KALTENGPOS.JAWAPOS.COM - Psikolog klinis Kasandra Putranto menyampaikan sejumlah ciri-ciri seseorang mengalami kondisi burnout akibat pekerjaan.
Menurut psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia itu bahwa ciri-ciri burnout berdasarkan kategori yakni dari segi fisik, psikologis dan perilaku kerja. Kondisi burnout berupa kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres kronis di tempat kerja.
“Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit. Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen,” kata Kasandra kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Kasandra juga menyampaikan terdapat tanda psikologis yang kerap diabaikan oleh pekerja yang sangat produktif, seperti kelelahan emosional yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat.
Kondisi kelelahan emosional itu disertai perasaan datar atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu “dianggap” menyenangkan, kemudian mulai lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan mengalami overthinking terutama terkait pekerjaan.
“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Kasandra mengatakan mengakses layanan kesehatan mental secara tepat dan konsisten dapat membantu seseorang agar pulih dari kondisi burnout.
Pemulihan burnout dinilainya tidak selalu instan dan bergantung pada tingkat keparahan, dukungan lingkungan, dan keterlibatan individu dalam proses pemulihan.
“Burnout sindrom yang dapat dipulihkan melalui intervensi yang tepat,” tutur dia.
Akses, lanjut dia, terhadap layanan kesehatan mental seperti konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), atau dukungan psikiatri dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami sumber stres hingga mengembalikan fungsi psikologis dan produktivitas kerja.
Sejumlah faktor yang mendukung dalam pemulihan kondisi burnout, kata Kasandra, bisa dilakukan dengan menjaga kesehatan dasar sebagai fondasi, di mana mencakup aktivitas seperti tidur yang cukup dan berkualitas, pola makan seimbang dan hidrasi yang memadai.
Kemudian menghindari konsumsi alkohol, kafein, dan zat adiktif lainnya secara berlebihan hingga meluangkan waktu pribadi untuk istirahat, rekreasi, hingga olahraga ringan di sela waktu kerja untuk menjaga sirkulasi dan konsentrasi.
Kasandra juga mengingatkan para pekerja agar menyisihkan waktu istirahat yang “bebas” dari pekerjaan, serta pertahankan aktivitas non-produktif yang memberi energi, seperti berinteraksi sosial atau menjalani hobi tanpa target.
“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujar dia. (ant)
Editor : Ayu Oktaviana