Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Tak Bergejala tapi Berbahaya, TBC Laten Jadi Ancaman Tersembunyi bagi Manusia

Kamila • Sabtu, 25 April 2026 | 19:20 WIB
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, dr Jeannette Siagian, SpP., M.Kes., FISR
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, dr Jeannette Siagian, SpP., M.Kes., FISR
 
KALTENFPOS.JAWAPOS.COM-Masyarakat kembali diingatkan untuk tidak lagi salah kaprah dalam memahami penularan Tuberkulosis (TBC). Edukasi yang tepat dinilai menjadi kunci utama dalam memutus rantai penyebaran penyakit ini.
 
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, dr Jeannette Siagian, SpP., M.Kes., FISR, menegas-kan masih banyak mitos yang beredar di masyarakat terkait cara penularan TBC. Padahal, tidak semua anggapan tersebut benar. “TBC tidak menular melalui jabat tangan, penggunaan pakaian bersih secara bersama, maupun alat makan yang dipakai bergantian,” jelasnya.
 
Ia menekankan, penularan TBC utamanya terjadi melalui udara, yakni dari droplet atau percikan dahak saat penderita batuk, bersin, bahkan saat berbicara. Dalam paparannya, satu kali bersin dapat menyebarkan sekitar 4.500 hingga 1 juta bakteri.
 
Sementara batuk mampu menyebarkan hingga 3.500 bakteri, dan berbicara dapat menghasilkan 0 hingga 210 bakteri. Fakta ini menunjukkan udara menjadi media utama penyebaran TBC yang perlu diwaspadai.
 
Selain itu, dr Jeannette juga meluruskan anggapan bahwa TBC hanya menyerang kelompok tertentu seperti anak-anak, lansia, penderita HIV/AIDS, diabetes melitus, maupun perokok. Menurutnya, meskipun kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi, TBC tetap dapat menyerang siapa saja.
 
“Merokok bahkan meningkatkan risiko hingga tiga kali lipat lebih mudah terinfeksi tuberkulosis,” tambahnya.
 
Lebih lanjut, ia mengungkapkan saat ini banyak ditemukan kasus TBC laten, yakni kondisi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis sudah berada dalam tubuh, namun belum menimbulkan gejala. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh belum mampu sepenuhnya menghilangkan bakteri, tetapi masih dapat men-gendalikannya.
 
Akibatnya, penderita tidak merasakan keluhan apa pun dan kerap tidak menyadari dirinya terinfeksi.
 
Secara medis, TBC laten ditandai dengan tidak adanya gejala, hasil pemeriksaan dahak negatif, serta hasil rontgen dada yang tidak menunjukkan tanda TBC. Namun, uji tuberkulin atau IGRA dapat menunjukkan hasil positif.
 
Mengacu pada Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah gejala TBC aktif. Di antaranya batuk berkepanjangan, demam ringan, sesak napas dan nyeri dada, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, batuk berdahak hingga bercampur darah, serta keringat malam tanpa aktivitas.
 
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk disiplin menjalani pengobatan jika terdiagnosis TBC, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta tidak membuang dahak sembarangan.
 
Pembuangan dahak sebaiknya dilakukan di tempat yang benar seperti lubang WC, serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik.
 
Tak hanya itu, peningkatan edukasi dan skrining kesehatan secara aktif juga dinilai penting untuk menekan jumlah penderita TBC laten yang selama ini sering luput dari perhatian.
 
“Yang perlu diwaspadai justru TBC laten, karena tidak bergejala sehingga sering tidak terdeteksi. Perlu skrining aktif dan edukasi masif agar masyarakat mau memeriksakan diri meskipun merasa sehat,” tegasnya.
 
Ia menambahkan, deteksi dini melalui uji tuberkulin atau IGRA, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam mengendalikan penyebaran TBC ke depan.
 
“Ayo lawan TBC, kenali, cegah, dan lindungi keluarga kita,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana
#pulmonologi dan kedokteran respirasi #penularan TBC #sistem kekebalan tubuh #hiv/aids #tuberkulosis (TBC)