Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Mengenal Hantavirus: Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pencegahan

Kiki Rizqie • Jumat, 8 Mei 2026 | 18:00 WIB
ILUSTRASI : pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%. FREEPIK
Pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%. Freepik
 
 
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Meskipun sering luput dari perhatian publik di tengah dominasi isu pandemi global, Hantavirus merupakan ancaman kesehatan senyap yang berpotensi mematikan bagi masyarakat Indonesia.
 
Berbeda dengan virus yang menular antarmanusia, Hantavirus bergerak secara tersembunyi melalui lingkungan sekitar dan sering kali dianggap sebagai penyakit asing, padahal keberadaannya di tanah air telah terdeteksi sejak tahun 1980-an.
 
Sebagai silent threat yang telah lama menetap namun jarang diwaspadai, pemahaman mendalam mengenai risiko dan penyebaran virus ini menjadi krusial guna mencegah dampak fatal yang sewaktu-waktu dapat muncul di balik bayangan keseharian kita.
 
Dilansir dari laman Badan Kebijakan Kemenkes RI, dalam sebuah Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6%. 
 
Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.
 
Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%.
 
Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.
 
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. 
 
Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
 
Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis.
 
Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.
 
Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan.
 
Hantavirus bukan ditularkan oleh nyamuk, bukan pula melalui makanan secara langsung.
 
Ia menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.
 
Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi. 
 
Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia. 
 
Dengan kata lain, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.
 
*Pencegahan Penularan Hantavirus*
Agar terhindar dari tertularnya atau terpapar Hantavirus tentu ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk pencegahan.
 
Menjauhkan hewan pengerat dari rumah dan tempat kerja dapat membantu mengurangi risiko infeksi hantavirus. Mengutip dari laman Halodoc, cobalah langkah-langkah berikut untuk mencegah infeksi hantavirus:
 
  • Blokir akses. Tikus dapat masuk melalui lubang sekecil 6 milimeter. Tutup lubang dengan saringan kawat, wol baja, flashing logam, atau semen.
  • Tutup tempat penyimpan makanan. Segera cuci piring, bersihkan meja dan lantai, dan simpan makanan (termasuk makanan hewan peliharaan) dalam wadah anti-hewan pengerat. Gunakan penutup yang rapat pada tong sampah.
  • Kurangi tempat yang berpotensi menjadi sarang. Bersihkan sikat, rumput, dan sampah dari fondasi bangunan.
  • Pasang perangkap. Perangkap pegas harus dipasang di sepanjang alas tiang.
  • Berhati-hatilah saat menggunakan perangkap umpan racun, karena racun juga dapat membahayakan manusia dan hewan peliharaan.
  • Pindahkan barang-barang yang ramah hewan pengerat dari pekarangan. Termasuk pindahkan tumpukan kayu atau tempat sampah kompos dari rumah.
 
Proses pembersihkan yang aman juga dapat membantu mencegah penyebaran virus. Ikuti langkah berikut ini:
  1. Kenakan masker dan sarung tangan karet atau plastik.
  2. Semprotkan sarang, kotoran, atau bangkai hewan pengerat dengan disinfektan rumah tangga, alkohol atau pemutih, dan larutan air. Biarkan selama lima menit.
  3. Gunakan handuk kertas untuk membersihkan dan membuang handuk ke tempat sampah.
  4. Pel area tersebut dengan disinfektan.
  5. Cuci tangan yang bersarung tangan dan buang sarung tangan dan masker.
  6. Cuci tanganmu secara menyeluruh dengan sabun dan air. (*)
Editor : Ayu Oktaviana
#hantavirus #infeksi hantavirus #zoonosis emerging #pandemi #kemenkes ri