukan banyak hal sekaligus, meski tidak realistis.

* Cenderung melakukan tindakan berisiko, seperti menghamburkan uang atau perilaku impulsif lainnya.

* Merasa diri sangat penting, berbakat, atau memiliki kekuatan luar biasa.

 

Sekilas, kondisi ini mungkin terlihat positif—produktif, penuh ide, dan percaya diri. Namun tanpa kontrol, fase mania dapat berdampak serius, baik secara sosial, finansial, maupun kesehatan.

 

Bipolar: Perubahan Ekstrem yang Perlu Dipahami

Gangguan bipolar adalah kondisi jangka panjang yang memengaruhi suasana hati, energi, aktivitas, hingga kemampuan berpikir seseorang. Perubahan yang terjadi bukan hanya sekadar “mood swing” biasa, melainkan fluktuasi ekstrem yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang sebelumnya tampak sangat bahagia bisa tiba-tiba menjadi sangat sedih, kehilangan semangat, bahkan merasa putus asa.

Perubahan ini juga memengaruhi pola tidur, tingkat energi, serta cara seseorang berinteraksi dengan lingkungannya.

Meski tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, gangguan bipolar dapat dikelola dengan terapi dan pengobatan yang tepat.

 

Beragam Jenis Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar memiliki beberapa jenis, masing-masing dengan karakteristik berbeda:

Bipolar I: Ditandai dengan setidaknya satu episode mania yang bisa sangat ekstrem, sering kali disertai depresi.

Bipolar II: Memiliki pola depresi yang dominan dengan episode hipomania (mania ringan).

Siklotimik: Perubahan suasana hati yang lebih ringan namun berlangsung dalam jangka panjang.

Bipolar campuran: Mengalami gejala mania dan depresi secara bersamaan dalam satu episode.

Bipolar musiman: Perubahan suasana hati mengikuti pola musim tertentu.

Siklus cepat (rapid cycling): Mengalami empat atau lebih episode dalam satu tahun, bahkan bisa terjadi dalam hitungan hari.

 

Pentingnya Mengenali dan Mengelola

Memahami fase mania menjadi kunci penting dalam mengenali gangguan bipolar secara menyeluruh. Tanpa penanganan, fase ini dapat mendorong seseorang mengambil keputusan impulsif yang berdampak jangka panjang.

Kesadaran diri, dukungan keluarga, serta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dibutuhkan untuk membantu pengidap mengelola kondisi ini.

Dengan penanganan yang tepat, pengidap bipolar tetap dapat menjalani kehidupan yang produktif dan seimbang.

Pada akhirnya, fase mania bukan sekadar “energi berlebih”, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian serius.(ram)

 

Editor : Agus Pramono
Sumber : halodoc
fase mania bipolar apa itu bipolar jenis gangguan bipolar gejala bipolar