Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

THR Dinilai Jadi Solusi Realistis Kurangi Risiko Merokok, Ahli Tegaskan Bukan untuk Anak Muda

Agus Pramono • Jumat, 22 Mei 2026 | 13:45 WIB
Ilustrasi berhenti merokok
Ilustrasi berhenti merokok

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM– Pendekatan Tobacco Harm Reduction (THR) atau pengurangan risiko tembakau dinilai dapat menjadi salah satu strategi realistis untuk menekan dampak kesehatan akibat merokok, terutama bagi perokok dewasa yang mengalami kesulitan untuk berhenti sepenuhnya.

Meski demikian, dilansir dari https://poltekkeskapuashulukab.org para ahli menegaskan bahwa pendekatan ini bukan ditujukan bagi non-perokok maupun kalangan anak muda untuk mulai mengonsumsi produk nikotin.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Amaliya, menjelaskan bahwa THR merupakan konsep pengurangan bahaya melalui penggunaan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan, dan kantung nikotin bagi perokok aktif.

Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan meminimalkan risiko kesehatan ketika penghentian konsumsi rokok secara total belum dapat dilakukan.

“Konsep pengurangan bahaya ditujukan bagi perokok aktif yang sulit berhenti agar beralih ke produk berisiko lebih rendah, bukan sebagai pintu masuk bagi non-perokok atau anak muda untuk mulai mengonsumsi nikotin,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Amaliya mengibaratkan konsep THR seperti penggunaan helm atau sabuk pengaman saat berkendara. Langkah tersebut tidak menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi dapat mengurangi dampak fatal yang mungkin terjadi.

Karena itu, ia menilai kebijakan kesehatan publik seharusnya tidak hanya bertumpu pada pendekatan pelarangan, melainkan juga mempertimbangkan strategi yang lebih aplikatif dan berbasis bukti ilmiah untuk mengurangi dampak buruk konsumsi rokok di masyarakat.

“Kebijakan seharusnya tidak hanya berfokus pada larangan, namun pada langkah realistis untuk mengurangi dampak buruk merokok terhadap kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, implementasinya perlu dikawal dengan regulasi, edukasi, dan pengawasan demi kepentingan kesehatan masyarakat luas,” katanya.

Penelitian BRIN Temukan Kadar Toksikan Lebih Rendah

Pandangan serupa juga didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. Penelitian berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants menunjukkan adanya perbedaan kadar zat berbahaya antara rokok konvensional dan produk tembakau alternatif.

Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa rokok elektronik dan produk tembakau dipanaskan memiliki kadar senyawa toksikan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Peneliti BRIN, Bambang Prasetya, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR, yakni residu berbahaya hasil pembakaran tembakau.

“Karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR, produk tembakau alternatif mengindikasikan potensi penurunan risiko kesehatan hingga 80–90 persen dibandingkan rokok bakar,” ujarnya.

 

Tetap Perlu Pengawasan Ketat

Meski dianggap memiliki potensi mengurangi risiko kesehatan bagi perokok dewasa, pendekatan THR hingga kini masih menjadi perdebatan dalam dunia kesehatan publik.

Sejumlah pihak menilai penggunaan produk alternatif harus tetap diawasi secara ketat agar tidak memicu peningkatan konsumsi nikotin di kalangan remaja maupun masyarakat yang sebelumnya tidak merokok.

Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya regulasi yang jelas, edukasi berkelanjutan, serta pengendalian yang tepat agar strategi pengurangan risiko benar-benar difokuskan bagi perokok dewasa yang ingin mengurangi dampak kesehatan akibat kebiasaan merokok.

Dengan pendekatan yang tepat, THR dinilai dapat menjadi salah satu opsi dalam upaya menekan beban penyakit terkait rokok, tanpa mengabaikan tujuan utama kesehatan masyarakat untuk mengurangi prevalensi merokok secara keseluruhan.(*)

Editor : Agus Pramono
#stop rokok #berhenti merokok #merokok #Fakultas Kedokteran Gigi (FKG)